Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Marak Generasi Bunuh Diri: Potret Kelam Generasi Sekuler

Friday, September 25, 2026 | September 25, 2026 WIB Last Updated 2026-09-25T08:40:43Z



Oleh Reni Rosmawati 
Pegiat Literasi Islam Kafah 

Rentetan kasus bunuh diri kembali menggemparkan tanah air. Dalam kurun waktu dua pekan di awal bulan September 2026, tercatat sedikitnya ada tiga peristiwa bunuh diri yang terjadi. Kasus pertama terjadi di Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur. Seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) berinisial RR (19) melakukan percobaan bunuh diri dengan melompat dari lantai 6 Gedung A Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan (FBIPK) pada Kamis (10/9/2026). Dari keterangan polisi, RR melompat dari ketinggian 25 meter hingga mengakibatkan luka patah tulang di kaki, tangan, bahu, dan rahang. Adapun motif aksi nekat tersebut adalah cemburu karena kekasih RR ada hubungan dengan pria lain.  

Hanya berselang enam hari dari kejadian itu peristiwa serupa kembali terjadi. Seorang mahasiswa Universitas Politeknik Elektronika Negeri Surabaya berinisial RPA (20) ditemukan tewas bunuh diri di kamar kosan-nya yang terletak di kawasan Jalan Keputih Makam, Sukolilo, Surabaya. Hingga kini polisi masih mendalami motif dan penyebab pasti kejadian tersebut. Sebelumnya, kasus lain terjadi di kawasan Gelora Bung Karno, Jakarta Pusat. Seorang pria berusia 30 tahun ditemukan tidak bernyawa akibat bunuh diri. Diketahui pria tersebut melakukan aksi bunuh diri setelah mengunggah pesan perpisahan dan mendonasikan uangnya senilai Rp40 juta kepada komunitas kesehatan mental. (Kompas.id, 16/9/2026)

Fenomena bunuh diri di Indonesia saat ini memang sudah berada di titik yang sangat mengkhawatirkan. Hotline pencegahan bunuh diri, Healing119.id mencatat dalam periode 31 Juli 2025-31 Juli 2026 terdapat 3.036 generasi muda rentang usia 21-40 tahun memiliki keinginan mengakhiri hidup. Sementara itu menurut data Kementerian Kesehatan RI sepanjang tahun 2025 hingga September 2026 angka percobaan bunuh diri di kalangan siswa mencapai 2,7 kali lipat. (Media Indonesia, 4/9/2026)

Akar Penyebab 

Maraknya bunuh diri di kalangan generasi muda merupakan fenomena memprihatinkan yang menjadi alarm keras bagi masa depan Indonesia. Fakta ini membuktikan betapa rapuhnya pondasi mental generasi. Tentu, jika terus dibiarkan akan sangat berbahaya, karena dapat menghambat cita-cita mewujudkan generasi emas tahun 2045. Oleh karena itu sudah sepatutnya masalah ini disikapi serius oleh negara dengan mengatasi dan mencari akar penyebab utamanya. 

Hakikatnya bunuh diri di kalangan generasi bukan hanya sekadar masalah rentannya kesehatan mental, namun masalah sistemik yang lahir dari sistem kapitalisme sekuler yang sedang diterapkan oleh negara. Sistem pendidikan kapitalisme dibangun di atas asas sekuler yang cenderung memisahkan agama dari kehidupan. Akidah hanya ditempatkan sebagai urusan privat, sedangkan kesuksesan pendidikan diukur dengan capaian prestasi, popularitas, kesenangan, dan materi yang berlimpah. Dalam paradigma kapitalisme seseorang dikatakan sukses ketika telah meraih pencapaian produktivitas, penghasilan tinggi, dan penampilan, bukan bagaimana ia mampu memecahkan masalah kehidupan sesuai syariat. Akibatnya, lahirlah generasi rapuh, mudah frustasi bahkan bunuh diri tatkala menghadapi ujian hidup karena tidak memiliki benteng keimanan dan tidak memahami hakikat hidup yang benar. 

Kapitalisme juga menjadikan kompetisi sebagai warna kehidupan. Setiap individu dipacu untuk bersaing demi mendapatkan pengakuan publik. Akibatnya, terjadilah masalah tekanan mental yang berat. Mereka yang kalah saing, seringkali merasa tidak berharga dan gagal yang akhirnya mendorong pada stres dan keputusasaan. Kondisi ini diperparah dengan minimnya peran keluarga. Kapitalisme melahirkan keluarga tak ubahnya seperti sarang laba-laba, disharmonisasi. Ayah maupun ibu tak lagi memahami bahwa anak adalah amanah yang harus dijaga agar selamat dunia akhirat. Ibu yang semestinya menjadi sekolah pertama disibukkan bekerja untuk membantu perekonomian keluarga. Sebab kapitalisme meniscayakan sulitnya lapangan kerja bagi para ayah. Alhasil, kehangatan di tengah keluarga menurun, anak kehilangan figur yang bisa membimbing, sehingga ketika ada masalah ia merasa sendirian dan kesepian. 

Begitupun dengan masyarakat, karena tidak dibangun dengan ikatan iman dan takwa, ia menjadi individualis yang hanya fokus pada urusan serta kenyamanan sendiri, sehingga pudar kepekaan terhadap orang lain. Akhirnya, generasi menjadi terisolasi dan memendam masalah sendiri yang lambat laun memicu stres berat hingga depresi. Kondisi ini diperburuk oleh media sosial yang mempertontonkan berbagai konten-konten merusak pemikiran. Secara ilmiah, paparan konten negatif dan destruktif di media sosial dapat memicu resiko bunuh diri. 
Islam Atasi Bunuh Diri Hingga ke Akar

Dalam perspektif Islam kehidupan merupakan amanah yang harus dijaga, dan hanya Allah yang berhak menentukan kapan kehidupan berakhir. Tindakan bunuh diri adalah haram dan dosa besar. Atas hal ini Allah Swt. berfirman: “Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah Maha penyayang kepadamu. “ (QS. An-Nisa: 59). Pelaku bunuh diri pun diancam dengan hukuman neraka. Sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim: “Barang siapa yang membunuh dirinya dengan sesuatu, maka dia akan disiksa dengan benda tersebut di neraka jahanam."

Karena itu, negara yang menerapkan sistem Islam memiliki mekanisme untuk mencegah bunuh diri dan mengatasinya hingga ke akar, di antaranya: Pertama,  membentengi generasi dengan membangun akidah Islam generasi sejak dini. Akidah ini akan memancarkan pemikiran dan keyakinan bahwa setiap kesulitan adalah ujian dari Allah, dan bunuh diri adalah haram. Manusia harus berikhtiar serta bersabar atasnya agar memperoleh rida-Nya. Dengan kata lain akidah adalah penahan terkuat bagi seorang muslim dari keputusasaan. 

Kedua, negara akan membangun ikatan yang kuat antara keluarga dan masyarakat berdasarkan akidah. Keduanya akan bersinergi saling menjaga generasi. Keluarga akan difokuskan untuk menjadi madrasah pertama bagi anak-anak. Pun dengan masyarakat, ia menjadi benteng penjaga generasi dari berbagai pelanggaran syara. Masyarakat di masa kejayaan Islam terkenal kepeduliannya terhadap sesama, mereka saling menjaga dan  menasehati karena dibangun di atas pondasi keimanan serta ikatan ukhuwah Islam.

Ketiga, negara akan berperan sebagai pengurus rakyat yang menjamin kesejahteraan seluruh rakyatnya secara merata dan adil. Di samping itu, negara pun akan melakukan pengontrolan ketat terhadap media, sehingga keberadaannya ditujukan untuk kemaslahatan dan sarana dakwah yang dapat memupuk keimanan.

Itulah berbagai mekanisme yang dimiliki sistem Islam untuk mengatasi bunuh diri. Sungguh, jika Islam kembali diterapkan sebagai sistem kehidupan, tidak akan pernah adalah kasus bunuh diri, yang ada hanyalah generasi kokoh, kuat, dan tangguh calon-calon pemimpin pamasa depan. Karena itu, tidakkah kita rindu sistem Islam?

Wallahualam Bissawwab
×
Berita Terbaru Update