Oleh Amkayus 
Guru SMPN 4 Tanasitolo
Selaku pemerhati pendidikan, kita tentu terusik dengan rilis beberapa data survei yang dilansir dan dipublikasikan secara internasional tentang rendahnya kompetensi literasi di Indonesia. Data survei tersebut, antara lain PISA (Programmme for International Student Assessment) (2015) menyebutkan, kemampuan membaca siswa di Indonesia menduduki urutan ke 69 dari 76 negara yang disurvei. (baca: suaramerdeka.com). Data statistik UNESCO (2012) juga menyebutkan indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001. Artinya, dari 1.000 penduduk, hanya satu warga yang tertarik untuk membaca. Menurut indeks UNESCO, Indonesia berada di urutan 69 dari 127 negara. Angka ini tentu sangat menyedihkan. Keprihatinan kita makin bertambah jika melihat data United Nations Development Program (UNDP) yang menyebutkan angka melek huruf orang dewasa di Indonesia hanya 65,5 %. (baca: republika.co.id)
Berbagai faktor ditengarai sebagai penyebab rendahnya keterampilan literasi, namun kebiasaan membaca dianggap sebagai faktor utama dan mendasar. Padahal, salah satu upaya peningkatan mutu sumber daya manusia agar cepat menyesuaikan diri dengan perkembangan global yang meliputi berbagai aspek kehidupan manusia adalah dengan menumbuhkan masyarakat yang gemar membaca. Kenyataannya masyarakat masih menganggap aktifitas membaca untuk menghabiskan waktu, bukan mengisi waktu dengan sengaja. Artinya aktifitas membaca belum menjadi kebiasaan tapi lebih kepada kegiatan ’iseng’.
Menyadari hal tersebut, maka tidak ada tindakan lain yang harus dilakukan kecuali melakukan perbaikan citra melalui program Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Program GLS tentu bukanlah sekadar kata atau kalimat slogan yang terpampang di sekolah, melainkan suatu tindakan nyata yang dapat diamati dan diukur progresnya. Program GLS juga bukan aturan yang berorinetasi pada peserta didik semata, melainkan seluruh warga sekolah terlibat aktif dan saling berkolaborasi untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang warganya literat sepanjang hayat.

Mendesain Lingkungan Sekolah yang Ramah Literasi
Lingkungan sekolah merupakan adalah hal pertama yang dilihat dan dirasakan warga sekolah. Oleh karena itu, penataan lingkungan sekolah dengan menyediakan sarana literasi yang mampu mengakomodasi seluruh warga sekolah. Kondisi objektif menunjukkan bahwa warga sekolah (terutama siswa) memiliki gaya belajar (membaca) yang multiteknis. Ditinjau berdasarkan tempatnya, sebagian siswa senang membaca di ruang terbuka daripada di ruang tertutup. Demikian juga suasananya, sebagian senang dengan suasana hening, sebagian lagi senang dengan suasana riang. Mencermati kondisi keberagaman tersebut maka stakeholder sekolah wajib melakukan penataan lingkungan sekolah yang berbasis literasi dengan cara  membangun sarana literasi di tempat-tempat yang strategis, ramah, dan kondusif. Dengan demikian, warga sekolah dengan mudah dan nyaman melakukan aktivitas literasi. Ketersediaan sarana literasi baik dalam ruangan seperti perpustakaan sekolah, sudut baca di setiap ruang kelas, maupun di luar ruangan, seperti koridor baca, taman baca, pondok baca merupakan daya dukung untuk mendekatkan warga sekolah dengan aktivitas literasi tanpa batas waktu dan ruang.
Selain sarana bangunan, hal yang tak kalah pentingnya adalah penyediaan bahan bacaan. Ragam bahan bacaan yang bisa ditempatkan di sarana literasi ini tidak hanya buku-buku cetak saja, namun bisa berupa kumpulan laporan kegiatan siswa, benda-benda lingkungan, pajangan kelas yang berkaitan dengan buku pelajaran, buku cerita, komik, kliping maupun laporan tugas, dan hasil kerja siswa dalam melakukan kegiatan praktikum, serta benda-benda yang merupakan hasil karya siswa.

Mendesain Aktivitas Berbasis Literasi
Tindak lanjut dari tersedianya sarana dan prasarana literasi di lingkungan sekolah (baik dalam kelas maupun di luar kelas) adalah menyusun program aktivitas literasi. Stakeholder sekolah melakukan aktivitas literasi, melalui kegiatan pembiasaan membaca yang berkesinambungan. Pembiasaan adalah perbuatan yang dilakukan secara berulang-ulang tanpa adanya unsur paksaan. Pembiasaan bukanlah sesuatu yang alamiah dalam diri manusia tetapi merupakan hasil proses belajar dan pengaruh pengalaman dan keadaan lingkungan sekitar. Karena itu kebiasaan dapat dibina dan ditumbuhkembangkan.
Kondisi real yang masih sering dan banyak ditemukan di sekolah ada dua. Pertama, adalah metode pembelajaran yang diterapkan belummemaksa siswa untuk berpikir kritis. Guru masih menjadi sumber utama infomrasi, padahal kompetensi guru sendiri masih perlu ditingkatkan. Oleh karena itu, aktivitas pembelajaran perlu diintegrasikan dengan kegiatan literasi. Kreativitas guru dalam mengitegrasikan aktivitas literasi dalam proses pembelajaran sangat berpengaruh dalam dan pengembangan kemampuan literasi siswa. Kedua adalah mindset  sebagian guru, menganggap bahwa aktivitas literasi adalah tugas dan tanggung jawab guru bahasa. Padahal kegiatan literasi merupakan “pondasi” untuk membangun skemata siswa pada semua mata pelajaran.
Mecermati kedua kondisi tersebut, perlu pemikiran yang konstruktif untuk mendesain aktivitas warga sekolah berbasis literasi baik melalui kegiatan intrakurikuler maupun ekstrakurikuler. Kegiatan intrakurikuler dilakukan dengan berbagai cara, antara lain mengembangkan kurikulum berbasis literasi. Karakteristik dasar kurikulum berbasis literasi dapat diamati secara administrasi dan implementasi. Secara administrasi, sekolah mengalokasikan waktu khusus budaya baca dalam roster pembelajaran yang ekuivalen dengan mata pelajaran. Implementasinya adalah setiap pekan, seluruh warga sekolah terlibat dalam budaya membaca selama 2 jam pelajaran. Selain itu, sekolah juga dapat mengembangkan lintas literasi antarmata pelajaran, yaitu aktivitas pembelajaran setiap mata pelajaran selalu terintegrasi dengan kegiatan literasi (terutama membaca). Untuk kegiatan ekstrakurikuler, sekolah dapat mengembangkan ativitas literasi melalui organisasi kesiswaan. Misalnya, KIR (Kelompok Ilmiah Remaja).

Mendesain Komunitas Sosial yang Literat
Keberadaan siswa di sekolah, selain sebagai kelompok organisme sosial juga sebagai kelompok organisme intelektual (pencari ilmu pengetahuan). Ciri siswa sebagai organisme sosial dapat diamati melalui gejala kecenderungan siswa berkumpul dan bercengkerama sesama temannya dan ciri organisme intelektual ditandai dengan aktivitas belajar. Kedua gejala tersebut merupakan daya dukung terbentuknya komunitas sosial yang literat di lingkungan sekolah.
Komunitas literat tidak mesti lahir di ruang kelas dan dalam konteks yang formal, misalnya pelatihan atau seminar. Komunitas literat bisa saja lahir dan berkembang di ruang terbuka dan dalam suasana santai. Secara teknis, desain komunitas literat dapat diawali dengan tahap pemetaan, yaitu sekolah melakukan pemetaaan terhadap bakat dan minat siswa. Hasil pemetaan tersebut kemudian dijadikan sebagai kelompok sosial. Misalnya, seluruh siswa yang gemar bermain sepak bola dikumpulkan dan dibentuk menjadi “kelompok literat sepak bola”. Tahap selanjutnya adalah sekolah memfasilitasi kelompok tersebut dengan menyediakan buku bacaan yang berkaitan dengan sepak bola. Buku tersebut disimpan di sudut baca kelas dan dibaca pada saat jadwal budaya baca atau waktu-waktu senggang. Selain aktivitas membaca, kelompok ini juga difasilitasi dan dibimbing untuk melakukan kajian terhadap hasil bacaannya misalnya dalam bentuk diskusi atau bedah buku. Tujuan aktivitas kajian ini adalah membelajarkan siswa berpikir kritis terhadap informasi yang didapat baik melalui bahan bacaan maupun gejala faktual di lapangan (dilihat atau didengar) tentang “sepak bola”. Dengan demikian, diharapkan akan lahir komunitas siswa yang memiliki skemata sepak bola yang memadai.  Contoh pembentukan kelompok sosial sepak bola ini hanyalah salah satu contoh pembentukan komunitas sosial yang literat. Tentu saja sekolah dalam mengembangkan dengan pemertaan bakat dan minat lain, seperti komunitas literat pencinta mata pelajaran, misalnya, komunitas matematika.     
Pada dasarnya, kepekaan dan daya kritis pihak stakeholder sekolah terhadap gejala, perkembangan, dan tuntutan  pembelajaran abad 21, menjadi “cambuk” untuk mendesain lingkungan aktivitas, dan komunitas  yang berbasis literasi di sekolah sehingga warga sekolah melek informasi dan memiliki  ilmu pengetahuan yang komprehensif sebagi cikal generasi emas di tahun 2045. 
 
Top