Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Memaknai Cinta Hakiki kepada Nabi

Monday, November 18, 2019 | Monday, November 18, 2019 WIB Last Updated 2019-11-18T03:10:01Z
Oleh : Sumiyah Ummi Hanifah
(Member AMK dan Pemerhati Kebijakan Publik)

Gelombang ungkapan cinta nabi dan rasul dari waktu ke waktu semakin membahana seantero negeri. Umat Islam tampak larut dalam kesyahduan dan kerinduan yang mendalam, apalagi ketika menginjak bulan Rabi'ul awal seperti sekarang ini. Umat Islam kembali meluapkan rasa rindu kepada Sang Nabi Allah tercinta, Muhammad Saw dengan cara memperingati hari kelahiran beliau, atau yang lebih dikenal dengan Peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw, yang jatuh setiap tanggal 12 Rabi'ul awal tahun Hijriyah.

Momentum kelahiran Nabi Muhammad Saw ini banyak diwarnai dengan kegiatan keagamaan, di antaranya yaitu  menggelar acara tabligh akbar, istighosah, majelis ta'lim, rihlah keagamaan, ziarah kubur dan lain-lain.

Kecintaan umat Islam terhadap nabi dan rasulnya ini memang tidak diragukan lagi. Contohnya ketika terjadi peristiwa penghinaan terhadap pribadi nabi dan simbol-simbol Islam, maka sebagian besar kaum muslimin segera membelanya. Pembelaan semacam ini sangat wajar dilakukan oleh umat Islam, karena mengingat betapa besar pengorbanan dan jasa-jasa yang telah dipersembahkan oleh Rasulullah Saw kepada umatnya.

Sebagai wujud cinta kepada beliau, banyak dari umat Islam yang mengekspresikan cintanya dengan cara menulis syair-syair yang dituangkan dalam lagu-lagu islami yang begitu menggetarkan hati.


"Rasulullah dalam mengenangmu.
Kami susuri lembaran sirahmu.

Pahit getir perjuanganmu, membawa cahaya kebenaran.
Engkau taburkan pengorbananmu, untuk umatmu yang tercinta.
Biar terpaksa tempuh derita, cekalnya hatimu menempuh ranjaunya.
Tak terjangkau tinggi pekertimu, tidak tergambar indahnya akhlakmu.
Tidak terbalas segala jasamu, sesungguhnya engkau Rasul mulia....."


Demikian sepenggal   lirik lagu Hizaz yang sudah akrab di telinga kita. Yang menjadi pertanda bahwa kita semua sangat cinta kepada  Rasulullah Saw. Namun, benarkah kita sudah betul-betul termasuk umat yang cinta kepada nabinya? Atau mungkin baru mengaku-ngaku cinta? Untuk menjawab pertanyaan ini, tentu membutuhkan bukti yang nyata, bukan hanya sebatas "pengakuan" saja, karena cinta itu harus terwujud secara realitas.

Faktanya, cinta itu butuh pengorbanan. Bagi orang yang mencintai, pengorbanan yang diberikan itu terasa membahagiakan dan akan tampak aneh jika mengaku cinta, tapi tidak mau berkorban. Artinya, mencintai tanpa mau berkorban untuk sesuatu yang dicintai, maka cintanya "dipertanyakan".

Cinta kepada nabi dan rasul, merupakan suatu kewajiban bagi umat Islam, sebagaimana cinta kepada syari'at yang dibawa dan diperjuangkan oleh beliau.
Allah Swt telah berfirman,

                                 وماارسلنامن رّسول الاّليطاباذن الله، ولوانهم اذظّلمواانفسهمجاءوك فاستغفرواا لله واستغفرلهم الرّسول لوجدواا لله توّابارحيما .٦٤

  فلاوربّك لايؤمنون حتّى يحكّموك فيماشجربينهم ثمّ لايجدوافي انفسكم حرجامّمّا قضيت ويسلّمواتسليما   ,٦٥  النساء

" Dan Kami tidak mengutus seorang rasul melainkan untuk ditaati dengan izin Allah. Dan sungguh sekiranya mereka setelah menzalimi dirinya, datang kepadamu (Muhammad), lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampunan untuk mereka, niscaya mereka mendapatkan Allah Maha Penerima taubat, Maha Penyayang (64).

Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, (sehingga) kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka  terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. [TQ.S. Al-Baqarah (2): 64-65 ]

Kedua ayat di atas menjelaskan, bahwa keberadaan seorang rasul di tengah-tengah umatnya adalah untuk ditaati, sekaligus untuk memimpin umatnya menerapkan syari'at Islam secara kafah (total). Sehingga tidak sepantasnya jika seorang yang mengaku cinta nabi dan rasul tapi justru menolak syari'at yang dibawanya. Seperti yang dilakukan oleh sebagian besar umat Islam akhir-akhir Ini. Mereka suka berkoar-koar cinta nabi dan rasul dengan memujinya dengan lisan, namun sayangnya mereka "mencampakkan" syari'at Islam dan lebih memilih menggunakan hukum buatan manusia.

Padahal mereka (para pembenci syari'at Islam) adalah umat Islam yang mengakui bahwa Alqur'an adalah sumber hukum Islam, tidak diragukan lagi kebenarannya dan merupakan petunjuk bagi orang yang bertakwa. Sebagai umat Islam, tentu kita merasa sedih dengan adanya kebijakan pemerintah yang dinilai tidak adil dan terkesan "pilih kasih". Pasalnya, pihak pemerintah melalui wakil-wakil yang telah ditunjuk oleh badan negara, dengan agresif dan tidak malu-malu lagi sering mengeluarkan komitmen (fatwa) yang isinya mendiskriditkan ajaran Islam dan para ulamanya.

Hal semacam ini sudah berlangsung cukup lama, namun akhir-akhir ini wacana pemerintah untuk "memojokkan" umat Islam dan ajarannya semakin masif dan sistemik. Presiden Jokowi hingga kini, belum mengubah pandangannya terhadap umat Islam. Kaum muslim yang ingin kembali kepada ajaran agamanya dengan benar, masih dianggap sebagai ancaman dan pembawa teror. Ini dibuktikan dengan pengangkatan Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi yang berlatar belakang militer. Tugas utama Menag sangat gamblang, yaitu mengatasi masalah radikalisme agama.

"Ini urusan berkaitan dengan radikalisme, ekonomi umat, industri halal dan terutama haji berada di bawah wewenang beliau," kata Jokowi ketika menyebut tugas Menag yang baru (mediaumat.news).

Gayung bersambut, sang menteri akhirnya bersegera membuat terobosan-terobosan baru dalam mengemban tugas dan tanggung jawabnya. Tak berselang lama setelah pelantikannya, beliau mengeluarkan larangan mengenakan cadar (niqab) bagi wanita dan celana cingkrang bagi laki-laki. Larangan ini  termasuk "nyeleneh", karena beralasan bahwa cadar dan celana cingkrang termasuk bibit radikalisme.

Tidak cukup sampai disitu, baru-baru ini kembali muncul himbauan dari Menag, agar pelaksanaan do'a di masjid-masjid menggunakan bahasa indonesia, bukan bahasa arab seperti biasanya. Penyataan sang menteri langsung menuai pro dan kontra. Bagi umat, peristiwa ini merupakan penghinaan terhadap ajaran Islam karena akan membuat kaum muslim semakin takut dengan ajaran sendiri.

Pertanyaannya adalah mengapa  pemerintah berani bertindak "melarang" hak privasi seseorang? Sejak kapan negara memiliki wewenang untuk "mengharamkan yang halal, dan menghalalkan yang haram? Dan mengapa hanya kaum muslimin saja yang diberi "label" radikal? Lantas bagaimana dengan perbuatan biadab yang dilakukan oleh umat non muslim di tanah Papua yang tega membantai umat Islam dengan alasan  mereka itu pendatang dan berbeda warna kulitnya? 

Melihat fakta tersebut, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa kaum muslimin saat ini berada pada kondisi yang "kritis", sebab para pembenci telah berani mengobok-obok ajaran Islam yang bersumber dari Kitabullah. Tuduhan radikal kepada umat Islam yang ingin menerapkan syari'atnya secara total ini, sangat tidak beralasan alias ngawur. Sebab hal itu adalah bentuk cinta dan ketaatan kepada Allah dan Rasul-nya. Umat Islam harus bangkit dari sisi pemikirannya, belajar memahami tsaqafah Uslam, berupaya sekuat tenaga untuk memperjuangkan tegaknya syari'at Allah di muka bumi ini.

Islam yang kafah (menyeluruh) inilah yang akan menjadikan "Rahmatan Lil Aalamiin", sebagaimana masa  kejayaan Islam pada 1300 tahun yang lalu. Islam telah menorehkan tinta emas peradaban dunia, dalam naungan Daulah Khilafah Rasyidah ala minhajin nubuwah. Seharusnya kita berpikir, "apa yang telah aku berikan untuk Islam? Apakah diri ini sudah termasuk orang-orang yang mengharap dan memperjuangkan kebangkitan Islam? Atau hanya sekadar mengharap kejayaan dan kebangkitannya saja tapi "ogah" berjuang, apalagi berkorban untuk Islam? Jika itu yang terjadi, maka pengakuan cinta nabi dan rasul yang kita gembar-gemborkan adalah palsu belaka. Coba bayangkan bagaimana jika Rasulullah Saw menyaksikan umatnya yang sedang memperjuangkan syari'at Islam secara kafah, seperti yang beliau perjuangan dimasa lalu? Tentu Rasulullah Saw akan merasa bangga bukan? Tapi bagaimana pandangan Rasulullah Saw terhadap umatnya yang mengaku cinta kepada nabi, tapi memusuhi syari'at Allah (hukum Islam)?

Kesimpulannya adalah bahwasannya mencintai nabi tidak bisa sekadar hanya bershalawat saja atau hanya merayakan hari kelahiran nabi saja, tapi juga harus mengikuti syari'at yang dibawa olehnya. Sehingga pengakuan cinta akan kita buktikan dengan perbuatan dan itulah yang disebut cinta yang hakiki.
Cinta hakiki yang akan dibawa sampai mati, inilah kelak di akhirat nanti yang menjadi washilah datangnya syafa'at nabi. Insyaallah Allah. Wallahu'alam bi ash-shawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update