Oleh Iin Parlina
Ibu Rumah Tangga
Badan Nasional Penanggulangan Bencana(BNPB) mencatat terdapat 142 orang meninggal dunia akibat gempa bumi M 7,7 di Flores,Nusa Tenggara Timur(NTT),pada Sabtu(15/2026). Namun,korban meninggal paling banyak terjadi di pengungsian. Pelaksana tugas(PLT) Kepala Pusat Data,Informasi dan komunikasi kebencanaan BNPB,Berton SP Panjaitan,mengatakan gempa bumi tersebut menyebabkan 142 orang meninggal dunia. Meski begitu,jumlah korban jiwa langsung akibat gempa bumi tersebut disentuh hanya sekitar 48 orang."korban yang meninggal secara langsung yang ada di pengungsian ada 94 orang,"kata dia saat konferensi pers secara daring,ada 46.046 orang mengungsi akibat terdampak bencana gempa bumi di Flores,NTT. Angka tersebut dinilai sudah mengalami penurunan dibandingkan sebelumnya."saat ini pengungsi itu sudah jauh turun yang kemarin-kemarin sampai 150 ribu lebih,sekarang hanya 46.046 jiwa."kata Berton.
BNPB mencatat,total rumah yang dilaporkan rusak akibat gempa bumi tersebut mencapai 103.427 unit. Namun BNPB,masih akan melakukan verifikasi untuk memastikan kerusakan tersebut.
Presiden Prabowo Subianto mengakui masih ada banyak masyarakat yang berdampak diberbagai wilayah Indonesia. Namun,ia memastikan pemerintah pusat hingga daerah turun untuk melakukan penanganan dilapangan"juga masih banyak saudara-saudara kita diberbagai tempat yang mengalami kesulitan akibat bencana alam yang dihadapi,tetapi seluruh pemerintah pusat,daerah,provinsi,kabupaten,semua instansi terbukti bekerja sama dengan baik untuk menghadapi semua tantangan dan kesulitan.
Ketakutan dan kecemasan akibat gempa bumi dan diperparah oleh berbagai hambatan yang diakibatkan dari tatanan kapitalisme dalam masyarakat,dimana banyak orang kesulitan untuk mengubah kondisi kehidupan mereka untuk menjadi lebih baik atau berpindah ke wilayah yang lebih aman. Ini menciptakan situasi yang kompleks dan memprihatinkan yang harus segera menjadi perhatian bagi para cendekiawan dan pembuat kebijakan. Yang sangat menyedihkan adalah bahwa jelas kita perlu mengambil berbagai tindakan,para pemimpin kita justru tidak dapat mengatasi berbagai masalah yang diakibatkan oleh kombinasi kapitalisme dan gempa bumi ini. Tindakan ini menjadi sangat sulit untuk dilakukan ketika mereka memprioritaskan kepentingan perusahaan-perusahaan besar diatas keselamatan masyarakat. Hal ini mengakibatkan seluruh bagian dari masyarakat menjadi lebih rentan dalam bencana alam. Dan yang semakin memperburuk lagi,terkadang mereka justru membatasi akses masyarakat terhadap sumber daya alam dan kemampuan mereka untuk bergerak dan mengambil tindakan. Sistem kapitalisme berbicara tentang menghasilkan profit,yang berarti menempatkan pertumbuhan dan pembangunan ekonomi diatas kesejahteraan dan keselamatan masyarakat luas. Hal ini kadang mengakibatkan sebuah kota menjadi terlalu besar dengan banyak orang yang tinggal di daerah yang beresiko tinggi terhadap gempa bumi. Bahkan yang lebih buruk lagi,di negara-negara berkembang dimana pertumbuhan kota yang begitu pesat dan pembangunan gedung-gedung yang dirancang secara buruk telah mengakibatkan keadaan menjadi lebih berbahaya. Gedung-gedung ini tidak memiliki fitur yang mengamankannya saat terjadi gempa bumi,seperti material dan konstruksi tahan gempa.
Dalam kacamata akidah Islam,fenomena geologis merupakanperingatan bagi manusia untuk bermuhasabah. Namun,takdir mutlak yang harus diterima secara pasif. Asa garis batas yang tegas antara fenomena alam yang tidak bisa dicegah(qada) dan Mas'ulliyah Syar'iyyab(tanggung jawab syar'i) dalam penanggulangannya. Bencana alam adalah ketetapan Allah,tetapi kelalaian mitigasi,lambatnya evakuasi,dan buruknya pelayanan pengungsi adalah kegagalan sistemik tata kelola manusia yang akan dihisan dihadapn Allah SWT.
Rekam jejak sejarah mencatat bahwa Islam memiliki keteladanan yang sangat berakar dalam merespons bencana gempa bumi. Pada masa Rasulullah Saw. Ketika gempa mengguncang Madinah,beliau langsung menenangkan jiwa rakyat,mengingatkan pentingnya muhasabah dan pertobatan,sekaligus menginstrusikan penguatan tatanan masyarakat. Langkah ini diteruskan oleh khalifah Umar bin Khattab Ra Saat gempa dahsyat meland Madinah pada tahun 20 H. Khalifah umar tidak hanya menyampaikan khotbah muhasabah yang menggetarkan,tetapi juga secara aktif mengevaluasi kepemimpinan dan keselamatan rakyatnya,bahkan mengalokasikan logistik negara secara cuma- cuma dari Baitul mal. Diera kekhilafahan Utsmaniyah,ketika gempa raksasa menghantam Istanbul pada tahun 1509 M, Sultan Bayezid II langsung memobilisasi ribuan pekerja,mengerahkan dana negara untuk rekonstruksi kota,serta menetapkan regulasi tata ruang baru berupa larangan membangun rumah berbatu bata di zona patahan dan mewajibkan struktur kayu tahan gempa. Negara tidak boleh melepas tanggung jawabnya kepada lembaga Filantropi swasta atau relawan semata. Dengan menyatukan kejelasan akidah,rekam jejak sejarah khilafah,ketegasan tata ruang berbasis sains,kemandirian anggaran Baitul mal,serta kepemimpinan yang berkedudukan sebagai pelindung,Islam menghadirkan sistem penanggulangan bencana yang tidak hanya solutif dan adil,tetapi juga memuliakan serta menjamin martabat seluruh warga negara secara utuh.
Wallahu'alam bissawab
