Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Ketika Simbol Kontroversial Masuk ke Panggung Budaya, Apa yang Sedang Kita Ajarkan kepada Generasi?

Tuesday, September 22, 2026 | September 22, 2026 WIB Last Updated 2026-09-22T03:57:58Z







Oleh: Iffah Komalasari, S.Pd (Pendidik Generasi)

Sebuah karnaval seharusnya menjadi ruang kegembiraan. Masyarakat berkumpul, anak-anak menikmati pertunjukan, dan budaya lokal diperkenalkan kepada generasi berikutnya.

Namun, bagaimana jika di tengah kemeriahan itu muncul simbol-simbol yang oleh sebagian masyarakat diasosiasikan dengan satanisme?

Pertanyaan ini muncul dalam polemik Simbang Kulon Night Carnival (SKNC). Sejumlah visual dalam acara tersebut, seperti kostum bertanduk, kepala kambing, penggunaan darah, hingga simbol yang disebut menyerupai Sigil of Baphomet, memunculkan kegelisahan di tengah masyarakat. (detik.com, 14/9/2026)

Tentu kita perlu berhati-hati. Kemunculan sebuah simbol tidak otomatis membuktikan adanya ritual pemujaan setan. Makna, konteks budaya, tujuan pertunjukan, serta penjelasan penyelenggara tetap perlu diperiksa. Demikian pula kabar mengenai meninggalnya salah seorang peserta tidak tepat langsung dikaitkan dengan simbol atau ritual tertentu tanpa bukti medis.

Namun, sebagai pendidik generasi, saya melihat ada persoalan yang lebih besar: apa yang sedang kita biasakan kepada anak-anak kita?

Analisis Penyebab Masalah

Kita sering mendengar kalimat, “Itu kan budaya.” Seolah-olah ketika sesuatu telah diberi label budaya, maka semuanya harus diterima. Padahal, budaya adalah hasil kreasi manusia. Di dalamnya bisa terdapat nilai, pesan, bahkan pandangan hidup.

Pakaian memiliki pesan. Musik memiliki pesan. Bahasa memiliki pesan. Begitu pula simbol dan pertunjukan.

Karena itu, yang perlu kita tanyakan bukan hanya apakah sebuah simbol boleh ditampilkan, tetapi apa maknanya, dari mana asalnya, dan nilai apa yang sedang diperkenalkan melalui simbol tersebut?

Tentu tidak semua simbol tanduk atau kepala kambing otomatis bermakna satanisme. Simbol dapat memiliki makna berbeda dalam kebudayaan yang berbeda. Karena itu, kritik harus disertai pengetahuan dan tidak boleh berubah menjadi tuduhan tanpa dasar.

Namun, masyarakat juga berhak bertanya dan meminta penjelasan. Bertanya bukan berarti membenci budaya. Mengkritisi bukan berarti anti-kesenian.

Persoalan menjadi semakin penting karena generasi hari ini hidup dalam dunia yang sangat visual. Anak-anak belajar bukan hanya dari guru dan orang tua, tetapi juga dari film, gim, musik, media sosial, meme, fesyen, dan berbagai bentuk hiburan.

Sesuatu yang awalnya terasa asing dapat menjadi biasa ketika terus ditampilkan. Yang semula dianggap aneh bisa berubah menjadi lucu. Yang dahulu membuat orang bertanya akhirnya dianggap biasa saja.

Inilah yang perlu diwaspadai: normalisasi nilai melalui hiburan.

Bukan berarti setiap pengulangan simbol merupakan agenda tersembunyi. Kita tidak boleh berspekulasi. Namun, sebagai pendidik, kita juga tidak boleh naif. Anak perlu dibekali kemampuan untuk bertanya: Apa yang saya lihat? Apa maknanya? Dari mana asalnya? Apakah sesuai dengan nilai Islam?

Di sinilah kita menemukan masalah pendidikan yang lebih mendasar. Pendidikan agama sering kali berhenti sebagai pengetahuan, sementara ketika anak berhadapan dengan budaya populer, mereka tidak selalu memiliki standar untuk menilai.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)

Menjaga generasi berarti bukan hanya memastikan mereka mendapatkan nilai akademik yang baik. Kita juga perlu menjaga aqidah, pola pikir, akhlak, dan orientasi hidup mereka.

Solusi Tuntas

Membatalkan atau mengevaluasi satu acara tentu bisa menjadi langkah jika ditemukan pelanggaran terhadap nilai, aturan, atau ketentuan yang berlaku. Tetapi persoalannya tidak akan selesai hanya dengan menangani satu karnaval.

Hari ini mungkin kita berhadapan dengan simbol dalam sebuah pertunjukan. Besok persoalan yang sama bisa muncul melalui film, gim, musik, media sosial, atau fesyen.

Karena itu, solusi harus menyentuh akar persoalan.

Pertama, keluarga harus kembali menjadi tempat utama pembentukan nilai. Orang tua perlu mendampingi anak, berdialog tentang apa yang mereka lihat, dan tidak sekadar mengatakan “boleh” atau “tidak boleh”. Anak perlu memahami alasan di balik sebuah penilaian.

Kedua, pendidikan harus membentuk kepribadian Islam secara utuh. Anak tidak cukup hanya mengetahui hukum halal dan haram, tetapi harus memiliki pola pikir yang menjadikan aqidah Islam sebagai dasar dalam menilai kehidupan.

Ketiga, masyarakat perlu memiliki budaya kritis. Tidak semua yang viral harus diikuti, tidak semua yang disebut budaya harus diterima, dan tidak semua yang dikemas sebagai hiburan bebas dari nilai.

Keempat, diperlukan peran negara dalam menjaga arah pendidikan, media, kebudayaan, dan ruang publik agar tidak semata-mata mengikuti logika pasar dan tren. Negara memiliki tanggung jawab memastikan generasi tumbuh dalam lingkungan yang mendukung pembentukan kepribadian dan nilai yang baik.

Dalam perspektif Islam, langkah-langkah tersebut tidak cukup dilakukan secara parsial. Dibutuhkan penerapan Islam secara kaffah, yaitu Islam yang menjadi landasan dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk pendidikan, kebudayaan, media, dan pengaturan masyarakat.

Sebab jika nilai yang diajarkan terpecah, anak menerima pesan yang saling bertentangan. Di sekolah ia diajarkan menjaga aqidah, tetapi di lingkungan lain nilai yang bertentangan justru dikemas sebagai hiburan. Akhirnya, anak bisa kehilangan standar dalam menentukan mana yang layak diikuti dan mana yang harus ditinggalkan.

Sebagai pendidik, saya tidak ingin setiap persoalan budaya diselesaikan dengan kemarahan. Saya juga tidak ingin masyarakat mudah menuduh hanya berdasarkan gambar atau potongan video. Yang kita butuhkan adalah kesadaran dan pendidikan.

Anak-anak tidak cukup diberi larangan. Mereka perlu diberi pemahaman. Tidak cukup diberi nasihat. Mereka perlu dibekali aqidah dan cara berpikir Islam.

Sebab sebuah pertunjukan mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Namun, nilai yang terus-menerus mereka lihat dan rasakan dapat membentuk cara pandang mereka selama bertahun-tahun.

Maka polemik sebuah karnaval seharusnya mendorong kita mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar: generasi seperti apa yang sedang kita bentuk hari ini?

Sebab yang kita pertaruhkan bukan sekadar sebuah acara. Yang sedang kita jaga adalah arah generasi, bahkan arah peradaban.

Wallahu a'lam bish shawwab.
×
Berita Terbaru Update