Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Krisis Siswa Menghantui Sekolah Negeri

Monday, July 27, 2026 | Monday, July 27, 2026 WIB







Oleh: Sartinah
(Pegiat Literasi)

Memasukkan anak ke sekolah negeri menjadi harapan bagi banyak orang tua. Hal ini karena sekolah negeri ditopang oleh pendidikan gratis atau biaya yang sangat terjangkau, lingkungan belajar yang beragam, dan jam sekolah yang terbilang lebih fleksibel. Namun, fenomena berburu sekolah negeri tampaknya mulai sirna di beberapa wilayah. Di awal tahun ajaran baru 2026/2027 ini, banyak sekolah negeri yang mengalami krisis murid baru. 

Fenomena kelangkaan siswa baru tercatat di beberapa daerah di Indonesia. Mirisnya lagi, krisis siswa bahkan terjadi di kota-kota yang dikenal sebagai kawasan aglomerasi atau kota besar. Beberapa kota yang minim siswa, di antaranya Sumatra, Jawa, dan Kalimantan. Di SD Negeri 1 Gedung Meneng, Kecamatan Rajabasa, Bandar Lampung, misalnya, baru mendapatkan dua siswa baru pada tahun ajaran 2026/2027. Bahkan, di Kecamatan Rejang Lebong, Bengkulu, tercatat ada 13 sekolah dasar yang belum mendapatkan siswa sama sekali. (cnnindonesia.com, 15-7-2026) 

Penyebab Krisis Siswa

Terkait minimnya jumlah siswa baru di berbagai daerah, para peneliti menyebut bahwa fenomena ini bukan sekadar persaingan antarsekolah, tetapi menunjukkan perubahan struktur demografi. Ada beberapa hal yang menyebabkan menyusutnya jumlah siswa, seperti minimnya jumlah anak usia sekolah di wilayah tersebut. Hal ini bisa disebabkan karena menurunnya jumlah penduduk, generasi menua, dan faktor urbanisasi. 

Di sisi lain, terjadi pergeseran orientasi pendidikan di masyarakat. Saat ini, banyak orang tua yang lebih memilih menyekolahkan anaknya di sekolah yang mengajarkan pendidikan agama (seperti ibadah, mengaji, akhlak). Pergeseran orientasi pendidikan seperti ini tidaklah mengherankan. Pasalnya, banyak orang tua khawatir akan keselamatan anaknya di tengah banyaknya persoalan kerusakan yang menjerat remaja saat ini.

Merespons banyaknya sekolah yang minim siswa baru, pemerintah berencana menggagas sebuah solusi yang dianggap bisa menyelesaikan persoalan ini. Salah satu solusi tersebut adalah kebijakan regrouping (menggabungkan beberapa sekolah menjadi satu). Namun, langkah ini juga tidak bisa menjadi solusi mendasar untuk mengatasi kelangkaan jumlah siswa, bahkan dapat menimbulkan beberapa risiko. Di antara risiko dari kebijakan regrouping adalah adanya potensi putus sekolah.

Beberapa sekolah yang digabung dengan sekolah induk, misalnya, akan membuat jarak tempuh siswa yang semula berasal dari sekolah lain akan makin jauh. Hal ini berisiko meningkatkan angka putus sekolah, khususnya bagi keluarga miskin karena terbebani biaya transportasi. Regrouping juga berpotensi memangkas jam mengajar guru honorer, bahkan dapat mengancam posisi mereka.

Kebijakan Pragmatis di Sistem Sekuler

Tak bisa dimungkiri, minimnya jumlah siswa baru berkaitan erat dengan perubahan struktur demografi (penduduk menua, minim kelahiran, dan urbanisasi) sebagaimana disebutkan sebelumnya. Terkait jumlah penduduk yang menua, misalnya, hal ini pada akhirnya berimbas pada menurunnya jumlah angka kelahiran. Menurunnya angka kelahiran juga tak lepas dari andil pemerintah melalui kebijakannya. Di antaranya adalah kebijakan yang bertujuan untuk membatasi kelahiran, yakni program keluarga berencana (KB).

Selain itu, tata kelola ekonomi yang buruk menyebabkan hidup rakyat makin berat. Di bawah kebijakan ekonomi yang kapitalistik, biaya hidup makin tinggi, harga kebutuhan hidup makin mahal, dan lapangan kerja kian menyempit. Realitas ini membuat kesejahteraan hidup makin sulit diraih. Beban hidup yang makin berat inilah yang membuat banyak pasangan muda enggan memiliki anak ataupun membatasi kelahiran hanya dengan satu atau dua anak saja.

Faktor urbanisasi juga turut andil dalam menurunkan jumlah penduduk di suatu wilayah. Urbanisasi terjadi karena ketimpangan pendapatan yang besar antara desa dan kota sehingga banyak masyarakat memilih berpindah ke kota atau ke tempat yang memiliki kualitas hidup lebih baik. Hal ini berdampak pada menurunnya jumlah penduduk di suatu daerah yang kemudian berimbas pada penurunan angka kelahiran di wilayah tersebut.

Di sisi lain, banyak orang tua yang memilih menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah yang mengajarkan agama, daripada sekolah negeri. Hal ini bukan tanpa alasan. Para orang tua memiliki kekhawatiran besar terhadap kerusakan generasi hari ini akibat penerapan sistem sekuler liberal. Sistem rusak inilah yang telah memproduksi berbagai kerusakan moral dan tindakan kriminal di kalangan anak-anak remaja. Mengonsumsi narkoba, minuman keras, seks bebas, L86T, begal, dan sejumlah kerusakan lainnya adalah fakta nyata degradasi moral yang menjerat anak-anak remaja/sekolah.

Sayangnya, berbagai kerusakan moral akibat penerapan sistem sekuler liberal tersebut tidak dapat dibendung hanya dengan mengubah kurikulum berulang kali. Kerusakan moral yang menjerat remaja saat ini sudah bersifat sistemis, bukan karena faktor individu semata. Karena itu, kerusakan sistemis harus dibendung dengan solusi sistemis pula, bukan solusi parsial sebagaimana yang diterapkan saat ini.

Pendidikan Terbaik dalam Islam

Pendidikan dalam Islam menempati posisi yang sangat penting dan strategis. Hal ini karena pendidikan bukan sekadar proses transfer ilmu dari guru kepada murid. Namun, pendidikan dalam Islam adalah pilar penting peradaban yang berfungsi membentuk karakter dan akhlak mulia, mendorong penguasaan ilmu pengetahuan, dan membentuk kepribadian yang berkualitas. Tanpa pendidikan terbaik, peradaban akan suram. 

Selain itu, pendidikan merupakan salah satu kebutuhan dasar bagi yang wajib dipenuhi oleh negara. Karena itu, negara bertanggung jawab untuk menjamin ketersediaan pendidikan secara merata, berkualitas, dan gratis bagi seluruh rakyat. Ini artinya, setiap rakyat berhak memperoleh kesempatan yang sama untuk mengakses pendidikan dari tingkat rendah hingga tinggi. Rasulullah saw. bersabda dalam hadis riwayat Bukhari, “Imam adalah raa’in (penggembala) dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya,”

Dalam Islam, kurikulum pendidikan dibangun berdasarkan asas akidah Islam. Di atas dasar asas tersebut, output pendidikan Islam tidak hanya melahirkan generasi yang mahir dalam ilmu pengetahuan dan teknologi saja, tetapi mampu memiliki kepribadian islami. Untuk mewujudkan pendidikan terbaik, berkualitas, dan gratis, negara (Khilafah) menyediakan berbagai hal untuk mendukungnya, seperti SDM guru, infrastruktur, serta sarana dan prasarana lainnya.

Di sisi lain, untuk menyelamatkan generasi Muslim dari kerusakan, kesadaran masyarakat harus naik level. Artinya, kesadaran masyarakat yang awalnya hanya terfokus pada penjagaan anak-anak dari kerusakan, harus diubah menjadi kesadaran politik. Kesadaran politik inilah yang akan membuka pemikiran masyarakat bahwa kerusakan yang terjadi saat ini adalah kerusakan sistemis, yaitu kerusakan yang disebabkan oleh penerapan sistem sekuler liberal. 

Kesadaran politik masyarakat hanya bisa dibangun dengan dakwah politik. Aktivitas dakwah politik inilah yang akan mampu menggerakkan masyarakat untuk bersama-sama berjuang mengubah sistem liberal menjadi sistem Islam yang penuh keberkahan. 
Wallahualam bissawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update