Oleh: UqieNai
(Alumni Branding for Writing)
Malang nian nasib kata “radikal”—“radikalisme.” Ia mulai diselewengkan, tak ubahnya alat mematikan yang dipergunakan oleh orang dengan misi tertentu karena motif tertentu. Awalnya disematkan untuk kelompok kiri (komunis) di era 1966, kini mengalami pergeseran arti dan multi tafsir mengarah kepada agama Islam dan pemeluknya yang taat.
Baru-baru ini sebagaimana dikutip dara.co.id (22/11/2019), Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Kabupaten Bandung telah mengajak masyarakat, khususnya generasi milenial agar mengenali dan mengetahui secara jelas definisi radikalisme. Sebab masyarakat harus menjadi pionir dalam mendeteksi lebih dini adanya penyebaran paham radikalisme itu. Dengan begitu, masyarakat akan lebih mengetahui dan dapat mengambil sikap atas keberadaan radikalisme yang merongrong keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Untuk mengefektifkan ajakan itu FKDM Kabupaten Bandung menggelar diskusi khusus untuk generasi milenial bertema “Tantangan Generasi Milinial Dalam Menangkal Radikalisme” di Saung Bilik Soreang Kabupaten Bandung, Kamis, 21/11/2019. Gelar diskusi tersebut difasilitasi Badan Kesbangpol Kabupaten Bandung diikuti lebih dari 50 peserta yang berasal dari organisasi pemuda dan pelajar.
Ketua Bidang Kerjasama antar lembaga FKDM Kabupaten Bandung, A Sobirin mengatakan, dalam diskusi kali ini pihaknya menekankan agar generasi milenial mengetahui secara jelas apa itu radikalisme, dan bagaimana upaya mencegahnya sebagai bagian dari mempertahankan NKRI. “Patut diketahui radikalisme, apa unsurnya, kemudian ikuti berita tentang radikalisme dari media yang kompeten. Dengan begitu masyarakat dan generasi milenial, bisa belajar mengetahui radikalisme,”katanya.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), radikalisme adalah paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis. Di negeri ini, di Indonesia, kata radikalisme terus bergulir dan menggelinding ibarat bola api. Namun, banyak kalangan yang menilai bahwa makna radikal dan radikalisme telah mengalami pergeseran makna, sekjen dan wasekjen MUI misalnya.
Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas atau biasa dipanggil Buya Anwar, menilai perlunya mengidentifikasi ulang makna radikalisme. Pasalnya, saat ini banyak orang salah kaprah dalam memahami istilah itu.
"Ya, definisinya dulu apa (itu radikalisme), diperjelas. Apakah ada orang pakai celana cingkrang, memaksakan? Tidak ada, berarti tidak ada radikal dong. Mahasiswa saya ada yang pakai cadar, justru jika diskusi, hidup, dengan saya dibanding yang tidak," kata Anwar ditemui Republika.co.id, di Jakarta, Selasa, 05/11/2019.
Selanjutnya Buya Anwar mengatakan ada kecenderungan istilah radikalisme kerap disematkan kepada agama atau kepada orang-orang yang menggunakan pakaian tertentu. Padahal pakaian hanya nampak bagian luarnya saja tetapi soal pikiran dan tindakan belum pasti beraliran kekerasan.
Hal senada diungkapkan KH. Muhammad Zaitun Rasmin saat memberikan sambutan di hadapan ribuan peserta Ummat Fest 2019. Bertempat di Gedung Celebes Convention Center Makassar, KH. Muhammad Zaitun Rasmin yang biasa disapa UZR menegaskan bahwa permasalahan Isu radikalisme dan pelarangan cadar serta celana cingkrang adalah sesuatu yang aneh terjadi.
"Mengapa isu ini semakin memanas? Bukankah mestinya ada rekonsiliasi untuk menyatukan beberapa pihak yang awalnya berbeda seperti yang ditinggalkan oleh Pilpres kemarin? Adanya isu ini, bahkan dikeluarkan oleh pejabat Pemerintah, akan membuat gaduh negara yang bisa berujung pada konflik," tutur UZR.
"Masalahnya adalah radikalisme tidak jelas apa indikator dan apa standarnya. Kita ingin menghapus masalah ini, namun makna radikalisme jangan disamarkan tanda dan indikatornya. Sebab jika tidak jelas akan melahirkan korban-korban. Akan melahirkan penafsiran sepihak," tegas Wasekjen MUI Pusat ini, Sabtu (9/11/2019).
Menelaah uraian di atas, sejatinya generasi milenial bisa bijak dan objektif menyikapi makna radikalisme yang kini telah salah sasaran. Ada upaya busuk dibalik propaganda radikalisme yang terus digoreng sebagaimana saudaranya terdahulu dengan nama ‘terorisme.’ Mirisnya, yang menjajakan kedua jenis gorengan ini nyata-nyata tokoh umat dengan mayoritas beragama muslim. Atas nama jabatan dan sumpah setianya kepada pemberi mandat, mengharuskan dirinya menjadi mata-mata saudaranya sendiri. Siapa dalang dibalik propaganda jahat ini? Siapa lagi jika bukan kaum kuffar barat dan sekutunya.
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (TQS. Al-Baqarah: 120).
Dari ayat tersebut Allah mengabarkan kepada Rasul-Nya, bahwa orang Yahudi dan Nashrani tidak akan ridha sampai kita mengikuti ajaran mereka. Karena mereka akan terus mengajak untuk mengikuti ajaran mereka dan mereka anggap itulah al-huda (petunjuk). Maka, tak heran ketika pendukung musuh-musuh Islam tersebut terus berada di garda terdepan menjual isu dan fitnah negatif agar Islam ideologis tidak bangkit.
Mereka tidak menyadari ‘gorengan’ yang diperdagangkan itu adalah racun berbalut madu. Program kebebasan, pemisahan agama dari kehidupan, terbalut rapi dalam makna nasionalisme, pancasilais dan NKRI harga mati. Siapa saja yang menyuarakan ajaran dan syariat Islam akan dibenturkan dengan pasal ‘pemecah persatuan dan kesatuan bangsa,’ tidak pancasilais dan anti NKRI.
Melihat kondisi ini, sudah saatnya umat bangkit. Buka mata, lihat dengan seksama. Kembali kokohkan akidah, laksanakan Islam dan syariatnya secara totalitas, niscaya kebenaran itu akan terlihat. Sudah saatnya juga umat harus memuntahkan isi kepalanya yang penuh dengan tsaqafah (pengetahuan) asing dan menggantinya dengan tsaqafah Islam. Dari sinilah umat akan lebih objektif menilai karena Allah SWT sebagai pemandunya.
Sudah berapa lamakah kita dihadapkan beragam masalah multidimensi, tapi bersikap seolah tidak terjadi apa-apa? Karena kita terlalu jauh melangkah dari jalan Allah. Bangga menjadi sosok demokratis, bahagia dengan UU buatan manusia, menjerat orang-orang lemah dan melindungi penjahat kemanusiaan dibalik pasal karetnya.
Berpikirlah cemerlang dengan Islam. Islam bukan sekedar agama tapi juga ideologi. Ajarannya tidak melulu berisi ibadah mahdhah namun lebih dari itu. Dari mulai syahadat, shalat, muamalah bahkan siyasah (politik). Dari bangun tidur hingga bangun negara, Islam memiliki aturannya. Bukankah Islam agama penyempurna yang dibawa Rasulullah Saw dibanding agama terdahulu? Lalu mengapa masih ragu dengan Islam atau bahkan menjadi phobia karenanya? Ingatlah, apa yang digulirkan rezim dengan fitnah kejinya terhadap agama dan pemeluknya (Islam) adalah proxy war barat menghabisi umat Islam. Di sinilah butuhnya junnah (perisai) umat. Ia akan menjadi pelindung dan pembela umat dari beragam serangan zalim nan merusak.
Ia merupakan pemimpin umat setelah Rasulullah Saw. Ia akan ada dalam sebuah institusi Islam, menjadi penerap dan pelaksana aturan Allah dan RasulNya dalam berbagai aspek kehidupan. Oleh karena itu, renungkanlah Firman Allah dan sabda Rasulullah Saw berikut ini:
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik” (TQS An-Nuur: 55).
“Sesungguhnya siapa saja yang hidup di antara kalian sepeninggalku akan melihat perselisihan yang banyak, maka hendaknya kalian berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah Al-Khulafa Ar-Rasyidin sepeninggalku, gigitlah dengan geraham.” (HR At-Tirmidzi; Shahih).
Abu Hazim berkata: "Aku belajar kepada Abu Hurairah selama lima tahun. Aku pernah mendengarnya menyampaikan hadits dari Nabi SAW yang bersabda: "Kaum Bani Israil selalu dipimpin oleh para nabi. Setiap ada nabi meninggal, maka akan diganti oleh nabi berikutnya. Sesungguhnya tidak ada nabi sesudahku. Dan akan ada para khalifah yang banyak." Mereka bertanya: "Apakah perintahmu kepada kami?" Beliau menjawab: "Penuhilah dengan membai'at yang pertama, lalu yang pertama. Penuhilah kewajiban kalian terhadap mereka, karena sesungguhnya Allah akan menanyakan mereka tentang apa yang menjadi tanggung jawab mereka."
Menurut al-Imam an-Nawawi, hadits di atas termasuk mukjizat yang jelas bagi Nabi SAW, dimana beliau mengabarkan tentang banyaknya para khalifah yang akan memimpin umat sesudahnya. Kenyataannya, sesudah beliau wafat, umat Islam memang dipimpin oleh para khalifah.
Wallahu a’lam bi ash-Shawab.
No comments:
Post a Comment