Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Metamorfosis dan Ketakwaan

Monday, June 17, 2019 | Monday, June 17, 2019 WIB
Oleh : Uqie Naima 
(Alumni BFW 212)

Bulan suci nan mulia telah berlalu. Masa-masa penempaan diri dan ketakwaan teruji di bulan tersebut. Ibarat ulat yang bermetamorfosis menjadi kupu-kupu, berubah bentuknya dan terlihat lebih indah, pun  halnya kaum Muslim yang menjalankan ibadah shaumnya di bulan Ramadhan. Akankah kepribadiannya, aqliyahnya serta aktivitasnya mengalami metamorfosis seperti ulat?

Idealnya, sebulan penuh ditempa selama Ramadhan, setiap Muslim akan menjadi “sosok baru”.  Berbeda antara sebelum Ramadhan dan setelah Ramadhan. Pasca Ramadhan, ia akan semakin rajin beribadah (shalat sunnah, shaum sunnah, berzikir, taqarrub kepada Allah SWT, dll); makin banyak bersedekah, makin bagus akhlaknya, makin semangat thalabul ilminya, makin kuat terikat hukum syara’nya, giat dakwahnya, istiqamah amar makruf nahyi munkarnya; dan seterusnya. Singkatnya, ia semakin bertakwa kepada Allah SWT, sebagaimana maksud yang terkandung dalam al-Qur’an, surat Al-Baqarah ayat 183.

Di samping ayat di atas, al-Qur’an banyak mengungkap tanda atau ciri orang-orang yang bertakwa. Di antaranya dinyatakan dalam QS. Al-Baqarah ayat 3-5. Demikian juga dalam al-Hadits dan pernyataan para Shahabat dan ulama dari generasi salafus-shalih. Menurut al-Hasan misalnya, “orang yang bertakwa memiliki sejumlah tanda yang dapat diketahui. Di antaranya, jujur dalam berbicara; selalu memenuhi janji; rendah hati dan tidak sombong; senantiasa memelihara silaturahmi, menyayangi orang lemah/miskin; memelihara diri dari kaum wanita; berakhlak mulia; memilki ilmu yang luas dan senantiasa bertaqarrub kepada Allah.” (Ibn Abi ad Dunya, Al Hilm, I/32).

Berkenaan dengan takwa, baginda Rasul Saw. pernah bersabda kepada Muadz bin Jabal ra. saat beliau mengutusnya ke Yaman :
“Betakwalah engkau kepada Allah dimanapun dan kapanpun, dalam keadaan bagaimanapun... (HR. At Tirmidzi).

Sabda Rasulullah di atas memberikan makna yang mendalam terkait takwa. Sejatinya bertakwa itu harus dilakukan tidak saja saat Ramadhan tapi juga di luar Ramadhan selama sebelas bulan berikutnya. Namun demikian, tak bisa dipungkiri ada hal yang sulit untuk kita pertahankan, yakni keteguhan (istiqamah) dalam ketakwaan kepada Allah SWT. 

Fakta bahwa ruh keimanan meningkat dan terasa kondusif saat Ramadhan tidak lagi akan dirasakan saat Ramadhan berlalu. Kaum Muslim di seluruh penjuru dunia bergembira menyambut dan menjalankan aktivitas ibadah di bulan Ramadhan, bukan hanya shaum. Keutamaan dan pahalanya senantiasa tertanam kuat dalam benak kaum Muslim. Kebersamaan dalam suasana keimanan terpancar saat bertadarus, tarawih, sahur, berbuka dll seakan memberi warna tersendiri. Indah nan syahdu. Betapa banyak kaum Muslim selama ramadhan berusaha shalat tepat waktu, khusyuk, selalu  berjamaah di masjid. Banyak membaca, mengkaji dan mengamalkan al-Quran. Muslimah berusaha menutup aurat dan berjilbab syar’i. Banyak melakukan shalat malam, berzikir, berhenti dari maksiat dan lain sebagainya. Kini, setelah bulan mulia itu meninggalkan kita, aktivitas ketakwaan mulai kembali kabur, berbaur dan bercampur dengan situasi yang menggoyahkan keistiqamahan. Kadar keimanan seolah berkurang, shalatnya kembali bolong-bolong, tilawah jarang-jarang, aurat terumbar, dosa dan maksiat didekati serta dilakoni kembali.

Benarlah kiranya apa yang disampaikan oleh Imam al-Qusyairi bahwa istiqamah itu hanya bisa dilakukan oleh orang-orang besar. Pasalnya, istiqamah itu menyimpang dari kebiasaan, menyalahi adat, kebiasaan sehari-hari, teguh di hadapan Allah dengan kesungguhan dan kejujuran.

Istiqamah dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganNya dalam situasi dan kondisi saat ini tentulah  berat. Berbagai faktor baik internal maupun eksternal, baik secara individu, masyarakat maupun negara memiliki andil apakah istiqamah akan terwujud ataukah tidak. Pribadi-pribadi indah, sholeh, berakhlakul karimah hasil gemblengan Ramadhan akan tetap bertahan meski berbagai faktor tersebut senantiasa menggoda. Kuncinya, dengan terus melanjutkan amalan sholeh; terikat dengan hukum dan aturan Allah; lebih giat berdakwah; selalu memohon ampunan kepada Allah setiapkali melakukan kesalahan dengan taubatan nashuha; bergaul dan berkumpul bersama orang-orang yang bertakwa agar terbentuk ketakwaan secara kolektif.

Poin “ketakwaan kolektif” hanya mungkin terwujud di tengah-tengah masyarakat yang berupaya menerapkan Islam secara menyeluruh (kaffah), karena kenyataannya Islam dan ajarannya  belum sepenuhnya terlaksana dengan totalitas. Ajaran Islam yang berkaitan dengan level pribadi memang bisa dilaksanakan seperti shalat, puasa, haji, makanan, minuman, pakaian dan sebagian muamalah. Namun, masih banyak hukum dan ajaran Islam di luar hal itu belum terlaksana. Politik dalam negeri, pemerintahan, ekonomi, sosial, hukum-hukum yang berkaitan dengan masalah publik adalah sebagian contohnya. Padahal semua hukum itu sama. Bersumber dari ajaran Islam. Perintah Allah Swt yang harus dijalankan oleh manusia. Maka, bagaimana mungkin ketakwaan itu akan terwujud sementara aturan dan hukum Allah masih banyak ditinggalkan?

Dengan demikian, solusi satu-satunya meraih ketakwaan individu maupun kolektif tersebut adalah dengan memperjuangkan diterapkannya Syariat Islam secara total dan menyeluruh dalam semua aspek kehidupan. Dalam ranah ibadah mahdhah maupun ghair mahdhah. Semuanya adalah perintah Allah SWT, baik perintah untuk dilaksanakan maupun perintah untuk ditinggalkan. Perjuangan kearah itu adalah wajib, harus dilakukan dengan sekuat tenaga hingga kepemimpinan Islam terwujud dalam sebuah Institusi penerap aturan Allah dan RasulNya yang disebut Khilafah dengan sosok pemimpinnya seorang Khalifah. Tidak ada yang lain.
Wallahu a’lam bi ash-shawab.
×
Berita Terbaru Update