Akhiri Derita Uighur!



Oleh : Yanyan Supiyanti, A.Md
Pendidik Generasi, Member Akademi Menulis Kreatif

Miris. Tindakan keras pemerintah Cina terhadap etnis minoritas muslim Uighur telah mendapat kecaman internasional. Namun, beberapa suara yang sebenarnya signifikan, yakni dari negeri-negeri muslim malah nyaris tak terdengar.

PBB memperkirakan sekitar 1 juta warga dari etnis Uighur, Kazakh, dan minoritas lainnya diduga telah ditahan di Xinjiang, Barat Laut Cina sejak 2017. (Tempo.co, 24/12/2019)

Para pengamat mengatakan pemerintah negeri-negeri muslim memang tidak dimasukkan satu kategori, namun ada sejumlah kesamaan utama dibalik kebisuan mereka, yakni pertimbangan politik, ekonomi, dan kebijakan luar negeri.

Pakar kebijakan Cina Michael Clarke, dari Universitas Nasional Australia, mengatakan kepada ABC bahwa kekuatan ekonomi Cina dan takut mendapat balasan menjadi faktor besar dalam politik komunitas muslim. Sebaliknya, negara-negara seperti Australia dan Amerika Serikat secara terbuka mengecam tindakan pemerintah Cina di wilayah tersebut.

Etnis minoritas berbahasa Turkic telah ditahan di kamp-kamp dimana mereka mendapat 'pendidikan ulang' dan menjadi sasaran indoktrinasi politik, termasuk dipaksa belajar bahasa yang berbeda dan melepaskan keyakinan mereka.

Penelitian terbaru mengungkapkan ada 28 fasilitas penahanan yang telah digunakan dan telah diperluas lebih dari 2 juta meter persegi sejak awal tahun lalu.

Para tahanan dipaksa menjahit pakaian untuk diekspor ke perusahaan pakaian olahraga milik Amerika Serikat.

Pemerintah negeri-negeri yang penduduknya mayoritas muslim termasuk Malaysia, Pakistan, Arab Saudi dan Indonesia telah menghindari mengangkat masalah ini secara terbuka. Pakistan bahkan membela Cina, dengan mengatakan media milik negara-negara barat telah menjadikan laporan-laporan soal situasi di Uighur "sensasional". Pemerintah Indonesia tetap diam mengenai topik ini, sampai minggu lalu ketika masalah ini diangkat di parlemen.

Kaum muslim di seluruh dunia saat ini bagai buih di lautan, tidak punya kekuatan untuk menolong saudara muslim mereka yang dizalimi.

Kezaliman pemerintah Cina wajib dihentikan, bila perlu dipaksa. Tetapi yang bisa memaksa, hanya negara yang lebih perkasa dari mereka, yakni khilafah.

Dunia butuh khilafah, karena dengan adanya khilafah, agama, kehormatan, darah, dan harta kaum muslim akan terlindungi dan terjaga. Khilafah pula yang bakal menjadi penjaga kesatuan, persatuan, dan keutuhan setiap jengkal wilayah kaum muslim.

"Sungguh imam (khalifah) itu laksana perisai. Kaum muslim akan berperang dan berlindung di belakang dia. (HR Bukhari dan Muslim)

Imam (khalifah) itu pengurus rakyat dan hanya dia yang bertanggung jawab atas rakyatnya. (HR Bukhari dan Muslim

Menjadi perisai bagi kaum muslim khususnya dan rakyat umumnya, meniscayakan imam (khalifah) harus kuat, berani dan terdepan. Kekuatan ini bukan hanya pada pribadinya, tetapi juga pada institusi negaranya, yakni khilafah. Kekuatan ini dibangun karena pondasi pribadi (khalifah) dan negara (khilafah) nya sama, yakni akidah Islam. Inilah yang ada pada diri kepala negara Islam pada masa lalu, baik Nabi Muhammad saw. maupun para khalifah setelah beliau.

Ketika ada wanita muslimah yang dinodai kehormatannya oleh orang Yahudi Bani Qainuqa' di Madinah, sebagai kepala negara, Nabi Muhammad saw. menyatakan perang terhadap mereka. Mereka pun diusir dari Madinah. Demikianlah yang dilakukan Nabi Muhammad saw. sebagai kepala negara Islam saat itu, demi melindungi kaum muslim.

Hal yang sama dilakukan oleh para khalifah setelah beliau. Khalifah Harun ar-Rasyid, di era kekhilafahan 'Abbasiyyah, misalnya, pernah menyumbat mulut jalang Nakfur, Raja  Romawi, dan memaksa dia berlutut kepada khalifah.

Khalifah Al-Mu'tashim, juga di era kekhilafahan 'Abbasiyyah, pernah memenuhi permintaan tolong wanita muslimah yang kehormatannya dinodai oleh tentara Romawi. Ia segera mengirim ratusan ribu pasukan kaum muslim untuk melumat Amuriah, mengakibatkan ribuan tentara Romawi terbunuh, dan ribuan lainnya ditawan.

Demikian pula yang dilakukan oleh Sultan 'Abdul Hamid di era kekhilafahan 'Utsmaniyah dalam melindungi kaum muslim, dengan tidak mau menyerahkan sejengkal tanah pun pada Israel. Semuanya melakukan hal yang sama, karena mereka adalah perisai (junnah).

Akhiri derita Uighur dengan menegakkan kembali khilafah yang mengikuti metode kenabian!

Wallahu a'lam bishshawab.[]

Post a Comment

Previous Post Next Post