Oleh: Anisa Rahmi Tania
Setelah menapaki segala liku persoalan umat di tahun 2019, kini umat memandang masa depan di tahun 2020. Masa depan yang penuh harap karena di tahun sebelumnya banyak persoalan yang belum ditemukan solusinya. Sebut saja permasalahan anjloknya ekonomi, inflasi yang terus menerus terjadi, dll.
Umat sangat gusar dengan kondisi ekonomi yang tak kunjung naik. Karena jaminan kesejahteraan dan kelayakan hidup ada pada laju pertumbuhan ekonomi. Namun apa daya, umat masih sangat terbebani dengan mahalnya kebutuhan hidup di negeri ini.
Baik sandang, pangan, papan, maupun kesehatan dan pendidikan bukan barang murah bagi kebanyakan orang. Semuanya serba sulit. Ditambah dengan beban pajak yang harus ditanggung.
Negara pun mulai oleng dengan kasus yang menimpa Jiwasraya. Bancassurance yang menjadi langkah kebijakan asuransi baru dan digadang-gadang menjadi salah satu pemasukkan yang menggiurkan, ternyata malah harus menelan kerugian yang tidak sedikit.
Dan masih banyak persoalan lain yang tidak kunjung terselesaikan, bukan hanya di negeri ini tetapi juga di berbagai negara lain tak terkecuali negara maju lainnya, semisal Perancis, Amerika serikat, dll.
Permasalahan tersebut pun membuat banyak negeri Islam di dunia mulai melirik emas sebagai jaminan mata uang mereka, dan melepaskan dollar AS.
Dilansir dari CNBC Indonesia, rencana sejumlah negara Islam untuk menjadikan emas sebagai alat pembayaran pengganti Dollar AS disebut Pemrakarsa Modern Monetary Theory (MMT), Mardigu Wowiek sebagai bagian dari upaya untuk melepas ketergantungan dolar, mengingat AS mencetak dolarnya tidak menggunakan jaminan emas.
Melalui dedolarisasi lewat penggunaan Dinar berbasis emas ini diharapkan bisa menjadi patokan mata sehingga nantinya inflasi akan bernilai 0 dan mengubah tatanan ekonomi baru.
Melihat kegoncangan yang terjadi, bisa jadi
masa ekonomi kapitalis telah mendekati ajal, kekuatan sang adidaya semakin keropos. Akan tetapi, seharusnya umat lebih jeli melihat akar permasalahan. Karena sejatinya Sistem ekonomi yang diterapkan saat ini tidaklah lepas dari ideologi atau sistem induknya yakni sekulerisme.
Kegoncangan ekonomi yang terjadi tidak bisa dilepaskan dari faktor lain seperti politik, ketahanan negara, dan sebagainya. Sehingga,
Sistem sekuler yang menjadi induk dari berbagai isme inilah yang seharusnya dijauhkan seluruhnya dari sistem kehidupan berbangsa dan bernegara.
Sekulerisme merupakan paham dari sistem yang telah mencampakkan agama dari kehidupan dan negara. Dialah yang sejatinya telah membuat umat lumpuh. Jasadnya nampak tapi tidak punya daya apapun. Alih-alih bisa menggapai kejayaan dan kegemilangan, umat hari ini terperosok jauh ke dalam lembah hitam.
Oleh karena itu, jika umat menginginkan kebangkitan, kejayaan dan kesejahteraan seharusnya bukan hanya dollar yang diganti emas, tetapi seluruh sistem bawaan sekulerisme yang diganti dengan sistem Illahi. Yakni sistem Islam yang diterapkan dalam institusi Khilafah. Karena tanpa adanya institusi yang legal, maka sistem Islam tidak akan pernah bisa diterapkan secara sempurna di tengah-tengah kehidupan umat.
Hal ini sebenarnya bukan kali pertama. Bukankah dahulu sejarah telah mencatat dengan tinta emas tegaknya Khilafah?. Bahkan belasan abad lamanya Khilafah tegak dengan segudang prestasi. Kesejahteraan, keadilan, dan kejayaan terwujud di dalamnya.
Hanya Islam yang mampu mewujudkannya karena Islam adalah sistem paripurna. Sistem sempurna yang telah dijanjikan Allah sebagai satu-satunya sistem yang layak untuk mengatur kehidupan manusia.
Allah, sang pencipta jagad raya inilah yang telah memberikan jaminan mutlak. Setiap syariah pasti mengandung mashlahat (manfaat). Artinya tatkala syariah Islam diterapkan pasti akan membawa kebaikan.
Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul apabila Rasul menyeru kalian demi sesuatu yang memberi kalian kehidupan, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kalian akan dikumpulkan. (QS al-Anfal [8]: 24).
Siapa saja yang mengerjakan amal salih, baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan beriman, sesungguhnya akan Kami beri kehidupan yang baik. (QS an-Nahl [16]: 97).
Seharusnya hal ini cukup membuat umat membuka mata, bahwa sistem terbaik bagi kehidupan adalah sistem Islam. sistem yang dibutuhkan umat nyatanya adalah sistem Islam, bukan yang lain.
Fakta kebaikan dan kejayaan tatkala Islam diterapkan bukan hanya dibeberkan tokoh muslim, tapi juga non-muslim.
Sebagai contoh adalah apa yang dikatakan Will Durant seorang sejarawan barat. Dalam buku yang dia tulis bersama Istrinya Ariel Durant, Story of Civilization, dia mengatakan, “Para Khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan kerja keras mereka. Para Khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang untuk siapapun yang memerlukan dan memberikan kesejahteraan selama beradab-abad dalam wilayah yang sangat luas. Fenomena seperti itu belum pernah tercatat (dalam sejarah) setelah zaman mereka”.
Dr. Musthafa As Siba’i dal am kitab Min Rawa’i Hadhratina memuat perkataan sejumlah tokoh dalam mengomentari tentang peradaban Islam maupun barat. Jacques C. Reister mengatakan, “Selama lima ratus Islam menguasai dunia dengan kekuatannya, ilmu pengetahuan dan peradaban yang tinggi.”
Maksud dari ungkapan tersebut adalah masa yang dikenal dengan abad pertengahan. Dimana menurut banyak sejarawan masa tersebut adalah satu puncak masa keemasan dari peradaban Islam. Meski sebenarnya sepanjang peradaban Islam lebih dari 14 abad berdiri kebaikan selalu didapatkan oleh masyarakat.
Masih dalam kitab yang sama, Montgomery Watt mengungkapkan, “Cukup beralasan jika kita menyatakan bahwa peradaban Eropa tidak dibangun oleh proses regenerasi mereka sendiri. Tanpa dukungan Islam yang menjadi ‘dinamo’-nya, Barat bukanlah apa-apa.” Hal yang sama pernah dikatakan oleh Barack Obama. Dia mengatakan. “Peradaban berhutang besar pada Islam.” Maksudnya adalah peradaban Barat memiliki utang besar kepada peradaban Islam. (Media ummat)
Demikian kesaksian mereka akan kejayaan Islam. Masihkah kita menutup mata untuk ikut memperjuangkan tegakkan syariah Islam? Sementara orang kafir pun telah bersaksi akan kejayaannya. Terlebih, Allah bukanlah dzat yang mengingkari janji.
Wallahu'alam bishawab

No comments:
Post a Comment