Oleh : Dwi Suryaningsih
(Aktifis dakwah muslimah Cilacap)
Maraknya pemberitaan tentang kasus kekerasan yang dilakukan oleh generasi muda kita akhir-akhir ini, tentu menjadi peristiwa yang sangat mengerikan bagi kita. Sekaligus merupakan cambukan keras bagi bangsa Indonesia. Betapa tidak, dunia pendidikan yang sejatinya menjadi tempat(sarana) edukasi, menggali potensi juga mencetak para pemuda menjadi generasi yang unggul, cerdas dan berdedikasi tinggi, namun faktanya justru melahirkan generasi yang arogan dan liar tak mengenal batas.
Tak terbayangkan dalam benak kita sebelumnya, bahwa dari dunia pendidikan akan muncul kasus-kasus yang sangat luar biasa. Mulai dari bully, saling mengejek, perkelahian, penganiayaan, bahkan sampai penyikasaan hingga pembunuhan. Jiwa generasi tidak memiliki kepekaan yang tinggi, dan kasih sayang antar sesama. Tidak sedikit dunia pendidikan saat ini yang justru menghasilkan generasi mental pembunuh. Sungguh, kenyataan jauh dari harapan.
Satu hal yang tidak disentuh secara intensif dalam mengatasi kenakalan remaja oleh dunia pendidikan adalah edukasi spiritual yang bermutu tinggi. Sebuah konsep pembelajaran aqidah dan syari’ah bagi generasi yang dapat mempengaruhi pola pikir dan pola sikap kearah positif. Dengan terus mengasah akal agar memiliki cara pandang yang khas hingga memiliki(Syaksiyah Islamiyyah)kepribadian islamiyyah. Tidak sekedar penyuluhan atau sosialisasi bahaya kenakalan, tapi pembentukkan pemahaman positif yang terus menerus. Dengan begitu, mereka memiliki dorongan yang sangat kuat untuk menjauhi segala perilaku yang dapat menghantarkan kepada kejahatan. Dorongan yang lebih kuat dari sekedar solidaritas teman, pertimbangan materi atau ikatan emosional.
Sekulerisme akar masalah
Wajib disadari oleh kaum muslim, bahwa anak-anak dan pemuda muslim tengah menjadi sasaran sekulerisme barat yang mengemban ideologi kapitalis. Kafir Barat terus merancang strategi dan menyusun program untuk merebut hati dan pikiran anak-anak serta pemuda muslim agar setia pada ide-ide sekuler, nilai liberal, gaya hidup barat dan sistemnya. Program deradikalisasi intensif yang difokuskan pada generasi, sekulerisme kurikulum pendidikan, budaya social liberal yang terus dipromosikan oleh media. Juga industri hiburan adalah sederet program mereka untuk menggeser, bahkan mengubah posisi dan merusak vitalitas pemuda muslim.
Jebakan budaya liberal terus diciptakan. Tujuannya tidak lain adalah agar generasi muslim terperosok dalam kubangan nilai-nilai liberal. Kriminalitas, kecanduan narkoba dan seks bebas sudah menjadi cerita sehari-hari media kita. Belum lagi tawaran yang menggiurkan dibisnis hiburan. Orientasi materi telah menuntun mereka kejalan hidup yang salah.
Sederet potret buram generasi menjadi bukti kegagalan sistem kapitalisme yang diterapkan. Sistem pendidikan kapitalis-sekuler telah menyita sebagian besar waktu dan tenaga siswa untuk mengabaikan aspek pembentukan kepribadian yang kuat. Sekulerisme telah merampas potensi pemuda muslim.
Agenda-agenda ini berdampak pada kerugian yang amat besar bagi kaum muslim. Karena itu harus ada upaya secara massif untuk mengembalikan posisi dan peran penting generasi muda muslim dalam membangun peradaban. Mereka harus menjadi pribadi muslim sebagai ujung tombak perubahan.
Islam solusi tuntas
Potret buram generasi sebenarnya dapat dituntaskan dengan memperbaiki sistem hidup yang dipengaruhi pemahaman dan perilaku remaja. Untuk itu dibutuhkan peran dari berbagai elemen. Baik dari sekolah, keluarga, masyarakat dan Negara. Keseluruhannya bertanggung jawab dalam membentuk kepribadian yang baik, yang dibangun atas dasar iman dan takwa. Semuanya harus bersinergi untuk mewujudkan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan dan kemajuan generasi.
Keluarga merupakan institusi pertama dan utama yang melakukan pendidikan dan pembinaan terhadap anak(generasi). Disanalah awal dasar-dasar kelslaman ditanamkan, orangtua wajib mendidik anak sesuai ajaran Islam.
Masyarakat mempunyai peran yang sangat besar dalam pempengaruhi baik buruknya proses pendidikan, karena remaja merupakan bagian integral yang tak terpisahkan dari masyarakat. Interaksi didalamnya sangat diperlukan.
Namun, peran paling penting dan strategis dalam pembentukkan kepribadian remaja ada pada Negara melalui pemberlakuan sistem pendidikan. Secara paradigmatic, pendidikan harus dikembalikan pada asas akidah islam sebagai penentu arah dan tujuan pendidikan. Penyusunan kurikulum dan standar nilai ilmu pengetahuan serta proses belajar mengajar, termasuk penentuan kualifikasi guru/dosen, serta budaya sekolah/kampus tempat remaja eksis didalamnya.
Negara harus menjamin tercapainya pendidikan generasi secara maksimal. Dengan menyediakan tenaga pendidik yang handal. Lebih dari itu, Negara juga wajib mengontrol dan menindak tegas hal-hal yang dapat merusak generasi. Sehingga terlahir generasi terbaik yang berkualitas. Meski demikian, hal tersebut tidak akan menghantarkan kepada kesempurnaan amal. Ketika sistem yang menaungi adalah sistem diluar lslam. Maka sejatinya, kaum muslim harus kembali kepada aturan dari Allah SWT sebagai Sang Khaliq ( maha pencipta) sekaligus Al- mudabbir ( maha pengatur). Dengan mengamalkan serta menerapkan seluruh syariat lslam dalam bingkai negara khilafah lslamiyyah.
Wallahu a’lam bi ash-shawab

No comments:
Post a Comment