Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Memahami Urgensi Kepemimpinan Islam

Friday, July 03, 2026 | Friday, July 03, 2026 WIB


Oleh. Sri Rahayu Lesmanawaty (Aktivis Muslimah Islam Kaffah)

Seorang muslim yang telah berupaya menegakkan hal semacam ini (daulah Islam) niscaya akan menyadari bahwa Allah telah memberikan petunjuk kepada dirinya tentang fardu kifayah yang paling penting dan utama, yaitu usaha untuk mendirikan daulah Islam yang bersifat fardiyah (individual) atau kifayah (kolektif),” ungkap Ahmad Mahmud dalam karyanya Dakwah Islam, bab II, bagian Islam Tidak Akan Tegak Tanpa Daulah Islamiyah, halaman 48, penerbit Pustaka Thoriqul Izzah, tahun 2009.


Melihat tulisan ini, kalimat fardu kifayah yang paling penting dan utama kian menajamkan penulis untuk menunjukkan ketiadaan penerapan Islam telah menghasilkan berbagai kerusakan, kebangkrutan dan berbagai nestapa hidup.
Naiknya BBM nonsubsidi hingga harga barang-barang naik telah membuat rakyat makin menjerit. Rupiah melemah terhadap dolar AS di tengah tingginya ketergantungan terhadap produk impor, kian menyeret betapa tak bernilainya mata uang negeri ini, dan betapa kisruhnya persoalan negeri ini.


Pengangguran yang kian melejit, badai PHK menerjang, rakyat kian miskin papa di tengah pesta pora keserakahan oligarki yang terus saja menghabisi SDA, tampil nyata. Hutan Sumatra, Kalimantan, dan selanjutnya Papua mereka recah disusul bencana ekologis sebagai dampak nyata.
Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) menjadi ajang bancakan para politisi. Anggaran raksasa MBG dan KDMP menyedot anggaran untuk pendidikan dan sektor strategis lainnya. Alhasil, sekian anak tidak bisa melanjutkan pendidikan karena tak terjangkau. Biaya mahal subsidi menyurut.


Stunting dan gizi buruk yang menjadi alasan penyelesaiannya dengan program MBG, KDMP yang tujuannya sebagai pusat produksi dan distribusi untuk memperpendek rantai pasok agar warga bisa mendapatkan kebutuhan pokok, gas, dan pupuk dengan harga yang lebih murah, ternyata tak mewujud. Menyerap hasil panen petani dengan harga yang adil, sekaligus menekan monopoli tengkulak sehingga meningkatkan kesejahteraan petani sebagai tujuan lain pun tidak pula terwujud. Akibatnya, anggaran ratusan triliun yang telah dikeluarkan dari APBN nihil kemaslahatan bagi rakyat. Kenikmatan hanya dinikmati para pejabat dan kapitalis.


Lebih memilukan lagi, beragam penyakit sosial tumbuh subur. Generasi terjerembab ke dalam kehidupan bebas. Penyimpangan seksual bertebaran. Kaum sodom merajalela. Hamil di luar nikah, hingga aborsi kian merebak menyisakan generasi lemah terjun bebas penuh masalah. Tak hanya itu, serangan narkoba, judol, dan pinjol terus menghancurkan kualitas generasi.


Belum cukup babak belur di dalam negeri. Kebijakan politik luar negara kita pun tak jauh bubrahnya. Asing mendiktenya. Keanggotaan Indonesia menjadi bagian Board of Peace (BoP) buatan Amerika Serikat, menenggelamkan negeri mayoritas muslim ini segeng dengan Zion*s. Terlebih bobrok lagi adanya kesepakatan perdagangan dengan AS berupa The Agreement on Reciprocal Trade (ART) telah menempatkan Indonesia di posisi subordinat. Payah, kalah, terjajah, diperlakukan layaknya sampah. Menyedihkan.


Terlalu sistemis. Solusi yang diaruskan oleh penguasa dan pihak-pihak yang berada di sirkel kekuasaan hanya sekadar aspek permukaan. Akar sakit tak tersentuh. Hanya sabar, tawakal, dan kanaah, diedukasikan penguasa. Padahal kemiskinan struktural sudah terlampau parah. Kebijakan penguasa yang pro kapitalis oligarki terlalu pekat mewarnai. 


Menelusuri Akar Masalah


Saat kerusakan sudah sangat sistemik, urgen bagi kita untuk menelusuri akar masalah. Merumuskan solusi hakiki menjadi keharusan yang tidak bisa tidak harus segera dibangun. 


Memahami secara mendasar dan mendalam realitas yang terjadi, menggambarkan pada umat bahwa problematka yang mereka hadapi terjadi pada seluruh sendi kehidupan. Pemerintahan, politik luar negeri, ekonomi, pendidikan, kesehatan, sosial, moral, kriminalitas, korupsi, dll. menampakkan kondisi minus. Penerapan sistem sekuler di tengah masyarakat adalah persoalan besar yang seharusnya ditiadakan selamanya.


Sistem sekuler telah meniadakan agama dari seluruh pengaturan. Negara berjalan tanpa arahan Tuhan. Secara akidah, Allah masih diyakini sebagai Sang Maha Pencipta (Al-Khaliq) sekaligus Sang Maha Pengatur (Al-Mudabbir), namun aturanNya tidak diikat dalam aturan kehidupan. Wajarlah kerusakan pun terus melanda. Fiirman Allah Ta'ala, dalam QS Ar-Rum ayat 41,

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ 

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS Ar-Rum [30]: 41) .


Firman Allah Ta'ala,

وَاَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ

Hendaklah engkau memutuskan (urusan) di antara mereka menurut aturan yang diturunkan Allah.” (QS Al-Maidah [5]: 49). Tak diindahkan.
Padahal, aturanNya (syariat Islam) merupakan aturan terbaik bagi manusia. Firman Allah Ta'ala,

اَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُوْنَۗ وَمَنْ اَحْسَنُ مِنَ اللّٰهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُّوْقِنُوْنَࣖ

Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang meyakini (agamanya)?” (QS Al-Maidah [5]: 50).


Sungguh, Allah Ta'ala telah memerintahkan umat Islam untuk menerapkan Islam secara kafah.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ كَاۤفَّةًۖ

Wahai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam secara menyeluruh.” (QS Al-Baqarah [2]: 208). Dan untuk menerapkannya dibutuhkan kekuatan politik Islam. 


Khilafah sebagai kekuatan politik, dulu selama hampir 14 abad lamanya terealisasi sebagai satu-satunya institusi yang bisa secara legal menerapkan syariat Islam secara kafah, problematika terselesaikan secara paripurna. Demikianlah jika didalami, Maka solusi mendasar masalah umat Islam saat ini adalah penerapan syariat Islam kafah dengan mewujudkan kepemimpinan politik Islam (Khilafah). 

مَا لاَ يَتِمُّ الوَاجِبُ إِلاَّ بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ

Perkara wajib yang tidak sempurna kecuali dengannya, maka perantara itu menjadi wajib.” ini menjadi kaidah syarak yang harus dijalani, sehingga tegaknya Khilafah untuk mewujudkan kewajiban penerapan syariat Islam kafah, merupakan kewajiban. Keberadaan Khilafah sebagai penerap syariat kafah adalah qadhiyyah mashiriyyah (persoalan krusial yang menentukan hidup dan matinya) umat Islam. Ini harus difahami.


Bukan Hanya Amal Saleh dan Amal Pribadi


Untuk tegaknya Khilafah tidak bisa terwujud hanya dengan amal saleh yang bersifat individual. Sekalipun amal saleh tersebut penting dan diperintahkan dalam Islam, seluruhnya tidak bisa sempurna tanpa institusi yang menjaganya. Khilafah sebagai junnah(perisai) sebagai institusi politik tak bisa hanya dengan amal biasa saja, namun untuk mewujudkannya butuh aktivitas politis, yaitu dakwah Islam ideologis.


Untuk ini adanya kelompok yang sadar di tengah-tengah umat Islam untuk memahami akar masalah umat (yaitu adanya sistem sekuler di tengah umat), memahami solusi mendasarnya (yaitu penerapan syariat Islam kafah oleh Khilafah), dan mereka siap berjuang mewujudkan perubahan dengan melakukan amar makruf nahi mungkar, sangatlah penting. Sangat urgen. Sangat mendasar. Firman Allah Ta'ala,

وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

"Hendaklah ada di antara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS Ali Imran [3]: 104).


Perlu difahami, aktivitas penting yang tidak boleh ditinggalkan dalam dakwah adalah amar makruf nahi mungkar pada penguasa, yaitu dengan mengoreksi kebijakan penguasa sekaligus sistem yang diterapkan penguasa. Dakwah tidak boleh dibatasi hanya memberikan tausiah terkait akhlak individu penguasa, misalnya agar jujur, profesional, dan amanah, namun harus menunjukkan kesalahan sistem yang digunakan penguasa. 


Berbagai kerusakan yang terjadi saat ini bukan semata-mata karena individu penguasa, tetapi berasal dari penerapan sistem sekuler dan ditinggalkannya sistem Islam. Dari sini kita harus menyadari, bahwa seruan perubahan sistemis, harus segera ditindaklanjuti bukan hanya perubahan individu.


Dakwah bukan sekadar menyelesaikan aspek parsial, seperti pendirian sekolah, rumah sakit, maupun panti sosial. Namun mewujudkan kesadaran sahih pada diri umat untuk mencabut akar masalah, harus diperjuangkan yaitu dengan menuntut penerapan syariat Islam kafah di bawah institusi Khilafah. Perjuangan yang bukan main-main ala kadarnya. Butuh keseriusan dalam menjalankannya.


Fokus dakwah harus pada akar masalah, yaitu ketiadaan penerapan Islam kafah dan kepemimpinan politik (Khilafah) yang merupakan masalah krusial hidup dan matinya umat.


Urgensi Khilafah 


Memahami secara mendalam terkait urgensi Khilafah ada tiga arti penting Khilafah bagi umat. Pertama, sebagai penjaga syariat, Khilafah adalah satu-satunya institusi yang menerapkan sistem Islam kafah. 


Kedua, sebagai pelindung umat, Khilafah berperan sebagai junnah (perisai pelindung) dari berbagai kezaliman, ancaman, bahaya, gangguan, dan serangan. Ini sebagaimana sabda Rasulullah saw.,

إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ

Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu perisai yang (orang-orang) akan berperang mendukungnya dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)-nya.” (HR Muttafaqun ’alaih).


Ketiga, Khilafah menyatukan umat Islam di bawah panji Islam dan melingkupi mereka dalam keamanan dan kesejahteraan.
Sungguh, dakwah Khilafah tidak boleh diabaikan apalagi dilepaskan. Sabda Rasulullah saw., 

Wahai Paman, demi Allah, kalaupun matahari diletakkan di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku, agar aku meninggalkan perkara ini (penyampaian risalah) sehingga Allah memenangkannya atau aku binasa, pastilah tidak akan aku meninggalkannya.” (HR Ibnu Ishak). Rasulullah saw. berikan contoh dalam dakwah, yaitu memegang urusan dakwah ini erat-erat sekalipun berbagai kesulitan, ancaman, gangguan dan hambatan mengadang. Meneladani Rasulullah saw. di jalan dakwah menjadi keharusan. 
Selain itu kita juga harus mengikuti metode dakwah beliau demi meraih tujuan, yaitu terwujudnya kehidupan Islam kafah. Allah Ta'ala memerintahkan umat Islam untuk mengikuti metode dakwah Rasulullah,

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي

Katakanlah, ‘Inilah jalan (agama)-ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujah yang nyata.’” (QS Yusuf [12]: 108).


Rasulullah saw. telah menggambarkan tiga perjalanan dakwahnya. Pertama, tahap pembinaan dan pengaderan (tatsqîf). Rasulullah saw. menyeru masyarakat Makkah dari rumah ke rumah untuk memeluk Islam, lalu mengumpulkan orang-orang yang masuk Islam di rumah Arqam dan membina mereka dengan tsaqafah Islam ideologis. Dari aktivitas ini lahirlah para sahabat yang kemudian menyeru orang-orang lainnya hingga terkumpullah sekitar 40 muslim yang menjadi anggota kelompok Rasul.


Kedua, tahap penyebaran dakwah ke masyarakat secara terang-terangan dan upaya perjuangan membentuk sistem masyarakat (tafâ’ul wal kifâh). Rasulullah saw. menyampaikan dakwah kepada masyarakat Makkah secara luas, termasuk para pembesar Quraisy, juga kabilah-kabilah dari berbagai penjuru Jazirah Arab yang datang ke Makkah saat musim haji. Termasuk yang beliau seru adalah kabilah dari Yatsrib (Madinah).


Ketiga, tahap penerimaan kekuasaan untuk menerapkan sistem Islam. Dakwah Rasulullah saw. mendapatkan penerimaan dari penduduk Madinah yang kemudian mereka membaiat beliau untuk menegakkan kepemimpinan politik Islam (Daulah Islam) di Madinah yang menerapkan syariat Islam kafah di dalam negeri dan menyebarkan Islam ke luar negeri dengan dakwah dan jihad.


Demikianlah metode dakwah Rasulullah saw.. Maka untuk mewujudkan tegaknya kehidupan Islam di bawah kepemimpinan Khilafah, metode ini tidak boleh dilalaikan.
Dakwah yang bersifat pemikiran (fikriyah), politis (siyasiyah), dan nonkekerasan (laa unfiyah) terealisasi di dalamnya dan inilah satu-satunya jalan yang mampu menyelesaikan permasalahan umat sejak akarnya sehingga terwujud kebangkitan hakiki. Tinggal kita yang meyakini atau tidak. Jika mau berubah, berubahlah secara esensial sesuai arahan Allah Ta'ala yang telah direalisasikan oleh Rasulullah saw..


Wallaahu a'laam bisshawaab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update