Oleh : Putri Awaliah
Member Akademi Menulis Kreatif
Bagai gelombang tsunami yang tiba-tiba menerjang. Begitulah gambaran aksi mahasiswa yang tiba-tiba berbondong-bondong turun ke jalan. Pada senin (23/09) terjadi aksi serentak mahasiswa hampir di seluruh kota. Seperti Lampung, Cirebon, Samarinda, Jakarta, Makassar, dan Jayapura. Aksi ini dilakukan berhari-hari hingga memakan korban. Salah satunya yang ada di kendari Randi(21) dan Muh. Yusuf(19), yang tewas setelah bentrok antara polisi dan mahasiswa di gedung DPRD Sultra. (cnninonesia.com)
Seluruh aksi mahasiswa selain di Jayapura yang hanya mengangkat tema rasialisme, setidaknya mengangkat dua isu utama, yaitu menolak RKUHP dan menolak revisi UU KPK. Dan isu lainnya soal Karhutla, diskriminasi etnis, menolak RUU Ketenagakerjaan, menolak RUU Pertahanan, dan mendesak RUU P-KS disahkan.
Patut diapresiasi, pergerakan mahasiswa yang sebelumya mengurung diri, mulai terlihat eksistensinya. Namun, ada apa dibalik pergerakan tersebut? Apakah murni karena kesadaran akan fungsinya sebagai agen of change? atau ada yang lain?
Baiklah, jika dilihat dari cover luarnya saja, kita akan mendapatkan beberapa alasan mengapa mahasiswa melakukan aksi. Para ketua Bem, dan aktivis kampus lainnya memang murni menyadari adanya kejanggalan-kejanggalan pada revisi UU KPK dan RKUHP. Atas arahan dari aktivis kampus, akhirnya mahasiswa biasa juga aksi turun ke jalan. Baik yang melakukannya karena ikut tersadarkan atau yang hanya sekedar ikut-ikutan.
Bersamaan dengan aksi mahasiswa yang digelar serempak hampir diseluruh kota di Indonesia, ada aksi dari Universistas Cendarawasih di Jayapura yang mengangkat soal rasialisme. Aksi tersebut tentu saja dilatarbelakangi oleh konflik yang terjadi di Papua. Jika didalami konflik ini bukan hanya sekedar masalah etnis, tapi di balik itu semua ada AS yang telah lama mendorong Papua untuk memisahkan diri dari Indonesia. AS sejak awal turut campur persoalan integrasi Papua ke Indonesia. Melalui Robert Karnet dan Mcgeorge Bundy, AS mendorong PBB memfasilitasi penyerahan Papua dari Belanda ke Indonesia. Apalagi ada aset AS yang berharga di sana, yaitu emas Freeport yang sudah berdiri sejak 1967. Kontrak karya tersebut dilakukan jauh sebelum Papua bergabung dengan Indonesia. Jadi kerusuhan di Papua tidak bisa di pisahkan dari AS.
Apa tujuan AS? Semua tak terlepas dari perang dagang yang terjadi antara AS dan China. Dari konflik di Papua, masyarakat Indonesia secara umum semakin tidak loyal kepada rezim pro China atas ketidakbecusannya menangani konflik di papua. Dan masyarakat papua khususnya semakin besar keinginannya agar melepaskan diri dari Indonesia. Dengan lepasnya Papua akan AS semakin leluasa mengeruk kekayaan Papua.
Lalu, apa kesamaannya dengan aksi serentak mahasiswa lainnya ? Yaitu keduanya dalam rangka menggeser pengaruh China di Indonesia. Kemudian menuntut rezim untuk menegakkan nilai-nilai dan prinsip-prinsip demokrasi ala AS.
Sangat aneh memang, padahal sebelumnya ada isu- isu lain. Tewasnya ratusan petugas KPPS saat pemilu berlangsung, dugaan kecurangan pemilu yang TSM, kebohongan ESEMKA, bahkan para petinggi univeritas yang membungkam kekritisan mahasiswa, adanya program deradikalisasi kampus, sampai ada yang di-DO. Kemana Mahasiswa? malah yang bergerak adalah aliansi umat Islam. Tapi yang lebih aneh lagi, kemana para petinggi kampus saat aksi serentak ini berlangsung? padahal sebelumnya sangat gencar mengeluarkan kebijakan yang membungkam kekritisan. Jadi bisa dikatakan dibalik aksi besar ini, ada kekuatan besar yang menyokong.
Tapi bagai angin yang hanya singgah sebentar lalu pergi, setelah pelantikan presiden dan pemilihan kabinet berlangsung, pergerakan mahasiswa tak tahu lagi rimbanya. Semua kembali seperti sediakala. Seakan-akan tidak pernah terjadi apa-apa. Bahkan saat rezim mengeluarkan UU IT mengenai ujaran kebencian, dimana mahasiswa? Apa sudah tuli dan buta karena gas air mata? atau, sang penyokong mulai mendapatkan keuntungan dari pelantikan dan pemilihan kabinet? Atau ada perjanjian terselubung yang sedang berlangsung? hanya waktu yang bisa menawab.
Aksi yang sama pernah dilakukan oleh mahasiswa 21 tahun silam, yaitu aksi mahasiswa tahun 1998. Lalu, jika dikaitkan dengan aksi 98, apakah sama? aksi 98 yang sama-sama kita ketahui berhasil meruntuhkan rezim orde baru. Lalu apakah aksi September lalii untuk meruntuhan rezim pro China? yah, jawabannya bisa tidak, bisa iya.
Lalu, dimana letak persamaanya? Letak persamaanya adalah adanya campur tangan AS dibalik kedua aksi tersebut. Sebagaimana dijelaskan dalam buku Api Sejarah Jilid 2 bahwa tumbangnya rezim orde baru tidak lepas dari campur tangan AS, yang memang sangat membenci kebangkitan Islam, tidak suka melihat kedekatan Presiden Soeharto pada masyarakat dan remaja Islam. Akhirnya menggunaan kekuatan andalan AS yaitu menggerakkan massa, maka digerakkanlah student power yang mayoritasnya mahasiswa Islam yang dibentuk pola wawasannya melalui berbagai media informasi.
Indonesia diberitakan oleh media sebagai negara yang terpuruk ekonominya, pemimpin korup dan sedang berkembang penyakit menular serta sarang teroris. Untuk yang terakhir ini barat sangat yakin, karena sejak tentara Sekoetoe Inggris dan NICA akan menyerang Bandung, menjelang terjadinya peristiwa Bandung lautan api, menilai bahwa TNI dan LASKAR Hizbullah, Sabibillah pejuang kemerdekaan dicap sebagai teroris. Apalagi ketika Indonesia memperlihatkan kemajuan Islam, dari jumlah haji dan umrohnya terbesar di dunia. Barat yang saat itu tidak terlalu menjadikan Islam sebagai ancaman kemudian mulai sadar bahwa setelah Komunis runtuh, musuh Barat adalah Islam dan Kong Fu Tsu atau cina. (api sejarah jilid 2, hal 526).
Lalu Perbedaannya adalah pada aksi 98, pergerakan memang betul-betul lahir dari kesadaran para mahasiswa akan kebobrokan rezim orde baru. Seperti pernyataan dari mantan aktivis 98 Fahri Hamzah yang mengatakan bahwa niat ketika keluar rumah untuk melakukan aksi kalau gak mati, hilang, atau di buang. Artinya mereka benar-benar ingin menumbangkan rezim orde baru. Walaupun sama-sama dimobilisasi oleh AS, tetapi emosional aksi mahasiswa 98 benar-benar lahir dan terbentuk sempurna. Mereka yang merasakan kediktatoran rezim orde baru, bagai bara yang disulut kobarannya oleh AS untuk menumbangkan rezim orde baru. Sehingga tujuan aksi memang untuk menumbangkan rezim. Sedangkan aksi saat ini, mereka hanya sadar akan beberapa kesalahan revisi undang-undang, artinya hanya sekedar melakukan koreksi. Dan sebagian besar hanya ikut-ikutan. Yang mana mereka semua disokong oleh kekuatan AS yang bukan betul-betul menginginkan kesejahteraan pada rakyat indonesia, tapi sekedar mencari keuntungan besar di antara keuntungan yang ada. Aksi kali ini juga tak dapat dipisahkan oleh karakter generasi milenial saat ini yang terbuai oleh serangkaian kenikmatan food, fun, fashion. Jadi mereka tidak akan sadar akan kebobrokan rezim saat ini. Buktinya banyak yang ikut aksi karena ikut-ikutan, bahkan sama sekali tidak tahu apa yang sedang disuarakan.
Melihat kedua pergerakan ini dapat disimpulkan bahwa, kondisi Indonesia sampai saat ini berlangsung perang antara AS dan China. AS Dengan menggunakan kekuatan massa, dan China dengan kekuatan dana, Indonesia jadi babak belur akibat pertarungan kedua negara raksasa ini.
Dari fakta di atas, apakah mahasiswa ingin terus menjadi alat para penjajah untuk menghancurkan negeri sendiri? jika pergerakan mahasiwa tidak dilandaskan pada pemikiran yang jernih dan cemerlang akan sistuasi yang melanda negeri ini, maka akan seperti apa masa depan bangsa? bukankah pemuda sekarang adalah pemimpin masa depan? jika saat ini pergerakan mahasiswa masih di pengaruhi oleh intervensi penjajah, maka bagaimana jika kelak menjadi Pemimpin?
Pergerakan mahasiswa bila tidak ingin selalu terwarnai oleh penjajah maka harus lahir kesadaran yang melalui proses berfikir cemerlang akan situasi negeri. Apa sebenarnya yang menjadi pokok permasalahan? Kenapa malah negeri ini semakin bobrok?
Karena jika pergerakan hanya berlandaskan perasaan, apalagi hanya ikut-ikutan dan tak tahu masalah yang sebenarnya maka akan dengan mudah pergerakan mahasiswa sekarang berubah haluan dari niat menuntut kesejahteraan justru akan menyengsarakan
Oleh karena itu, mari sama-sama berfikir dan kembali kepada identitas kita sebagai pemuda sejati. Khususnya kepada pemuda muslim. Mari kembali pada identitas kita sebagai pemuda islam, yang menjadikan Islam sebagai Pandangan hidup. Tidak ingatkah kisah Muahammad Al-Fatih, sang penakluk konstantinopel yang berhasil membuktikan risalah Rasulullah di usia muda akan kemenangan Islam maka kembalilah kepada Islam. Jadikan Islam sebagai landasan pergerakan, sambutlah janji Rasullah untuk kemenangan islam di akhir zaman.
Wallahua'lam bish-shawwab

No comments:
Post a Comment