Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Islam Menjamin Kesehatan Mental

Friday, September 25, 2026 | September 25, 2026 WIB Last Updated 2026-09-27T11:43:27Z





Oleh Ummu Muthya
Ibu Rumah Tangga 

Seorang mahasiswa kedokteran Universitas Brawijaya, diduga mencoba bunuh diri dengan cara melompat dari lantai 6 kampus. Korban selamat dan saat ini dalam perawatan intensif di rumah sakit.  Mahasiswa itu terjun dari lantai 6 gedung Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan (FBIPK) pada Kamis pagi. Semula korban diduga berasal dari Fakultas Pertanian yang menjadi tempatnya mau bunuh diri. Namun, belakangan diketahui, korban adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran (FKUB). Dugaan penyebab kejadian itu hingga saat ini masih dalam penyelidikan polisi.   (kompas.co.id, 10/9/2026).

Berdasarkan fakta di atas, kasus bunuh diri di kalangan mahasiswa adalah merupakan persoalan mental, sehingga tak sanggup menjalankan kehidupan yang menurutnya sangat berat.  Banyak faktor yang menyebabkan seseorang memutuskan bunuh diri, terutama mereka yang berusia 20-30 tahun. Rentang usia ini diduga memiliki masalah kesehatan mental paling banyak, baik akibat tekanan sosial atau beban hidup yang berat hingga berujung keputusasaan. 
Gangguan kesehatan mental masyarakat juga terjadi karena  banyak penyebab seperti biologis, psikologis, hingga sistemis. Faktor biologis berkaitan dengan riwayat keluarga dengan gangguan mental yang meningkatkan risiko pada keturunan. Sedangkan faktor psikologis banyak dipengaruhi pengalaman traumatis, pola pikir, keterampilan mengelola stres, hingga tekanan ekonomi. Selain itu, kesehatan mental dipengaruhi kesehatan fisik, seperti penyakit kronis, gangguan hormon, gangguan tidur, hingga masalah neurologis.

Mental yang lemah menunjukkan bahwa masyarakat belum cukup kuat menghadapi tantangan dan ujian hidup. Karena pandangan hidup sekuler yang menjauhkan agama dari kehidupan. Imbasnya, masyarakat mengalami krisis identitas sebagai seorang hamba sekaligus krisis keimanan yang membuat orang mudah tergoyahkan, gampang tersulut emosi atau nafsu sesaat dan pikiran yang kalut. 

Di samping itu, sistem kapitalisme yang melahirkan realitas tidak manusiawi turut serta menjadi pemicu. Kapitalisme menempatkan manusia semata sebagai faktor produksi yang tenaganya terus dieksploitasi demi berjalannya roda industri dan korporasi. Pada saat yang sama, mereka dihadapkan pada gaji minim dan jauh dari standar kelayakan hidup. Akibatnya, kesenjangan ekonomi dan kemiskinan struktural kian mengakar di tengah masyarakat.

Adapun peran negara saat ini hanya sekadar sebagai regulator hingga melahirkan aturan yang berat sebelah. Di satu sisi menguntungkan pemilik modal, di sisi lain menekan rakyat dengan berbagai tarif dan pungutan publik yang seharusnya menjadi hak mereka sebagai pihak yang wajib dilindungi negara. Beban ekonomi pun bertambah, penghasilan stagnan, bahkan berkurang akibat kebijakan yang tidak pro rakyat, seperti penarikan pajak, kenaikan harga BBM dan bahan pokok, serta tarif listrik yang terus meningkat. 
Sistem pendidikan yang ada pun terbukti gagal membentuk karakter dan kepribadian yang kuat. Harapan agar pendidikan melahirkan generasi berakhlak mulia, bermental tangguh, dan berpikiran jernih justru jauh dari kenyataan. Pendidikan yang bercokol selama puluhan tahun dalam sistem kapitalisme terbukti hanya menghasilkan individu sekuler, materialistis, hedonistis, rapuh secara psikis, dan jauh dari kemuliaan. Jadilah kesehatan mental demikian rapuh, generasi mudah terguncang oleh berbagai persoalan hidup, baik ringan maupun berat. 
Sungguh jauh bereda dengan sistem Islam dimana akidah menjadi asas kehidupan dan aktivitas.  Dengan  akidah yang kuat, akan menjadikan individu muslim memiliki pola pikir dan pola sikap yang Islami. Dari pola pikir dan pola sikap yang Islami ini akan melahirkan sosok muslim yang tangguh dan cerdas serta ber-akhlakul karimah.

Keluarga memiliki peranan sangat penting dalam membentuk anak memiliki mental yang kuat. Keluarga semestinya menjadi tempat anak-anak mendapatkan perlindungan dan kasih sayang, kenyamanan, keamanan, ketenteraman, dan sebagainya. Rasulullah saw bersabda, “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah; pada keduanya sama-sama ada kebaikan. Bersemangatlah untuk hal-hal yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah tanpa merasa lemah.” (HR Muslim)

Selain itu, negara juga memiliki peran penting dalam mengurusi urusan rakyatnya agar manusia bisa menjalankan peran serta fungsinya sebagai hamba sekaligus pengemban risalah nabi.
Untuk menunjang dua peran tersebut, Islam mengajarkan pola hidup sehat dengan konsumsi makanan halal dan bergizi, istirahat yang cukup, serta berolahraga. Pola hidup sehat ini tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan fisik (jasmani), tetapi juga berdampak positif pada kesehatan mental (ruhiyah).
Pendidikan yang berbasis akidah Islam yang diterapkan negara, mampu mencetak individu muslim bermental kuat.  Karena tujuan pendidikan dalam sistem Islam adalah membentuk kepribadian Islam (syakhsiah islamiah), sekaligus memiliki keterampilan menyelesaikan problem kehidupan. 

Islam sebagai ideologi yang sempurna juga telah mewajibkan negara melindungi dan menjamin kehidupan warganya, termasuk  kebahagiaan rakyatnya. Penguasa dalam Islam memahami dengan sungguh-sungguh bahwa rakyat adalah amanah, layaknya gembalaan yang wajib dijaga dan dilindungi oleh penggembalanya. Hal ini dikarenakan penguasa memiliki peran sebagai raa’in (pengurus) dan junnah (pelindung) bagi warganya. Sabda Rasulullah saw; 
"Imam (khalifah) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya.” (HR Bukhari)

Maka sungguh, Islam dan aturannya adalah solusi hakiki kehidupan manusia.  Aturannya mampu  menyelesaikan masalah, dari mulai pencegahan hingga penyembuhan. Islamlah satu-satunya agama dan sistem kehidupan yang lurus sesuai fitrah penciptaan, mensejahterakan, dan mampu mewujudkan rahmat bagi seluruh alam. 
Wallahu A'lam bish shawab 
×
Berita Terbaru Update