Oleh : Widhy Lutfiah Marha
Pendidik Generasi dan Member Akademi Menulis Kreatif
Enterpreneurship atau kewirausahaan merupakan profesi yang sedang naik daun di Indonesia. Generasi muda Indonesia berlomba-lomba menyampaikan ide inovatifnya untuk bersaing dalam pasar domestik maupun internasional. Indonesia sendiri telah berhasil melahirkan beberapa wirausahawan muda yang perusahaannya telah dilabeli “unicorn” karena pencapaiannya dalam dunia usaha. Untuk itu, kini sekolah-sekolah baik SMU atau SMK bahkan pesantren telah diprogram pelatihan enterpreneur guna melatih soft skill mereka dalam bidang kewirausahaan.
Dalam program Indonesia maju 10 besar di tahun 2030, Kemenperin berencana mencetak 20 ribu enterpreneur muda per tahun (radarindonesia.com, 24/9/2019). Untuk mencapai target dalam program tersebut pemerintah melibatkan seluruh generasi muda baik dari lulusan SMU atau SMK, mahasiswa, dan kalangan santri. Bahkan, gelaran santripreneur telah ada sejak tahun 2013, hasilnya 30.000 sudah terlatih. Para santri dilatih skill sesuai kebutuhan yang ada yaitu untuk garment, kuliner, dan teknisi kendaraan bermotor. Anggarannya 400 juta setiap pondok pesantren untuk bantuan peralatan wirausaha. Sekitar 6000 Ponpes ditarget di Lamongan, Kediri, Jember, Mojokerto, Probolinggo dan lain-lain. (Gatih Wibawaningsih).
Masih dari sumber yang sama pemerintah kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, terus berupaya menumbuhkan semangat berwirausaha bagi para pelajar di sekolah yang berbasis pondok pesantren dan salah satunya memberikan pelatihan pengolahan roti kepada santri. Pelatihan pengolahan roti dan bantuan peralatan pembuat roti bagi santri di Banyuwangi ini, berlangsung selama empat hari sejak tanggal 3 sampai 6 Oktober 2019. Pemkab Banyuwangi mendapat dukungan dari Kementerian Perindustrian.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka pada Kementerian Perindustrian, Gati Wibawaningsih yang hadir dalam pelatihan menyampaikan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari program besar pemerintah pusat dalam mencetak wirausaha muda di Indonesia. “Tahun 2030 kami ingin menjadikan Indonesia sebagai negara dengan perekonomian terbesar di dunia. Untuk mewujudkan itu, syaratnya 4 persen dari penduduknya harus berwirausaha. Untuk itu kami rutin melibatkan pelajar dan para santri untuk menjadi entrepreneur,” katanya di Pondok Pesantren Mabadiul Ihsan, Banyuwangi, Jumat, 4 Oktober 2019. Ia menjelaskan, pihaknya memberikan pelatihan bagi para santri karena siswa yang belajar di pondok pesantren memiliki mental dasar yang dibutuhkan bagi seorang wirausaha.
Sepintas memang baik tujuan pemerintah menggalakan para pelajar untuk bewirausaha dengan memberikan pelatihan-pelatihan. Namun ini bukan entrepreneur. Faktanya, negara hanya menyediakan pelatihan teknis saja, tanpa dilengkapi dengan pembinaan secara total, baik dari segi mental dan modal dalam berwirausaha. Akibatnya terbentuklah orang-orang yang berfikir dangkal yang berpikir kebermanfaatan materiil semata (hingga timbul individualisme, dan ketidakpedulian akan masalah masyarakat yang multi dimensi).
Dorongan untuk menjadi enterpreneur adalah cerminan ideologi kapitalisme yang berlawanan dengan Islam. Negara ini katanya mencetak enterpreneur, akan tetapi malah menjadi penyedia jalan untuk memuluskan agenda barat menghidupkan Sustainable Development yang memakmurkan hegemoni (produk) mereka. Sedangkan aset rakyat oleh negara dimanfaatkan untuk kepentingan barat. Disamping itu, peran negara dalam mencetak generasi unggul dirasakan belum maksimal. Begitu pun dengan peran negara dalam menjaga SDA.
Bagaimana Islam Mencetak Enterpreneur?
Islam adalah agama rahmat bagi seluruh alam. Islam dibangun dari akidah dan ketaqwaan kepada Allah Swt. Dengan demikian, Islam akan sungguh-sungguh membimbing generasi muda dengan dasar taqwa, jadi jelas berbeda dengan sistem kapitalisme sekarang yang hanya mementingkan material semata. Khilafah akan mencetak Khoiru Ummah/Umat terbaik. Khilafah akan menjaga kekayaan umat dan mendistribusikan untuk kesejahteraan, dan akan mencetak sosok-sosok pendakwah, pembela rakyat hingga pembebas negeri-negeri terjajah karena sistem jahiliyah tanpa tendensi materiil. Karena ghoyyah mereka hanya keridhaan Allah bukan mencari manfaat kenikmatan duniawi.
Sudah tak asing lagi sosok-sosok luar biasa ini seperti : Usamah bin Zaid, Rabi' bin Amir, Muhammad Al-Fatih, Thariq bin Ziyaad, Teuku Umar, dan Wali Songo. Mereka adalah sosok-sosok produk Khilafah Islamiyah, bukan karena bentukan pribadi. Khilafah mencetak mereka dengan sistem terintegrasi tanpa campur tangan penjajah kafir. Dengan demikian, problem ketahanan ekonomi akan selesai dengan sistem ekonomi Islam. Penerapan syariat Islam dalam seluruh aspek kehidupan akan mewujudkan generasi muda peduli masyarakat. Hal ini dapat terbentuk hingga Islam menaungi dunia dari barat hingga timur dengan kerahmatannya.
Wallahu a'lam bishshowab.

No comments:
Post a Comment