Nusantaranews.net, Lima Puluh Kota — Curah hujan tinggi beberapa hari yang lalu memicu longsor di Jorong Menara Agung, Nagari Batuhampar, Kecamatan Akabiluru, Kabupaten Lima Puluh Kota. Bencana tersebut menyebabkan kerusakan pada jaringan irigasi serta berdampak terhadap sektor pertanian dan perikanan masyarakat.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lima Puluh Kota, Zaimar Hakim, SH, mengatakan penanganan dilakukan setelah BPBD menerima laporan terkait kondisi wilayah terdampak.
Longsor terjadi setelah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur kawasan tersebut pada Selasa (18/8/2026). Dampaknya, infrastruktur Daerah Irigasi (DI) Bonda Gando Piontang mengalami kerusakan.
Berdasarkan hasil pendataan BPBD pada Jumat (21/8), kerusakan berat terjadi pada jaringan irigasi sepanjang sekitar 15 meter. Selain itu, satu unit kolam ikan milik masyarakat juga mengalami kerusakan dengan kategori sedang.
“BPBD langsung melakukan pendataan di lokasi terdampak dan berkoordinasi dengan pemerintah nagari untuk menentukan langkah penanganan,” kata Zaimar Hakim.
Menurut Zaimar, penanganan tidak hanya dilakukan oleh BPBD. Pada Sabtu (22/8), perbaikan jaringan irigasi dilaksanakan melalui kegiatan gotong royong dengan melibatkan BPBD, Damkar, Satpol PP, wali nagari beserta perangkat nagari, serta masyarakat setempat.
Keterlibatan masyarakat dalam penanganan tersebut menjadi bagian penting untuk mempercepat pemulihan fasilitas yang terdampak bencana, terutama jaringan irigasi yang berkaitan langsung dengan aktivitas pertanian warga.
Zaimar menjelaskan, setelah dilakukan perbaikan, jaringan irigasi yang sebelumnya mengalami kerusakan kini telah kembali berfungsi.
“Perbaikan jaringan irigasi telah selesai dan aliran air menuju lahan persawahan masyarakat kembali lancar, sehingga aktivitas pertanian warga dapat kembali berjalan normal,” ujarnya.
BPBD Kabupaten Lima Puluh Kota memastikan penanganan terhadap dampak bencana terus dilakukan melalui pendataan, koordinasi dengan pemerintah nagari dan unsur terkait, serta gotong royong bersama masyarakat.
Langkah tersebut dilakukan untuk meminimalkan dampak bencana sekaligus mempercepat pemulihan sarana dan prasarana masyarakat yang mengalami kerusakan akibat bencana hidrometeorologi. (R.Sitepu)
