Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kecanggihan AI, Antara Harapan dan Kekhawatiran

Friday, October 09, 2026 | October 09, 2026 WIB Last Updated 2026-10-09T09:41:14Z

                       Oleh Rosmita 
               Aktivis Dakwah Islam


Dunia teknologi kembali digemparkan oleh peringatan dari para penciptanya sendiri. Para peneliti kecerdasan buatan terkemuka, termasuk sosok yang dijuluki "Bapak AI" dunia, menerbitkan riset terbaru yang mewanti-wanti pemerintah seluruh dunia untuk bersiap menghadapi fase yang mereka sebut sebagai "ledakan kecerdasan" atau intelligence explosion.

Peringatan ini bukan isapan jempol. AI yang awalnya diciptakan untuk membantu manusia kini berkembang dengan kecepatan eksponensial. Jika dulu AI hanya mampu mengenali gambar, kini ia mampu menulis, mendiagnosis penyakit, menciptakan video palsu yang sangat mirip asli, bahkan merancang strategi militer. Kemajuan ini menimbulkan dua perasaan yang bertolak belakang: harapan besar akan kemaslahatan, dan kekhawatiran mendalam akan kehancuran.

Ledakan Kecerdasan di Depan Mata

Riset yang diterbitkan pada September 2026 oleh para pakar AI menegaskan bahwa ledakan kecerdasan AI bukan lagi fiksi ilmiah. Pemicunya adalah kemampuan AI untuk memperbaiki dirinya sendiri dan menciptakan AI yang lebih cerdas dari dirinya. Ketika itu terjadi, kecerdasan AI akan melampaui kecerdasan kolektif manusia dalam waktu yang sangat singkat. Pemerintah di berbagai negara dinilai masih tertinggal jauh dalam membuat regulasi untuk mengendalikan ini.

Para peneliti jujur mengakui ada dua sisi mata uang. Di satu sisi, AI membawa dampak positif yang luar biasa. Dalam bidang medis, AI mampu membaca hasil radiologi dan mendeteksi kanker lebih cepat dan akurat dari dokter. Dalam bidang keuangan, AI membantu analisis risiko. Dalam teknologi, AI mempercepat penemuan material dan energi baru.

Namun di sisi lain, riset yang sama menggarisbawahi tiga risiko eksistensial dari ledakan kecerdasan ini. Pertama, ancaman biologis dan siber. AI bisa digunakan untuk merancang senjata biologi baru atau melancarkan serangan siber yang melumpuhkan infrastruktur vital sebuah negara. Kedua, hilangnya kendali dan keterlibatan manusia. Para pakar khawatir AI yang super cerdas tidak lagi bisa dikendalikan dan mengambil keputusan sendiri yang bertentangan dengan kepentingan manusia. Ketiga, ancaman perang antarnegara. Perlombaan menguasai AI super cerdas bisa memicu perang teknologi dan bahkan perang fisik demi menjadi yang pertama menguasainya.

Kekhawatiran bahwa kawanan AI bisa merebut internet dan senjata manipulasi informasi melalui deepfake juga telah menjadi nyata. AI semakin manusia dan semakin sulit dikendalikan. 

Kemudahan yang Berbalut Bahaya

Perkembangan teknologi AI pada dasarnya memberikan kemudahan sekaligus menimbulkan bahaya bagi manusia. Ini adalah sunnatullah dari sebuah alat. Pisau bisa digunakan untuk memotong buah dan menyelamatkan nyawa dalam operasi, tapi juga bisa digunakan untuk membunuh.

Begitu pula penggunaan AI bisa untuk kebaikan, tapi juga sangat mungkin digunakan untuk kejahatan. AI di tangan dokter akan membantu menyembuhkan pasien. AI yang sama di tangan penjahat bisa digunakan untuk menipu lansia dengan suara tiruan anaknya, atau menyebar hoaks untuk memecah belah umat.

Ketika ledakan kecerdasan buatan tidak dikendalikan oleh akidah dan syariat Islam bisa beresiko pada kehancuran kehidupan manusia. Teknologi tidak pernah netral sepenuhnya. Ia selalu dikendalikan oleh ideologi di baliknya. Ketika AI yang super cerdas berada di tangan kapitalisme yang hanya mengejar profit, maka ia akan digunakan untuk eksploitasi. Ketika di tangan negara sekuler yang haus kekuasaan, ia akan menjadi alat penjajahan dan perang.

Akar Masalah dan Konstruksi Islam Terhadap Teknologi

Untuk memahami posisi AI, Islam memiliki kerangka berpikir yang sangat jernih.

Manusia diberikan kemuliaan akal oleh Allah SWT untuk memahami tanda-tanda kekuasaan Allah dan menjadi khalifah di muka bumi. Akal adalah alat untuk berpikir, berinovasi, dan mengelola bumi sesuai perintah Allah.

Allah SWT berfirman: "Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir." (QS. Al-Jatsiyah: 13)

AI adalah produk dari akal tersebut. Islam sangat mendorong umatnya untuk berinovasi dan menguasai sains. Masalahnya bukan pada kecerdasan buatannya, tapi pada siapa yang mengendalikannya dan untuk tujuan apa.

Islam menetapkan hukum yang tegas membedakan hasil pemikiran manusia menjadi dua: hadharah dan madaniyah. Madaniyah adalah produk fisik dan teknologi yang netral, seperti mikroskop, pesawat, atau komputer. Hukum asalnya mubah dan boleh diadopsi.

Adapun hadharah adalah pandangan hidup, ideologi, dan pemikiran yang dipengaruhi oleh akidah tertentu. Contohnya kapitalisme, sekularisme, liberalisme. Hadharah yang bertentangan dengan Islam haram diambil.

AI adalah buah perkembangan teknologi buatan manusia yang unik. Dari sisi fisik dan algoritmanya, ia adalah madaniyah yang netral. Namun AI dipengaruhi oleh berbagai informasi, pemikiran, dan ideologi yang diproses menjadi satu keputusan. Data yang dimasukkan, tujuan yang ditetapkan, dan nilai yang ditanamkan pada AI berasal dari hadharah pembuatnya. Jika AI dilatih dengan data yang sekuler, liberal, dan mengejar keuntungan materi, maka keputusannya akan mencerminkan ideologi itu. 

Di sinilah letak perbedaan yang menentukan. AI di tangan manusia yang memiliki akidah yang kokoh dan ketundukan pada syariat akan memberikan kemaslahatan bagi manusia. Seorang ilmuwan muslim yang bertakwa akan menggunakan AI untuk mempercepat penemuan obat, membantu pertanian, mempermudah pendidikan Islam, dan memperkuat pertahanan kaum muslimin dari musuh. Ia akan mengikatkan penggunaan AI dengan halal haram.

Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya Allah mencintai jika salah seorang di antara kalian melakukan suatu pekerjaan, ia melakukannya dengan itqan (profesional dan sempurna)." (HR. Baihaqi)

Sebaliknya, AI di tangan manusia kafir, manusia yang tidak memiliki akidah Islam dan tidak tunduk pada syariat, akan mendatangkan bahaya dan kerusakan. Sejarah telah membuktikannya. Teknologi nuklir yang seharusnya untuk energi, dijadikan bom untuk menghancurkan Hiroshima dan Nagasaki. Teknologi internet yang untuk komunikasi, dijadikan alat pornografi dan penipuan global. AI super cerdas akan mengalami nasib yang sama jika tetap berada dalam sistem kapitalisme sekuler.

Butuh Sistem Kehidupan yang Selamat

Sistem kehidupan manusia harus diatur dengan syariat Islam agar selamat. Ketakutan para Bapak AI terhadap ledakan kecerdasan mereka sendiri adalah bukti kegagalan sistem sekuler dalam mengendalikan teknologi. Mereka menciptakan monster, tapi mereka tidak punya panduan moral yang kuat untuk mengendalikannya.

Peringatan mereka hanya berbunyi "pemerintah harus bersiap", tapi mereka tidak punya jawaban harus bersiap dengan cara apa. Kapitalisme hanya akan menjawab dengan regulasi yang bisa dibeli oleh korporasi besar.

Islam datang dengan solusi akar. Teknologi harus berada di bawah kendali negara yang menerapkan syariat Islam secara kaffah, yaitu Khilafah. Khilafah akan memastikan riset AI diarahkan untuk kemaslahatan umat, bukan untuk keuntungan segelintir korporat. Khilafah akan menetapkan batasan syar'i yang tegas: haram menggunakan AI untuk mengembangkan senjata biologis untuk menyerang warga sipil, haram menggunakan AI untuk memanipulasi informasi dan menipu, haram menggunakan AI untuk melanggar kehormatan manusia.

Hanya ketika akal yang menciptakan AI itu sendiri tunduk kepada wahyu Allah, maka kecanggihan AI akan benar-benar menjadi harapan, bukan kekhawatiran yang berujung pada kehancuran kehidupan manusia. []
×
Berita Terbaru Update