Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Subsidi Listrik dicabut, Solusi atau Manipulasi?

Tuesday, November 26, 2019 | Tuesday, November 26, 2019 WIB Last Updated 2019-11-26T01:05:46Z
Oleh : Jafisa 
(Aktifis Dakwah Remaja dan Penanggung Jawab Pena Muslimah Cilacap) 

"Tidak ada yang gratis!" itulah ungkapan yang tepat untuk hidup hari ini. Diam-diam merayap, setelah menaikan tarif dasar listrik berulang kali pada tegangan 1300 V, kini melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pemerintah menyatakan, pelanggan listrik golongan 900 Volt Amper (VA) Rumah Tangga Mampu (RTM) akan dicabut subsidinya mulai Januari 2020. Direktur Jenderal Ketenaga Listrikan Kementerian ESDM Rida Mulyana mengatakan, pencabutan subsidi untuk golongan pelanggan 900 VA RTM merupakan keputusan bersama antara pemerintah dengan DPR. Keputusan dikeluarkannya golongan pelanggan 900 VA dari penerima subsidi, maka tarif listrik golongan pelanggan tersebut mengalami penyesuaian mengikuti golongan pelanggan non subsidi golongan 1.300 VA, pencabutan subsidi untuk 900 VA non subsidi akan berlaku mulai Januari 2020.

Untuk diketahui, saat ini golongan 900 VA RTM ‎dikenakan tarif sebesar Rp 1.352 per kilo Watt hour (kWh), sedangkan tarif golongan non subsidi 1.300 VA Rp 1.467,28 per kWh. Jumlah pelanggan listrik 900 VA RTM sebanyak 6,9 juta pelanggan. Dengan pencabuta‎n subsidi listrik untuk golongan pelanggan 900 VA RTM, maka tagihan listriknya akan naik Rp 29 ribu per bulan.
Berdasarkan pemadaman yang dilakukan pada Agustus 2019 lalu, Perusahaan Listrik Negara (PLN) akan memberikan kopensasi sesuai Peraturan Menteri (Permen) ESDM No. 27 tahun 2017. Pemerintah dan DPR telah menyepakati penurunan subsidi listrik dalam Rancangan Anggaran‎ Pendapatan Belanja Negara (RAPBN) 2020. Imbasnya, ada golongan pelanggan yang tidak menerima lagi subsidi.

Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Rida Mulyana mengatakan, golongan pelanggan pelanggan 450 VA saat ini masih direncanakan‎ mendapat subsidi listrik. 
Menurut Rida, jika nantinya akan ada peninjauan subsidi listrik pada golongan 450 VA, maka akan dilakukan‎ pemilahan penerima subsidi. Pemerintah tidak akan sembarangan mengabil kebijakan terkait kenaikan tarif listrik, sebab banyak faktor yang menjadi pertimbangan seperti penurunan kondisis ekonomi. https://m.liputan6.com/bisnis/read/4113754/subsidi-dicabut-tagihan-listrik-pelanggan-900-va-bakal-naik?utm_source=Mobile

.

Ada Liberalisasi Energi dibalik Kenaikan TDL

Listrik merupakan aliran elektron dari atom ke atom pada sebuah penghantar atau suatu energi yang berpengaruh terhadap kehidupan manusia sehari-hari. Energi listrik ini dimanfaatkan untuk menggerakkan alat-alat elektronik seperti komputer dan lainnya yang berfungsi untuk mempermudah kegiatan atau pekerjaan manusia. tidak bisa terelakan lagi bahwa energi listrik merupakan salah satu sumber energi yang sangat banyak manfaatnya serta sangat sulit digantikan perannya, dan untungnya, tidak seperti minyak bumi yang penggunaannya bisa saja habis. Energi listrik ini tidak akan pernah habis dan setiap orang berpotensi bisa membangkitkan energi listrik.

Sebagaimana dijelaskan diatas bahwa energi listrik itu perlu dibangkitkan dan cara membangkitkan energi listrik, sedangkan untuk saat ini permasalahanya mengenai biaya pembangkit yang memang cukup mahal. Namun pada dasarnya energi listrik itu tidak bisa habis juga tidak bisa bertambah, hanya bisa berubah bentuk. sebagaimana hukum kekekalan energi. Komputer, Smartphone, TV, Radio, serta banyak alat canggih lainnya itu tidak akan bisa kita Gunakan bila tidak ada Energi listrik. Bisa saja sih jika digunakan untuk mengganjal pintu dan lainnya. Bukan hanya itu, perlengkapan industri dan rumah tangga juga tidak terlepas dari keberadaan listrik. 

Listrik bukan hanya menjadi kebutuhan masyarakat semata, namun merupakan kebutuhan negara. Karena salah satu indikasi negara maju yakni dengan berkembangnya teknologi dan industri sebagai penopang keberlangsungan negara. Namun apa yang terjadi jika hari ini listrik menjadi satu diantara puluhan kasus yang membuat rakyat tercekik. Dengan bergulirnya kebijakan naiknya TDL 900 V ini membuat rakyat ingin menjerit. Tahun 2020 menjadi tahun kenaikan nasional karena diawal ditahun 2020 nanti listrik akan mengalami kenaikan.

Kenaikan ini diclaim sebagai upaya hemat energi dan menutupi defisit PLN. Padahal untuk menghemat energi, banyak solusi selain menaikan tarif. Penghematan energi memang sangat penting untuk dilakukan, apalagi mengingat akhir-akhir ini telah terjadi krisis energi di dunia. Karena terjadinya krisis energi ini, maka terciptalah berbagai sumber energi alternatif sebagai upaya untuk mencukupi kebutuhan energi yang kita gunakan. Maka kita sebagai pengguna yang tidak tahu menahu tentang pembuatan atau proses dari terciptanya energi sehingga siap pakai sangat penting untuk melakukan penghematan. Energi yang berupa listrik dan bahan bakar minyak memang sangat memanjakan kita. Bahkan kini manusia mulai tergantung terhadap listrik, sehingga merasa dirugikan ketika mendapati listrik mati, yang bahkan dilakukan secara bergiliran sebagai upaya penghematan energi akan listrik.

Listrik merupakan energi yang dihasilkan dari pengolahan energi yang ada di bumi. Mulai dari gas, energi angin, energi gerak, energi matahari dan energi lainnya dikonversi menjadi energi listrik karena jenis energi ini mudah didistribusikan, disimpan dan diubah menjadi bentuk energi lain.

Karena jumlah populasi manusia dan kebutuhannya akan energi secara terus menerus dan besar-besaran, maka ada kemungkinan akan kekurangan energi listrik dari tahun ke tahun. Saat ini sebagian besar energi dipasok dari minyak bumi, gas alam dan batu bara yang kesemuanya itu merupakan energi tak terbaharukan. Bahan bakar minyak yang kini hampir setiap orang membutuhkannya karena mobil dan motor sangat mudah untuk dimiliki. Sumber energi tersebut akan habis suatu saat nanti. Karena hal ini maka kita perlu melakukanpenghematan energi, sehingga krisis energi yang lebih parah tidak akan terjadi pada anak cucu. Meningkatnya populasi penduduk tentu berdampak pada penggunaan energi yang lebih besar sesuai dengan kebutuhan. Padahal energi yang ada tidak hanya berasal dari listrik saja, namun juga dari makanan.

Dicabutnya subsidi listrik ini dikhawatirkan adanya kasus suap, korupsi dan liberalisasi. Diketahui bahwa PLN telah bekerjasama dengan asing dalam membantu terealisasinya energi ke tengah-tengah masyarakat. Ketidakmampuan pemerintah dalam mengatur dan mengelola pelistrikan sehingga menjafi benyebab diberikanya proyek pelistrikan kepada fihak asing. Setidaknya ada 53 perusahaan swasta yang bekerjasama dengan PLN yang tersebar diseluruh Indonesia. Sehingga PLN terikat dengan kontrak kerja. Sungguh miris bin tragis bukan? Rakyat seolah dijadikan sapi perah untuk menghasilkan pundi-pundi rupiah, sementara pelayanan pemerintah masih terlihat sangat buruk dalam masalah ini. Wal hasil rakyat merindukan pemerintah yang mampu menjamin dan memberikan kesejahteraan. Karena sejatinya seorang pemimpin dipilih untuk menjalankan amanah dan mensejahterakan rakyat.

Sedangkan, secara fakta Indonesia merupakan negara yang kaya raya lagi memiliki segalanya. Sementara keadaan ekonomi negeri tidak sebanding dengan apa yang terkandung didalam tanahnya. 

Wallahu a’lam bish-shawab. [ ]

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update