Oleh : Syfa Putri
Cileunyi, Kab. Bandung
Manusia adalah makhluk yang terbatas. Terbatas pemikirannya dan kemampuannya. Akan tetapi sebagian manusia kadang berani lancang, merasa tahu hakikat yang baik dan yang buruk bagi dirinya. Bahkan merasa lebih tahu dari Allah SWT. Padahal pada hakikatnya, yang baik menurut manusia belum tentu baik menurut Allah, seperti firman Allah SWT.
...Boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagi kalian. Boleh jadi pula kalian menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagi kalian. Allah mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui (TQS al Baqarah [2]:216)
Dengan demikian apa saja yang Allah berikan untuk manusia didunia ini berupa syariah-Nya pasti baik untuk manusia dan kehidupan. Yang harus dilakukan oleh manusia tidak lain adalah menaati perintahnya dengan sempurna. Akan tetapi hal ini tidak mudah untuk direalisasikan dalam kondisi sekularisme-kapitalisme, dimana kebijakan disandarkan pada akal manusia yang terbatas dan hawa nafsu demi kepentingan sang pemilik modal dan orang asing yang sebenarnya mereka membenci Islam.
Seperti yang sekarang terjadi, muncul gagasan agar pelajaran agama dihilangkan dari ajaran di sekolah. Mereka beranggapan ajaran agama Islam sebagai pemicu radikalisme, perpecahan, dsb.
Padahal radikalisme bukanlah persoalan inheren dalam Islam. Isu atau tuduhan radikalisme lebih merupakan framing dari pihak luar untuk menyudutkan Islam atau menghalangi geliat umat Islam dan kebangkitan mereka. Bisa diduga, tujuan akhir dari isu radikalisme itu untuk makin menjauhkan Islam dari kehidupan. Dengan itu, Islam dan umat Islam tidak menghalang-halangi agenda liberalisme dan penjajahan Barat.
Tuduhan Islam menjadi penyebab perpecahan dan persoalan juga hanya sekedar tuduhan tanpa bukti. Kekisruhan politik yang ada tidak pernah terbukti disebabkan oleh Islam.
Jelas, gagasan untuk menghapus pelajaran agama dari kurikulum sekolah hanya akan menambah dan memperparah kerusakan. Ada pelajaran agama saja, banyak terjadi problem di masyarakat, khususnya dikalangan pelajar. Apalagi jika pelajaran dihapus. Lebih dari itu, untuk menyelesaikan aneka problem dan memperbaiki kehidupan masyarakat, yang harus dilakukan justru kembali pada jalan Islam, yaitu dengan menerapkan syariah Islam secara kaffah. Inilah sesungguhnya yang menjadi kewajiban dan tanggung jawab umat Islam yang harus segera diwujudkan di tengah-tengah kehidupan.[]
Wallahu a'lam bi ash-shawab.