Oleh: Neny Nuraeny
Pendidik Generasi
Sebagaimana dilansir Kompas.id, seorang mahasiswa semester 3 Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (UB), berusia 19 tahun asal Bogor, diduga mencoba bunuh diri dengan melompat dari lantai 6 gedung Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan. Korban ditemukan masih hidup setelah jatuh ke area parkir dan kini menjalani perawatan intensif di RS Saiful Anwar Malang. Polisi masih menyelidiki kejadian tersebut melalui olah TKP, keterangan saksi, dan rekaman CCTV. Pihak FKUB juga menyatakan telah melakukan screening kesehatan mental serta menyediakan layanan konseling di tingkat mahasiswa, fakultas, dan universitas.
Kasus ini mendapat perhatian karena menurut Sofia Ambarini dari Indonesia Sehat Jiwa (ISJ), dalam beberapa waktu terakhir terdapat sejumlah laporan mahasiswa di Malang yang membutuhkan pertolongan, termasuk mahasiswa UB. ISJ menilai kampus perlu melibatkan pihak eksternal karena sebagian mahasiswa mungkin merasa kurang nyaman mencari bantuan melalui layanan internal kampus. Selain tekanan akademik, Sofia juga menyoroti tingginya paparan dunia digital dan kebiasaan membandingkan kehidupan diri dengan kehidupan orang lain di media sosial sebagai salah satu hal yang dapat berkaitan dengan meningkatnya stres pada anak muda. Malang, 10/09/2026
Bukan Sekadar Krisis Mental, Ada Krisis Sistem
Kasus yang terjadi pada mahasiswa Universitas Brawijaya tidak semestinya hanya dipandang sebagai persoalan individu atau sekadar persoalan kesehatan mental. Di balik tekanan yang dihadapi generasi hari ini, ada lingkungan kehidupan yang turut membentuk cara mereka berpikir dan menghadapi persoalan.
Sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan menjadikan akidah tidak selalu hadir sebagai landasan ketika menghadapi ujian. Generasi bisa memiliki prestasi akademik dan berbagai kemampuan, tetapi belum tentu memiliki akidah Islam yang kokoh. Padahal, bagi seorang Muslim, kehidupan dunia adalah tempat ujian dan penghambaan kepada Allah. Kesulitan, kegagalan, dan tekanan tidak semestinya dipandang sebagai akhir dari segalanya. Iman memberikan keyakinan bahwa setiap ujian berada dalam ketetapan Allah. Ketika pegangan ini lemah, tekanan hidup dapat terasa begitu berat hingga seseorang kehilangan harapan.
Sistem kapitalisme juga membentuk masyarakat yang semakin individualistik. Manusia didorong untuk mengejar kesuksesan pribadi, prestasi, karier, materi, dan pengakuan sosial. Budaya positivity bahkan dapat berubah menjadi tuntutan untuk selalu kuat, produktif, dan mampu menyelesaikan semuanya sendiri. Di tengah derasnya dunia digital, generasi muda juga terus berhadapan dengan gambaran kehidupan orang lain yang tampak sukses, bahagia, dan sempurna sehingga mudah terjebak dalam perbandingan. Akhirnya, seseorang bisa berada di tengah keramaian kampus dan memiliki banyak teman di media sosial, tetapi tetap merasa sendirian. Interaksi semakin mudah, tetapi ikatan sosial dan kepedulian justru dapat semakin lemah.
Karena itu, persoalan generasi tidak cukup diselesaikan hanya dengan menyediakan konseling atau hotline ketika masalah telah muncul. Layanan tersebut tentu penting sebagai bentuk pertolongan. Namun, perlu juga dilihat akar sistem yang membentuk individu dan masyarakat. Negara yang menerapkan sekularisme-kapitalisme turut membentuk kehidupan melalui pendidikan yang memisahkan agama dari pembentukan kepribadian serta sistem ekonomi yang menekankan persaingan dan pencapaian materi.
Islam memiliki paradigma yang berbeda. Akidah menjadi landasan kehidupan, pendidikan membentuk syahsiyah Islam, masyarakat dibangun dengan ukhuwah dan kepedulian, sementara negara bertanggung jawab menjaga dan mengurusi rakyatnya. Dengan demikian, membangun generasi tangguh bukan hanya persoalan membuat individu mampu bertahan menghadapi tekanan, tetapi juga membangun sistem kehidupan yang memberikan makna, membentuk ketangguhan iman, dan memastikan manusia tidak menghadapi persoalannya seorang diri.
Membangun Generasi Tangguh dengan Islam Kaffah
Islam tidak hanya mengajarkan manusia untuk kuat menghadapi masalah, tetapi juga membangun kehidupan yang membantu manusia menjadi kuat. Sejak dini, anak dibekali akidah yang kuat sehingga memahami tujuan hidupnya sebagai hamba Allah. Ketika menghadapi kegagalan, tekanan, atau kesulitan, ia tidak merasa hidupnya berakhir. Ia belajar untuk sabar, berikhtiar, bertawakal, dan yakin bahwa selalu ada pertolongan Allah. Allah berfirman, “Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.” (QS. Az-Zumar: 53). Islam juga menjaga jiwa dengan tegas. Bunuh diri diharamkan, sebagaimana Rasulullah Saw memberikan peringatan keras terhadap tindakan seseorang yang menghilangkan nyawanya sendiri (HR. Bukhari dan Muslim). Namun, larangan tersebut harus berjalan bersama kepedulian. Orang yang sedang tertekan perlu didampingi, didengarkan, dan dibantu mendapatkan pertolongan.
Islam juga membangun keluarga dan masyarakat yang saling peduli. Seseorang tidak seharusnya menghadapi masalah seorang diri. Keluarga menjadi tempat pertama untuk mendapatkan kasih sayang dan dukungan, sementara masyarakat memiliki tanggung jawab untuk saling memperhatikan. Rasulullah Saw bersabda, “Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Ia tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya.” (HR. Bukhari). Dengan ikatan ukhuwah yang kuat, seseorang yang sedang menghadapi masalah memiliki tempat untuk bercerita dan mendapatkan bantuan. Jadi, solusi Islam bukan sekadar menyuruh seseorang untuk “kuat”, tetapi juga menciptakan lingkungan yang membuatnya tidak merasa sendirian.
Lebih dari itu, Islam memandang negara memiliki tanggung jawab besar dalam mengurus rakyat. Dalam konsep Khilafah, penerapan Islam dilakukan secara kaffah, termasuk dalam pendidikan dan ekonomi. Pendidikan tidak hanya mengejar nilai dan pekerjaan, tetapi juga membentuk generasi yang beriman dan berkepribadian Islam. Sistem ekonomi Islam pun mengatur agar kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi dan kesejahteraan tidak hanya berputar pada segelintir orang. Dengan begitu, Islam membangun individu yang kuat akidahnya, keluarga yang kokoh, masyarakat yang saling peduli, dan negara yang bertanggung jawab terhadap rakyatnya.
Inilah solusi yang tidak berhenti pada menangani gejala, tetapi berusaha membangun kehidupan dari akarnya. Generasi yang tangguh akan terwujud ketika akidah menjadi landasan kehidupan dan Islam diterapkan secara kaffah.
Wallahu a‘lam bishsawab.
.jpg)