Oleh: Ai Hamzah
Tahun baru masehi kali ini disambut dengan guyuran hujan hampir 24 jam. Sepanjang malam tahun baru hujan turun sampai keesokan paginya. Entahlah mereka yang merayakannya masih sempat atau tidak, yang jelas guyuran hujan terus membasahi bumi. Seperti pertanda bahwa Allah tidak ridho bumi yang diciptakan Nya digunakan maksiat, dengan riuhnya pesta pora menyambut tahun baru masehi.
Tepat tanggal 1 Januari ditahun yang baru, akibat guyuran hujan yang tiada henti, terdengarlah berita dimana-mana dilanda banjir. Hampir diseluruh daerah Jabodetabek tergenang air banjir. Tidak tanggung-tanggung banjir yang melanda mengakibatkan tersapunya berpuluh-puluh kendaraan, dari motor sampai mobil termahal sekalipun ikut melanyang mengikuti air banjir mengalir.
Ibukotapun terkepung banjir, akses jalan menuju daerah satu kedaerah lain terputus karena genangan air banjir memenuhi jalanan. Ratusan rumah terendam air banjir, bahkan daerah yang sebelumnya tidak pernah terjamah banjir kini ikut tergenang banjir, perumahan elit sekalipun. Air banjir kali ini tidak mengenal perumahan elit ataupun kumuh, semua ikut terjamah.
Didaerah pegunungan, guyuran hujan mengakibatkan banjir bandang dan longsor. Perkampungan disekitarnya habis disapu bersih oleh banjir bandang dan longsor. Sehingga perkampungan itu sudah tidak terlihat lagi rata dengan tanah. Ratusan penduduknya terisolasi akibat akses jalannya terputus. Jembatan yang kokohpun tidak berdaya menahan air banjir dan longsor.
Lagi dan lagi bencana melanda negeri tercinta, entah sudah berapa puluh bencana bahkan ratusan bencana melanda negeri ini. Mulai dari tsunami, gempa bumi, banjir bandang, longsor dan sekarang banjirpun merendam muka bumi, akibat air hujan yang dikirim langsung dari langit.
Bencana demi bencana pertanda bahwa manusia adalah mahluk yang lemah, mahluk yang tidak berdaya. Karena hanya Allahlah yang Maha Besar, Sang Pemilik alam semesta. Kalau Allah sudah berkehendak apapun bisa terjadi. Harta, tahta, jabatan yang dibanggakan manusia akan dengan mudah hilang, lenyap dalam sekejap.
Allah sudah memperingatkan dalam Al Quran:
{يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ}
“Mereka hanya mengetahui yang lahir (nampak) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai” (QS ar-Ruum:7).
Bencana datang lagi dan lagi akibat dari ulah manusia itu sendiri, merasa dirinya berkuasa dimuka bumi dan mengabaikan kekuasaan Allah. Padahal ketika manusia tunduk paripurna kepada Allah maka kemaslahatan dan keberkahan akan Allah limpahkan. Seperti firman Allah:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ}
“Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul-Nya yang mengajak kamu kepada suatu yang memberi (kemaslahatan) hidup bagimu” (QS al-Anfaal:24).
Islam agama yang sempurna, Rosulullah sebagai suri tauladan telah mengajarkan kepada umatnya ketika tertimpa bencana. Sebagai umat muslim harus meyakini bahwa semua yang sudah menimpa dirinya adalah qadla dari Allah, ketetapan Allah. Dengan sikap sabar dan syukur, bencana akan mudah dilewati. Sabar akan ketetapan Allah dan syukur sampai detik ini Allah masih memberikan umur, syukur atas nikmat yang telah Allah berikan. Mendekatkan diri kepada Allah dan meninggalkan berbagai maksiat yang sudah dilakukan, serta tunduk akan perintah Allah adalah suatu keharusan, karena Allahlah yang Maha Besar dan manusia adalah mahluk yang lemah, yang tidak berdaya kecuali dengan kekuatan Allah.
Wallahu A'laam

No comments:
Post a Comment