Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Maulid,Momentum Ittiba Rasulullah SAW

Tuesday, September 15, 2026 | September 15, 2026 WIB Last Updated 2026-09-16T04:46:48Z




Oleh : Ummu Fatih (Pegiat Opini)

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H di Kabupaten Kolaka menjadi momentum bagi Pemerintah Kabupaten Kolaka untuk mengajak seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) meneladani sifat-sifat Rasulullah SAW dalam menjalankan tugas pemerintahan dan memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Peringatan tersebut dilaksanakan di Masjid Miftahul Janah Korpri pada Senin, 31 Agustus 2026. Kegiatan dihadiri Bupati Kolaka Amri, Sekretaris Daerah, unsur Forkopimda, para asisten, staf ahli, kepala OPD, camat, lurah, kepala desa, pejabat eselon III dan IV, alim ulama, tokoh agama, tokoh masyarakat, ASN, serta tenaga harian lepas di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kolaka.

Dalam sambutannya, Bupati Kolaka Amri menegaskan bahwa Maulid Nabi tidak semestinya berhenti sebagai kegiatan seremonial tahunan. Momentum tersebut perlu dijadikan sarana evaluasi dan penguatan komitmen spiritual aparatur dalam menjalankan tugas pemerintahan serta memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Bupati menekankan empat sifat Rasulullah SAW yang dinilai relevan diterapkan dalam penyelenggaraan pemerintahan, yakni ṣiddiq, amanah, tabligh, dan Fathanah.

Sifat ṣiddiq diwujudkan melalui kejujuran dan integritas dalam menjalankan tugas. Amanah diwujudkan dengan melaksanakan tanggung jawab secara sungguh-sungguh. Tabligh diterapkan melalui komunikasi yang terbuka dan transparan. Adapun Fathanah dikaitkan dengan kecerdasan, profesionalisme, kemampuan beradaptasi, dan inovasi dalam memberikan pelayanan publik.

Nilai-nilai tersebut diharapkan menjadi inspirasi bagi ASN untuk membangun birokrasi yang berorientasi pada pelayanan dan sejalan dengan nilai dasar ASN Berakhlak. Aparatur juga dituntut memberikan pelayanan yang cepat, terbaik, dan berkeadilan serta menjauhi praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Selain persoalan integritas dan pelayanan publik, Maulid juga diharapkan menjadi momentum mempererat persatuan, toleransi, dan kerukunan masyarakat Kabupaten Kolaka. Sinergi pemerintah, ulama, tokoh agama, dan masyarakat dipandang penting untuk menciptakan suasana yang kondusif dan mendukung program pembangunan daerah.

Dengan demikian, pesan utama kegiatan tersebut adalah agar keteladanan Rasulullah SAW tidak hanya dipahami dalam kehidupan pribadi, tetapi juga menjadi landasan moral bagi ASN dalam menjalankan amanah pemerintahan dan memberikan pelayanan kepada masyarakat (buletinnews.com)

DALAM PERSPEKTIF KRITIS

1. Meneladani Rasulullah SAW Tidak Cukup dengan Akhlak Personal

Ajakan kepada ASN untuk meneladani Rasulullah SAW tentu merupakan sesuatu yang baik. Kejujuran, amanah, keterbukaan, kecerdasan, profesionalisme, dan keadilan memang merupakan nilai yang harus dimiliki setiap aparatur.

Namun, jika meneladani Rasulullah SAW hanya dimaknai sebatas menerapkan empat sifat tersebut dalam pekerjaan, makna ittiba kepada Rasulullah SAW menjadi terlalu sempit.

Keteladanan Rasulullah SAW bukan hanya dalam sifat pribadi, tetapi mencakup cara berpikir, tujuan hidup, akhlak, hubungan sosial, keluarga, pendidikan, dakwah, kepemimpinan, hingga kehidupan masyarakat.

Karena itu, persoalannya bukan hanya bagaimana ASN menjadi jujur dan amanah, tetapi bagaimana seluruh kaum Muslimin menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan dalam seluruh aspek kehidupan.

2. Keteladanan Rasulullah SAW adalah untuk Seluruh Kaum Muslimin

Meneladani Rasulullah SAW bukan hanya tuntutan bagi ASN, pejabat, atau pemimpin pemerintahan. Rasulullah SAW adalah uswah bagi seluruh kaum Muslimin.

Seorang ayah dan ibu meneladani Rasulullah SAW dalam membangun keluarga. Seorang pedagang meneladani beliau dalam kejujuran bermuamalah. Seorang guru meneladani beliau dalam mendidik. Seorang pemuda meneladani beliau dalam menjaga kehormatan dan ketaatan kepada Allah. Seorang tetangga meneladani beliau dalam menjaga hubungan sosial. Demikian pula seorang pemimpin meneladani beliau dalam menjalankan amanah kekuasaan.

Dengan demikian, Maulid seharusnya menjadi momentum bagi setiap Muslim untuk melakukan muhasabah yaitu sudah sejauh mana kehidupannya mengikuti Rasulullah SAW.

Jangan sampai kita hanya bertanya apakah ASN sudah meneladani Rasulullah SAW, sementara kaum Muslimin secara umum belum menjadikan tuntunan beliau sebagai pedoman dalam keluarga, pendidikan, ekonomi, kehidupan sosial, maupun urusan umat.

3. Keteladanan Rasulullah SAW Harus Terlihat dalam Amanah Kekuasaan

ASN memiliki posisi strategis karena berhubungan langsung dengan pelayanan masyarakat. Karena itu, amanah merupakan perkara penting.

Rasulullah SAW tidak mengajarkan bahwa jabatan adalah sarana memperoleh kehormatan atau keuntungan pribadi. Kekuasaan merupakan amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban.

Maka, ketika seorang pejabat atau ASN dikatakan telah meneladani Rasulullah SAW, ukurannya tidak cukup dari apakah ia ramah kepada masyarakat atau mampu berkomunikasi dengan baik.

Namun prinsip amanah ini tidak hanya berlaku bagi ASN. Setiap Muslim juga memiliki amanah sesuai kedudukan masing-masing. Orang tua memiliki amanah terhadap anak, guru terhadap murid, pedagang terhadap pembeli, dan pemimpin terhadap rakyat.

4. Rasulullah SAW Bukan Hanya Teladan dalam Kehidupan Pribadi

Rasulullah SAW adalah teladan sebagai seorang Muslim, kepala keluarga, anggota masyarakat, pendidik, dai, sekaligus pemimpin masyarakat dan kepala negara.

Beliau membina para sahabat, membangun masyarakat Madinah, menyelesaikan berbagai persoalan masyarakat, menegakkan keadilan, mengatur hubungan antarmasyarakat, mengurus berbagai kepentingan umat, dan memimpin pemerintahan.

Karena itu, jika keteladanan Rasulullah SAW hendak dijadikan pedoman dalam pemerintahan, keteladanan tersebut tidak semestinya dibatasi pada sifat ṣiddiq, amanah, tabligh, dan Fathanah sebagai karakter personal ASN.

Ada dimensi yang lebih luas, yaitu bagaimana Rasulullah SAW menjalankan kepemimpinan dan mengurus masyarakat.

5. Ittiba Rasulullah SAW Harus Menyentuh Kehidupan Individu dan Masyarakat

Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah dalam perkara ibadah ritual. Islam juga memberikan aturan mengenai keluarga, muamalah, pendidikan, kehidupan sosial, ekonomi, hukum, kepemimpinan, dan berbagai persoalan kehidupan manusia.

Rasulullah SAW tidak hanya mengajarkan bagaimana seseorang salat, berpuasa, dan berakhlak baik. Beliau juga membina masyarakat dan mengurus berbagai persoalan umat.

Karena itu, kaum Muslimin perlu memahami Islam sebagai pedoman kehidupan yang menyeluruh. Jangan sampai Islam hanya hadir dalam kegiatan ibadah dan seremoni keagamaan, sementara ketika berbicara tentang persoalan ekonomi, hukum, pendidikan, pemerintahan, sosial, dan persoalan umat, tuntunan Islam justru ditinggalkan.

6. Jangan Sampai Maulid Hanya Menghasilkan Slogan.

Maulid Nabi seharusnya menjadi momentum untuk kita benar-benar mengikuti Rasulullah SAW.
Sebab kecintaan kepada Rasulullah SAW tidak cukup hanya diucapkan. Kecintaan harus dibuktikan dengan ittiba.

Jika seseorang mengatakan mencintai Rasulullah SAW tetapi hanya mengambil ajaran yang sesuai dengan kehidupan pribadinya, sementara tuntunan beliau dalam kehidupan masyarakat diabaikan, maka keteladanan tersebut belum sempurna.

Karena itu, peringatan Maulid seharusnya menghasilkan perubahan nyata. ASN yang sebelumnya kurang disiplin menjadi lebih amanah. Pelayanan yang sebelumnya lambat menjadi lebih baik. Kebijakan yang tidak adil diperbaiki. Penyalahgunaan jabatan ditinggalkan.

Demikian pula masyarakat secara umum harus berubah: keluarga semakin taat, transaksi semakin jujur, pendidikan semakin Islami, ukhuwah semakin kuat, amar makruf nahi mungkar semakin hidup, dan kepedulian terhadap persoalan umat semakin tumbuh.

7. Persoalannya Bukan Sekadar Individu, tetapi Juga Sistem

Membangun ASN yang jujur tentu penting. Membangun individu Muslim yang bertakwa juga sangat penting. Tetapi membangun individu yang baik saja belum cukup untuk menyelesaikan seluruh persoalan masyarakat.

Sebab individu hidup dalam sebuah sistem. Ketika aturan, kebijakan, mekanisme ekonomi, hukum, dan pemerintahan tidak seluruhnya menjadikan wahyu Allah sebagai landasan, maka keteladanan individu menghadapi keterbatasan.

Karena itu, keteladanan Rasulullah SAW perlu dipahami secara menyeluruh. Rasulullah SAW membina individu sekaligus membangun masyarakat dan mengurus urusan umat.

Maka meneladani Rasulullah SAW secara menyeluruh berarti menjadikan Islam sebagai pedoman kehidupan, bukan sekadar menjadikannya sebagai sumber motivasi moral pada momentum tertentu.

 SOLUSI ISLAM

1. Menjadikan Rasulullah SAW sebagai Uswah Hasanah dalam Seluruh Kehidupan

Solusi pertama adalah menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan secara menyeluruh.

Allah SWT berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian.”
(QS. Al-Ahzab: 21)

Keteladanan tersebut tidak dibatasi pada satu bidang kehidupan.

Karena itu, ASN dapat meneladani Rasulullah SAW dalam kejujuran, amanah, kesabaran, kasih sayang, dan pelayanan. Orang tua meneladani beliau dalam mendidik keluarga. Pedagang meneladani beliau dalam kejujuran. Guru meneladani beliau dalam mendidik. Pemimpin meneladani beliau dalam mengurus rakyat.

Dengan demikian, keteladanan Rasulullah SAW menjadi tanggung jawab seluruh kaum Muslimin.

2. Menjadikan Amanah sebagai Landasan Setiap Tanggung Jawab

Allah SWT berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا

“Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.”
(QS. An-Nisa’: 58)

Rasulullah SAW juga bersabda:

الإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang diurusnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Jabatan adalah amanah. Demikian pula setiap tanggung jawab yang diberikan kepada seorang Muslim.

ASN harus menjauhi korupsi, kolusi, nepotisme, manipulasi data, penyalahgunaan fasilitas negara, pungutan liar, dan tindakan yang merugikan masyarakat.

Masyarakat pun harus menjaga amanah dalam kehidupan masing-masing. Orang tua tidak menelantarkan pendidikan anak, pedagang tidak mengurangi timbangan, guru tidak mengabaikan tugas mendidik, dan pemimpin tidak menyalahgunakan kekuasaan.

3. Menegakkan Keadilan dalam Seluruh Kehidupan

Allah SWT berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ

“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan.”
(QS. An-Nahl: 90)

Keadilan harus menjadi prinsip dalam pelayanan publik sekaligus dalam kehidupan masyarakat.

Masyarakat tidak boleh mendapatkan pelayanan berbeda hanya karena perbedaan status sosial, kekayaan, kedekatan dengan pejabat, atau kepentingan tertentu.

Demikian pula dalam keluarga, perdagangan, pendidikan, maupun hubungan sosial, seorang Muslim wajib menjunjung keadilan dan tidak menzalimi pihak lain.

4. Menjadikan Pemimpin sebagai Teladan

Rasulullah SAW adalah uswah hasanah. Karena itu, keteladanan harus dimulai dari para pemimpin.

Pemimpin yang mengajak ASN untuk jujur harus memberikan contoh kejujuran. Pemimpin yang meminta ASN amanah harus menunjukkan amanah. Pemimpin yang menghendaki pelayanan yang baik harus memastikan rakyat benar-benar memperoleh pelayanan yang baik.

Namun keteladanan juga harus berjalan dari bawah. Masyarakat tidak boleh hanya menuntut pemimpin berubah, tetapi juga harus memperbaiki dirinya sendiri.

Dengan demikian, perubahan menjadi gerakan bersama, bukan sekadar tuntutan kepada kelompok tertentu.

5. Membangun Keluarga Muslim yang Mengikuti Tuntunan Rasulullah SAW

Keluarga merupakan lingkungan pertama dalam pembentukan kepribadian Muslim.

Orang tua wajib mendidik anak-anak dengan akidah dan syariat Islam. Suami dan istri menjalankan hak dan kewajibannya sesuai tuntunan Allah SWT. Anak dididik agar mencintai Allah dan Rasul-Nya serta terbiasa menjalankan ketaatan.

Dengan demikian, Maulid tidak hanya menghasilkan ceramah sesaat, tetapi menjadi momentum untuk memperbaiki kehidupan keluarga Muslim.

6. Membangun Masyarakat yang Saling Menolong dalam Kebaikan

Allah SWT berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ

“Dan tolong-menolonglah kalian dalam kebajikan dan ketakwaan.”
(QS. Al-Ma’idah: 2)

Kaum Muslimin harus membangun kepedulian sosial. Yang kuat membantu yang lemah, yang berilmu mengajarkan ilmunya, dan yang memiliki kemampuan membantu saudaranya.

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ لَا يَرْحَمْ لَا يُرْحَمْ

“Siapa yang tidak menyayangi, tidak akan disayangi.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Masyarakat Islam tidak dibangun atas sikap individualistis, tetapi atas kepedulian dan ukhuwah.

7. Meningkatkan Pemahaman Islam di Tengah Umat

Keteladanan tidak mungkin diwujudkan tanpa ilmu. Karena itu, kaum Muslimin perlu mempelajari Islam secara serius.

Umat perlu memahami akidah, ibadah, akhlak, muamalah, keluarga, ekonomi, kehidupan sosial, hukum, kepemimpinan, serta berbagai aturan Islam yang berkaitan dengan kehidupan.

Dengan ilmu, umat dapat mengetahui tuntunan Rasulullah SAW dan berusaha menerapkannya dalam kehidupan.

8. Membiasakan Amar Ma'ruf Nahi Munkar

Allah SWT berfirman:

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ

“Hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar.”
(QS. Ali Imran: 104)

Karena itu, kaum Muslimin tidak cukup hanya memperbaiki dirinya sendiri. Mereka juga memiliki tanggung jawab untuk mengajak kepada kebaikan dan mengingatkan dari kemungkaran dengan cara yang sesuai syariat.

9. Mengoreksi Penguasa dengan Cara yang Dibenarkan Syariat

Kepedulian terhadap kehidupan umat juga mencakup kepedulian terhadap kebijakan penguasa.

Masyarakat harus memiliki kepedulian terhadap amanah kekuasaan sehingga kebijakan yang merugikan rakyat tidak dibiarkan tanpa nasihat dan koreksi.

Dengan demikian, keteladanan Rasulullah SAW tidak hanya berbentuk kesalehan pribadi, tetapi juga kepedulian terhadap urusan umat.

10. Menjadikan Dakwah sebagai Upaya Membangun Perubahan Umat

Rasulullah SAW tidak hanya membina dirinya sendiri dan keluarganya. Beliau melakukan dakwah kepada masyarakat dan membina para sahabat sehingga terbentuk umat yang memiliki kepribadian Islam.

Karena itu, kaum Muslimin perlu mengambil bagian dalam dakwah sesuai kemampuan masing-masing. Dakwah dilakukan dengan ilmu, hikmah, kesabaran, dan mengikuti tuntunan syariat.

Dengan dakwah, nilai-nilai Islam tidak berhenti menjadi pengetahuan pribadi, tetapi menjadi kesadaran yang hidup di tengah masyarakat.

11. Meneladani Rasulullah SAW dalam Pengurusan Masyarakat

Rasulullah SAW tidak hanya membina individu. Beliau juga memimpin masyarakat dan mengurus berbagai urusan umat.

Karena itu, keteladanan Rasulullah SAW perlu diwujudkan dalam kepemimpinan yang adil, amanah, melindungi masyarakat, mengurus kebutuhan rakyat, dan menjalankan aturan berdasarkan petunjuk Allah SWT.

Islam memandang kehidupan manusia sebagai satu kesatuan. Ibadah, akhlak, muamalah, keluarga, ekonomi, hukum, pemerintahan, dan kehidupan sosial tidak dipisahkan dari ketundukan kepada Allah SWT.

Dengan demikian, meneladani Rasulullah SAW secara sempurna berarti berusaha mengikuti petunjuk beliau dalam seluruh aspek kehidupan sesuai kemampuan dan ketentuan syariat.

12. Membangun Ketakwaan dalam Diri Setiap Muslim

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.”
(QS. Al-Ahzab: 70)

Pengawasan administratif penting, tetapi pengawasan manusia memiliki keterbatasan.

Karena itu, harus dibangun kesadaran bahwa Allah SWT selalu mengetahui setiap perbuatan. ASN tidak berbuat curang karena takut diperiksa atasannya. Pedagang tidak menipu karena takut kehilangan pelanggan. Seorang Muslim meninggalkan kemaksiatan karena yakin bahwa seluruh perbuatannya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

13. Membuktikan Cinta kepada Rasulullah SAW dengan Ittiba

Allah SWT berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ

“Katakanlah: Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian.”
(QS. Ali Imran: 31)

Ayat ini memberikan ukuran bahwa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya bukan sekadar pengakuan. Cinta harus dibuktikan dengan mengikuti Rasulullah SAW.

Karena itu, Maulid Nabi seharusnya menjadi momentum memperkuat ittiba bukan sekadar memperbanyak kegiatan seremonial.

14. Menjadikan Maulid sebagai Momentum Perubahan Nyata

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan peringatan Maulid bukanlah semata-mata terlaksananya acara, banyaknya peserta, atau meriahnya kegiatan.Namun,
yang lebih penting adalah setelah Maulid terjadi perubahan nyata,dengan kata lain
umat semakin memahami Islam dan semakin bersungguh-sungguh menjalankan syariat Allah SWT.

PENUTUP

Maulid Nabi SAW semestinya tidak berhenti pada seremoni, slogan, atau sekadar mengenang sejarah kelahiran Rasulullah SAW. Maulid harus menjadi momentum bagi seluruh kaum Muslimin untuk benar-benar mengikuti Rasulullah SAW.

Dan seluruh kaum Muslimin meneladaninya dengan menjadikan Islam sebagai pedoman dalam kehidupan.

Sebab Rasulullah SAW bukan hanya teladan dalam akhlak pribadi, tetapi juga teladan dalam membina umat dan mengurus kehidupan masyarakat.

Maka, ukuran kecintaan kepada Rasulullah SAW bukan seberapa meriah kita memperingati Maulid, tetapi seberapa sungguh-sungguh kita mengikuti beliau.
×
Berita Terbaru Update