Oleh : Novia Roziah
Blogger dan Member Revowriter
Masih hangat dalam ingatan. Pernyataan Rocky Gerung dalam acara Indonesia Lawyers Club (ILC) Januari 2017 lalu saat membahas tema Hoax. Rocky Gerung menilai bahwa pembuat berita bohong terbaik adalah penguasa. Alasannya, karena penguasa memiliki seluruh peralatan untuk berbohong. “ Intelijen punya, begitupun data statistik dan media. Itu faktanya. Hanya pemerintah yang mampu berbohong secara sempurna," kata Rocky. Republika.co.id
Seperti baru-baru ini. Sebuah hoax kembali di gulirkan. Saat berkampanye di hadapan pendukungnya di Surabaya. Petahana menggunakan istilah Propaganda Rusia untuk menuding lawan politiknya melakukan fitnah dan penipuan. "Problemnya adalah ada tim sukses yang menyiapkan Propaganda Rusia! Yang setiap saat mengeluarkan semburan- semburan dusta, semburan hoax, ini yang perlu segera diluruskan Bapak-Ibu sebagai intelektual," ujar Jokowi dalam deklarasi Forum Alumni Jawa Timur di Tugu Pahlawan, Kota Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (2/2). Detiknews.com
Tuduhan petahana ditanggapi oleh Kedubes Rusia. Duta Besar Rusia untuk Indonesia Lyudmila Verobieva menyatakan tak terima dengan penggunaan istilah “Propaganda Rusia” yang disebut calon presiden inkumben Joko Widodo. Lyudmila menjelaskan, istilah “Propaganda Rusia” direkayasa pada 2016 di Amerika Serikat dalam rangka kampanye pemilu presiden. Istilah tersebut, ujar dia, sama sekali tidak berdasar pada realitas. Tempo.co.id
Menyadari hal itu Jokowi kemudian menjelaskan bahwa istilah “Propaganda Rusia” itu dia dapatkan dari sebuah artikel di jurnal RAND Corporation. Lembaga kajian global yang berbasis di Santa Monica, California itu dalam salah satu jurnalnya pernah menurunkan artikel “The Russian “Firehouse of Falsehood” Propaganda model Why it Might Work and Option to Counter it”.
Bersama dengan tuduhan ini, serentak disebarkan pula isu rasisme, agama, ultra nasionalisme oleh kubu pendukung petahana. Hal ini sengaja terus menerus dihembuskan dan dibakar. Ujung narasi dari isu ini adalah Indonesia bisa terpecah belah seperti di Iraq dan Suriah. Sebuah wacana yang tak kalah menakutkan. Menurut Hersubeno Arief, salah satu pemerhati ruang publik, "ada upaya name calling. Sebuah strategi propaganda memberi nama buruk. Tujuannya agar publik menolak apapun yang disampaikan oleh pihak prabowo-sandi, tanpa lebih dulu mengecek faktanya”. Rmol.com
Perang berita palsu terus terjadi. Selain hoax yang dikeluarkan kubu petahana. Hoax juga di lancarkan oleh kubu oposisi. Melalui akun pribadinya, @AndiArief. Andi berkicau “mohon dicek kabarnya ada 7 kontainer surat suara yang sudah di coblos di Tanjung Priok. Supaya tidak fitnah harap di cek kebenarannya karena ini kabar sudah beredar”. Kicauan Andi ini dibuat pada pukul 20.05, Rabu (2/1). Namun demikian, saat ini kicauan tersebut telah hilang karena dihapus. Kompas.com
Kicauan politikus Demokrat ini ditanggapi politikus PDI perjuangan, Raymond Dony Adam, "semakin mendekati pemilu, akan semakin banyak pihak yang menghalalkan segala cara. Salah satunya dengan menyebarkan hoax. Ini yang harus kita lawan bersama demi tercapainya pemilu yang jurdil dan beradab," ujarnya.
Berbohong Tabiat Sistem Sekuler
Fenomena hoax yang terjadi di tengah masyarakat akan sering kita jumpai. Karena pada dasarnya, berita bohong atau hoax malah dijadikan starategi untuk memperoleh keinginan pihak-pihak tertentu. Maka tidak heran, dua kubu yang sedang bertarung memperebutkan kursi kekuasaan, akan saling mengeluarkan jurus berita bohong. Tujuannya untuk saling menjatuhkan kredibilitas lawan.
Dalam sistem yang menganggap agama hanya berlaku pada ranah individu saja ini, tidak dikenal istilah halal haram. Semua cara dianggap halal dilakukan, selama itu dapat mewujudkan kepentingannya. Termasuk menyebarkan berita bohong/hoax.
Meski berlawanan dengan hati nurani dan dianggap perkara yang tidak pantas, pasti akan dilakukan. Selama hal tersebut mampu mendongkrak elektabilitas kelompoknya dan bisa menjatuhkan kredibilitas lawan politiknya. Sehingga, tidak aneh jika kita temui sikap saling tuduh, saling klaim dari kedua belah pihak yang justru akan semakin menunjukkan betapa permainan politik menjadi tidak bersih.
Pandangan Islam Tentang Hoax
Dalam Islam berbohong adalah keharaman. Berbohong atau berdusta, sesungguhnya tidak akan dilakukan kecuali oleh orang-orang kafir. Sebagaimana Allah Ta’ala jabarkan dalam firman Nya,
إِنَّمَا يَفْتَرِي الْكَذِبَ الَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِ اللّهِ وَأُوْلـئِكَ هُمُ الْكَاذِبُونَ
“Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta” (TQS. An-Nahl [16]: 105).
Memang sulit untuk menerapkan kejujuran di dalam sistem yang justru memfasilitasi kebohongan. Ibarat menegakkan benang basah. Tidak mungkin kekuasaan diperoleh dengan cara yang diridhoi oleh Allah jika tetap menggunakan sistem warisan penjajah. Satu-satunya cara untuk memperoleh kekuasaan sesuai dengan syariat Allah hanya dengan menerapkan sistem Islam dalam segala lini.
Wallahua’lam bishhowab
