Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Agar literasi Menjadi Suatu Kebutuhan

Friday, July 05, 2019 | Friday, July 05, 2019 WIB
Oleh: Aniyatul Ain, S.Pd
(Pendidik)

Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 39 Tahun 2004, setiap tanggal 29 Juni diperingati sebagai Hari Keluarga Nasional (Harganas). Puncak peringatan Hari Keluarga Nasional  tahun ini akan digelar di Banjarbaru, Kalimantan Selatan dengan mengangkat tema “Hari Keluarga, Hari Kita Semua” dengan slogan ‘Cinta Keluarga, Cinta Terencana’. Momentum Harganas merupakan upaya meningkatkan kesadaran dan peran masyarakat terhadap pentingnya pelibatan keluarga di segala bidang, terutama pendidikan. Karena pendidikan adalah modal penting dalam membentuk sumber daya manusia Indonesia. 

Hal ini pun sejalan dengan Permendikbud Nomor 30 Tahun 2007. Disebutkan bahwa, keluarga memiliki peran strategis dalam mendukung penyelenggaraan pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Adapun tujuan pendidikan nasional itu sendiri dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 3, untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung-jawab. Dari sini nampak jelas, keluarga merupakan institusi terkecil di masyarakat yang memiliki peranan penting dalam menyukseskan tujuan pendidikan. Keluarga bukan hanya tempat mengasuh dan berteduh, tapi juga tempat mencetak kader-kader generasi berkarakter. Tinggi adabnya, patuh pada Tuhannya (Allah), berdedikasi untuk masyarakat dan negara.

Masyarakat yang beradab, tingkat pemahamannya akan hidup tentulah mengakar. Tingkat pemahaman ini tidak mungkin didapat kecuali masyarakat itu sendiri sadar akan pentingnya literasi. Masyarakat yang berperadaban, menjadikan literasi bukan hanya sebagai budaya, tetapi juga kebutuhan. Lantas, siapa yang akan menjadi ujung tombak menggalakkan literasi sebagai kebutuhan, kalau bukan keluarga itu sendiri? Di titik inilah, peran keluarga teramat besar karena keluarga merupakan peletak dasar nilai-nilai kehidupan.  

Literasi menurut KBBI daring yaitu kemampuan menulis dan membaca, pengetahuan atau keterampilan dalam bidang atau aktivitas tertentu, kemampuan individu dalam mengolah informasi dan pengetahuan untuk kecakapan hidup. Jadi, literasi bukan hanya mampu baca dan tulis. Lebih dari itu, individu mampu dalam mengolah dan memahami informasi saat membaca dan menulis. Dalam Islam, literasi erat kaitannya dengan aktivitas menuntut ilmu yang hukumnya wajib bagi semua orang. Ini terbukti, pada 14 abad yang lalu, wahyu Allah yang turun pertama kali adalah seruan tentang iqra’ (membaca). Hal ini sebagaimana firman Allah SWT: ”Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Maha Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan qalam (pena). Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (TQS: Al-‘Alaq: 1-5).

Terkait ayat di atas, Ibnu Katsir dalam bukunya Tafsir Al-Quran Al-Azhim menjelaskan, bentuk kasih sayang Allah adalah Dia mengajarkan pada manusia apa yang tidak mereka ketahui. Hal ini diperkuat dengan sabda Nabi Muhammad SAW: “Ikatlah ilmu dengan tulisan.” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak). Jelaslah, seruan untuk membaca dan menulis adalah perintah Allah bukan dari manusia. Dari sini dapat dipahami bahwa literasi bukan sekadar budaya, tetapi tuntunan agama. Sehingga setiap keluarga pasti membutuhkannya. Ya, literasi itu kebutuhan bukan “gaya-gaya-an”. Karena dengan giat berliterasi, niscaya kebodohan akan terkikis dengan sendirinya. Wawasan semakin luas. Cakrawala berpikir semakin kokoh terukir. Tak kalah penting, dengan literasi manusia menyadari keberadaan dirinya di dunia adalah untuk menghamba pada Pencipta dan memberi manfaat sebesar-sebesarnya untuk umat. Ini modal berharga untuk membentuk peradaban yang besar lagi mulia. Bangsa yang besar adalah bangsa yang memfungsikan akal dengan maksimal. Bagaimana akal bisa tajam terasah? Sedangkan berliterasi saja tidak pernah? Maka dari itu, keluarga lah pion pertama pelaksana literasi di rumah-rumah. Dengan cara menyediakan bahan bacaan keluarga, membuat perpustakaan pribadi di rumah, menyediakan waktu bagi anak-anak untuk belajar  dan tukar pikiran bersama serta menggugah anak untuk senantiasa haus akan ilmu. 

Literasi juga erat kaitannya dengan penanaman budi pekerti. Hal ini yang mendasari adanya Gerakan Literasi Nasional yang digagas Kemendikbud sejak tahun 2006. Harapannya, tentulah generasi penerus negeri, tinggi budi pekerti. Apalah artinya otak pintar, jika budi pekerti nol besar. Oleh karenanya, setiap keluarga tidak boleh terbawa “euforia” berliterasi tanpa memperhatikan konten/isi. Ya, isi bacaan pun penting untuk kita perhatikan. Karena berperilaku itu tergantung pemahaman. Adapun pemahaman tergantung dari isi bacaan. Dari sini, norma-norma agama mutlak dibutuhkan jangan sampai dipisahkan dari kehidupan. Rambu-rambu syariat tetap dipegang erat agar selamat. Jangan sampai, nilai-nilai akhlak terkikis oleh pandangan hidup “liberalis”. 

Kita tidak boleh lupa, negeri ini pernah dihebohkan oleh seorang remaja, yang didaulat menjadi pembicara, di suatu diskusi bertema “Dunia Literasi Kita” di Jakarta tertanggal 5 Juni 2017. Remaja yang dikenal giat berliterasi ini, di akun pribadinya menulis pandangannya, yang menyamakan harga diri seorang perempuan dengan merk tas terkenal (Hermes) dan Apple Inc. Seolah ia mengamini, tindakan “mengobral tubuh” tersangka prostitusi online VA, yang dihargai 80 juta dan disaat bersamaan ia pun mengganggap murahan seorang istri yang diberi 10 juta per bulan tapi merangkap berbagai pekerjaan: menjadi koki, “tukang” bersih-bersih, babysitter. Saat itu, media sedang ramai memberitakan kasus prostitusi online yang menjerat artis. Sungguh, hal ini sangat memprihatinkan. Aktivitas istri sah di rumah yang bernilai ibadah, disamakan dengan aktivitas perempuan penjaja seks. Dari sini kita bisa ambil pelajaran, literasi itu penting tetapi memperhatikan konten literasi juga tidak kalah penting. Agar tidak keliru dalam berpikir, berpendapat dan berperilaku. Inilah sejatinya hakikat literasi itu.

Maka dari itu, saatnya menjadikan momentum Harganas ini sebagai penguat cinta kita kepada keluarga. Bukan hanya di tanggal 29 Juni saja, tapi setiap hari adalah hari bersama penuh cinta dengan keluarga. Keluarga yang berfungsi sebagai benteng pertahanan dan pencetak generasi idaman. Generasi yang tidak hanya memikirkan dirinya di masa yang akan datang, tetapi nasib negara yang lebih dahulu ia pikirkan. Generasi seperti ini terlahir dari orang tua yang sadar literasi. Orang tua yang menjadikan literasi sebagai kebutuhan, seperti butuhnya makan dan minum dalam keseharian. Karena literasi erat kaitannya dengan menuntut ilmu, sebuah kewajiban yang memudahkan pelakunya menuju surganya Allah. “Barang siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim No. 2699)
×
Berita Terbaru Update