Oleh : Merli Ummu Khila
Kontributor Media, Pegiat Dakwah
Wahai pemuda Islam
Pinjamkan kami senjata kalian
Untuk hari tidak ada lagi kesedihan kalian
Kalau badai topan tidak menenggelamkan jalan kalian
Dia akan menenggelamkan jalan kami
Bukankah kita saudara seagama, semenjak dahulu hingga sekarang?
Maka apa kalian lemah dan kami lemah.
Sebuah pesan menyayat hati dari Al Quds . Sebuah rasa kekecewaan atas diamnya dunia Islam atas penderitaan mereka yang setiap hari dibombardir oleh Israel laknatullah. Rasa putus asa akan harapan agar penderitaan segera berakhir. Kepedihan hati, kesakitan jiwa raga, kehilangan keluarga dan sanak saudara.
Puluhan video kekejian tentara Israel atas rakyat Palestina beredar di jagat maya membuat umat Islam seluruh dunia iba dan marah pada zionis Israel yang sudah tidak berprikemanusiaan. Namun sayangnya, respon umat tidak dilakukan oleh pemimpin dunia khususnya pemimpin negeri Islam. pun tidak mendapat respon berarti dari dunia.
Permukiman Yahudi di wilayah Palestina, seperti di Tepi Barat dan Yerusalem Timur, merupakan salah satu sumber perselisihan antara Israel dan Palestina. Dilansir dari BBC news, 12 November 2019. Berdasarkan hukum internasional, tindakan Israel untuk menempatkan warganya di tanah yang diduduki sejak Perang Enam Hari pada tahun 1967 dikategorikan sebagai pelanggaran.
Menurut lembaga pemantau permukiman Yahudi, Peace Now , terdapat 132 permukiman resmi dan 113 permukiman tanpa izin resmi di Tepi Barat.
Berdasarkan hukum internasional, status permukiman Israel adalah ilegal. Sebagian besar komunitas internasional, termasuk PBB dan Pengadilan Internasional, mengatakan permukiman adalah ilegal. Landasannya adalah Konvensi Keempat Jenewa pada 1949, yang melarang pemindahan orang-orang dari sebuah negara penjajah ke wilayah jajahannya.
Dampak dari menyebarnya permukiman Israel di tanah Palestina membuat ruang gerak masyarakat Palestina terbatas. Mereka harus melewati berbagai blokade, pos pemeriksaan oleh aparat untuk melindungi warga Israel. Belum lagi tindakan sewenang-wenang aparat kepada warga Palestina yang sudah melampaui batas.
Seperti diketahui, Israel telah menduduki sebagian besar wilayah di Tepi Barat dan Yerusalem Timur. Inilah yang menjadi pangkal permasalahan. Karena sejatinya kedua wilayah tersebut yang akan menjadi wilayah negara Palestina kelak.
Respon dunia nyaris tanpa solusi. Kecaman dari berbagai negara baik berupa unjuk rasa, kecaman berbagai tokoh, serta aksi solidaritas dari umat berbagai kalangan di berbagai belahan dunia. Bantuan logistik berdatangan dari setiap penjuru. Namun tidak juga mampu menyelesaikan permasalahan.
Karena sejatinya rakyat Palestina membutuhkan kemerdekaan dari penjajahan. Yang mereka inginkan adalah mengusir Israel dari kota suci itu. Hingga rakyat Palestina bisa merdeka dan menjadi sebuah negara yang berdaulat.
Berharap pada HAM, PBB dan OKI untuk kemerdekaan Palestina seperti menegakkan benang basah. Pemimpin negeri Islam seolah kehilangan taring di bawah cengkraman Barat. Membebek dengan keputusan PBB yang tidak pernah berpihak pada rakyat Palestina.
Ketidakberdayaan umat atas penjajahan zionis Israel atas Palestina adalah karena tidak terwujudnya satu kepemimpinan umat Islam. Pemimpin negeri-negeri Islam, meski banyak secara kuantitas namun tidak membuat takut kafir penjajah. Demikian juga umat muslim. Islam sebagai agama paling besar pemeluknya namun bercerai berai oleh ikatan nasionalisme. Bersekat-sekat oleh dinding nation state.
Saatnya umat bersatu dalam satu kepemimpinan. Karena pemimpin adalah perisai. Pengayom umat yang disatukan oleh ikatan akidah. Jika umat Islam bersatu dalam bingkai Islam dan menerapkan hukum Islam, serta di pimpin oleh pemimpin yang sesuai dengan kriteria hukum syariah, maka tidak akan ada penindasan atas umat Islam.
Sebagaimana dahulu kepemimpinan khalifah al-Mu’tashim Billah, khalifah kedelapan dinasti Abbasiyah. Karena ada seorang muslimah yang ditawan di kota Amurriyah, khalifah mengirim pasukan dan berhasil menaklukkan kota tersebut. Pada penyerangan itu sekitar 3.000 tentara Romawi tewas terbunuh dan sekitar 30.000 menjadi tawanan.
Sudah saatnya kita menyudahi penderitaan umat Islam yang tertindas. Dengan bersatu dalam naungan khilafah Islamiyah. Umat butuh seorang khalifah yang mampu menjadi perisai dan periayah umat.
Wallahu'alam bishowab

No comments:
Post a Comment