Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Apakah Rezim Represif Anti Islam ?

Wednesday, November 13, 2019 | Wednesday, November 13, 2019 WIB
Oleh : Dede ummu lulu
Ibu Rumah Tangga

Apa yang Presiden Jokowi pesankan saat pelantikan, melekat pada semua tupoksi ini. Salah satunya agar mereka serius menuntaskan persoalan radikalisme yang dianggap kian membahayakan. Membahayakan persatuan, kebinekaan, dan yang terutama, investasi modal asing.
Setting lesehan ternyata tak mampu menutupi kesan “seram” dari susunan kabinet yang diumumkan Presiden Jokowi. Betapa tidak? Nama-nama dan jabatan yang ditetapkan menunjukkan bahwa fokus rezim baru lima tahun ke depan masih melanjutkan fokus agenda sebelumnya. Yakni menyukseskan liberalisasi ekonomi seraya mengencangkan proyek deradikalisasi sebagai penopangnya.

Terbayang sudah, wacana screening dan pembersihan ASN serta aparat radikal yang akhir-akhir ini suaranya menguat, akan kian masif dilakukan di semua level kelembagaan dan kemasyarakatan. Begitu pun proyek deradikalisasi yang selalu disandingkan dengan moderasi Islam, ditengarai akan makin dikukuhkan melalui kebijakan keagamaan dan pendidikan.

Bahkan proyek deradikalisasi nampaknya akan menjadi agenda utama. Ini terlihat dari penempatan Tito Karnavian yang berlatar kepolisian di posisi strategis sebagai Menteri Dalam Negeri, Jenderal (Purn) TNI Fachrul Razi sebagai Menteri Agama, serta Tjahjo Kumolo mantan Mendagri sebagai Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, dilengkapi Nadiem Makarim sang pebisnis yang juga dikenal sangat pluralis di posisi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Dan semuanya terbaca dengan sangat jelas, baik oleh pengamat yang pro maupun yang kontra. Bahkan Profesor Din Syamsuddin sampai menyindir agar kemenag diganti nama dengan Kementerian Antiradikalisme saja.

Kriminalisasi, alienasi, dan brainwashing pun akan lebih gencar dibanding sebelumnya. Apalagi, kini penguasa telah memiliki dukungan internasional serta seperangkat proyek dan alat pukul untuk membungkam pelakunya. UU ITE salah satunya.

Inilah yang terjadi sejak jilid pertama kekuasaan Jokowi. Praktik perang melawan radikalisme menjadi terkesan mawur dan serampangan. Bahkan, nampak telanjang bahwa narasi radikalisme hanyalah jurus dewa mabuk untuk membungkam lawan politik dan mengalienasi kelompok kritis yang menginginkan perubahan Indonesia ke arah yang lebih bermartabat sesuai Islam.

Ya, Islam memang nampak menjadi sasaran utama proyek deradikalisasi ini. Mengingat geliat kebangkitan kesadaran akan rusaknya sistem hidup berdasar sekularisme demokrasi yang dimotori kelompok Islam dan ulama-ulama ideologis memang berbenturan dengan kepentingan kelompok penguasa yang telah diuntungkan oleh penerapan sistem rusak ini.

Negara dalam sistem ini pun sangat abai terhadap aspek moral dan agama. Karena keduanya dipandang sebagai ranah privat yang jika masuk ke ranah publik, maka bisa menghalangi kemajuan dan menjadi sumber konflik yang kontraproduktif dengan agenda liberalisasi ekonomi alias penjajahan.

Siapa pun tahu, Indonesia hari ini sudah masuk dalam jebakan kapitalisme global, melalui agen-agen kapitalis yang berhasil duduk di kursi kekuasaan. Sistem demokrasi kapitalis neoliberal yang berbiaya mahal, nyatanya memang membuka jalan lebar bagi para pemilik modal menguasai sistem politik. 

Rasulullah saw bahkan telah mewacanakan tentang datangnya fase yang lebih sulit lagi. Sebagaimana termaktub dalam hadis dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda,
«سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ، يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ، وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ، وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ، وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ، وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ» ، قِيلَ: وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ؟ قَالَ: «الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ»
“Akan datang ke pada manusia tahun-tahun penuh kebohongan, saat itu pendusta dibenarkan, orang yang benar justru didustakan, pengkhianat diberikan amanah, orang yang dipercaya justru dikhianati, dan Ar-Ruwaibidhah berbicara.” Ditanyakan, “Apakah Ar-Ruwaibidhah?” Beliau bersabda, “Seorang laki-laki yang bodoh (Ar Rajul At Taafih) tetapi sok mengurusi urusan orang banyak.” (HR. Ibnu Majah No. 4036. Ahmad No. 7912.) 
Semoga kita termasuk orang-orang yang selamat. Yang memilih jalan di atas jalan kenabian. Menjadi perintis terwujudnya janji Allah bersama kelompok yang benar, sekalipun tantangan makin keras menghadang. 

Dan bersama-sama memperjuangkan tegak nya sistim islam yaitu dengan tegak nya Daulah Islamiyah yang akan menegak kan semua Aturan Allah swt di muka bumi 
Wallahu 'Alam.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update