Oleh : Ai iim
Banyak masyarakat yang tidak mengetahui seluk beluk tentang khilafah dan bahkan tidak membuka ruang untuk ikut mengkaji tentang khilafah, sehingga sebagian kalangan menyatakan bahwa khilafah adalah sistem yang dapat menyebabkan kemunduran bagi suatu bangsa, yang apabila dibiarkan. tumbuh dan berkembang akan memunculkan apatisme dikalangan masyarakat.
Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Mahfud MD menjamin tidak ada sistem negara khilafah dalam Islam. “Yang ada itu prinsip khilafah, dan itu tertuang dalam Al Quran,” kata Mahfud saat memberikan sambutan dalam acara Dialog Kebangsaan Korps Alumni HMI (KAHMI), di Kalimantan Barat, Sabtu malam, 26 Oktober 2019.
Padahal seluruh ulama Aswaja, khususnya imam empat mazhab (Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Hanbali), sepakat, bahwa adanya khilafah, dan menegakkannya ketika tidak ada, hukumnya wajib. Dalil - dalil tentang kewajiban mengadakan khilafah dan menegakkannya bisa dilihat dalam beberapa rincian, diantaranya:
1).Dalil al quran, dalam QS Al Baqoroh:30,QS an-Nisa’ (4) ayat 59; QS al-Maidah (5) ayat 48;
2).Dalil As sunah,Di antaranya sabda Rasulullah SAW:“Siapa saja yang mati, sedangkan di lehernya tidak ada baiat (kepada imam/khalifah), maka ia mati jahiliah.” [HR Muslim].
3).Dalil ijmak sahabat,Haitami menegaskan:“Sungguh para Sahabat—semoga Allah meridhai mereka—telah bersepakat bahwa mengangkat seorang imam (khalifah) setelah zaman kenabian berakhir adalah wajib. Bahkan mereka menjadikan upaya mengangkat imam/khalifah sebagai kewajiban paling penting. Faktanya, mereka lebih menyibukkan diri dengan kewajiban itu dengan menunda (sementara) kewajiban menguburkan jenazah Rasulullah saw.” [Lihat, Al-Haitami, Ash-Shawâ’iq al-Muhriqah, hlm. 7].
4).Kesepakatan ulama ajwaja,“Para imam mazhab (yang empat) telah bersepakat bahwa Imamah (Khilafah) adalah wajib…” [Lihat, Al-Jaziri, Al-Fiqh ‘ala al-Madzâhib al-Arba’ah, Juz V/416].
Hal senada ditegaskan oleh Ibnu Hajar al-Asqalani, “Para ulama telah sepakat bahwa wajib mengangkat seorang khalifah dan bahwa kewajiban itu adalah berdasarkan syariah, bukan berdasarkan akal.” [Ibn Hajar, Fath al-Bâri, Juz XII/205].
Terdengar sangat aneh,namun itulah kenyataan yang terjadi dinegeri yang berpenduduk mayoritas muslim ini, dan tak sedikit dari pengidap islamophobia ini adalah mereka yang berpendidikan ilmu agama islam tinggi bahkan lulusan Timur Tengah.
Sejak kekhilafahan di Turki melalui kekaisaran Ottoman berakhir tahun 1924, gerakan memperjuangkan khilafah tak pernah surut di Indonesia.
Khilafah merupakan sistem pemerintahan yang dijalankan Rasulullah dan para sahabatnya. Kekuasaan dipegang oleh seorang Khalifah secara absolut. Hal ini berarti fungsi eksekutif, legislatif, dan yudikatif dipegang oleh seorang Khalifah. Memang sistem ini yang dipakai ketika zaman Rasul dulu. Namun orang-orang yang menjadi Khalifah merupakan orang-orang terpilih yang benar-benar memahami kitab Allah.
Menurut Cak Nun dalam tulisannya yang berjudul “The Scary Khilafah”, khilafah merupakan desain Tuhan agar manusia mencapai titik “keadilan sosial”, “gemah ripah loh jinawi”, atau yang paling dimengerti “baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghafur”. Lalu, mengapa khilafah ditakutkan? Bukankah memang manusia diciptakan untuk menjadi khalifah di muka bumi?
Konsep khilafah harusnya tidak perlu ditakutkan oleh sebagian orang atau kelompok. Karena inti dari khilfah adalah menghendaki adanya kemaslahatan bagi masyarakat di dunia dan akhirat.
Saat ini yang berdiri di barisan paling depan untuk menghalang-halangi tegaknya sistem Islam tidak lain dan tidak bukan adalah justru umat Islam sendiri. Mereka ini sebenarnya korban dari pengrusakan fikrah yang disengaja secara sistemik, sehingga Islam justru diinjak-injak oleh umatnya sendiri.
Tidak kah kita masih ingat, siapakah orang yang paling bertanggung - jawab atas runtuhnya khilafah Islamiyah di Turki? Ya, dialah Mustafa Kemal Pasya, yang notabene agamanya justru Islam. Dia bukan yahudi, bukan nasrani, bukan pula majusi. Dia adalah seorang muslim yang tidak mau dibilang kafir. Tapi kelakuannya melebihi yang bisa dilakukan oleh seorang iblis sekalipun.
Jadi sebenarnya masalah besar kita bukan ada di pihak lawan, tapi ada di dalam diri kita sendiri. Masih begitu banyak umat Islam yang belum paham, tidak yakin dan masih bimbang atas agamanya sendiri. Mereka lebih kagum kepada sistem buatan manusia, ketimbang sistem buatan Allah SWT.
Wallahu àlam bish showab.
No comments:
Post a Comment