Oleh Iin Parlina
Ibu Rumah Tangga
Israel sengaja menargetkan anak-anak Palestina yang mengakibatkan genosida,kejahatan terhadap kemanusiaan,dan kejahatan perang di jalur Gaza,serta kejahatan perang di Tepi Barat yang di duduki,demikian di laporkan komisi penyelidik PBB.
Laporan terbaru komisi tersebut menuduh bahwa pemerintah dan pasukan keamanan Israel "secara sengaja melakukan tindakan yang menyebabkan kematian serta penderitaan fisik dan mental yang berat terhadap ratusan ribu anak Palestina".
Bahkan,menurut komisi itu,pembunuhan terhadap anak-anak Gaza Palestina terus berlanjut bahkan setelah genjatan senjata pada Oktober 2025 lalu.
Komisi tersebut mengatakan punya dasar yang kuat untuk menyimpulkan bahwa tindakan-tindakan Israel"merupakan bagian dari strategi yang disengaja untuk menghancurkan masa depan rakyat Palestina di Gaza dengan menargetkan anak-anak mereka.
Kementerian Luar Negeri Israel mengatakan pihaknya"Sepenuhnya menolak"Laporan komisi tersebut,menyebutnya sebagai"fitnah palsu"dan sebuah karya propaganda yang sama keterlaluan dengan laporan-laporan sebelumnya.
Sedikitnya 73.025 orang telah tewas di Gaza termasuk lebih dari 21.280 anak-anak,menurut kementerian kesehatan yang dikelola Hamas,yang angkanya dianggap dapat diandalkan oleh PBB.
Selama beberapa dekade terakhir,entitas yahudi penjajah telah melakukan berbagai bentuk penyiksaan fisik dan psikologis terhadap anak-anak tahanan melalui serangkaian kebijakan sistematis yang melanggar nilai-nilai kemanusiaan. Anak-anak telah menjadi kelompok yang paling rentan terhadap pelanggaran tersebut,baik melalui pembunuhan,luka-luka,perampasan hak pendidikan,maupun penangkapan yang telah menimpa puluhan ribu anak saat penggerebekan,bentrokan di pos-pos pemeriksaan,di jalan-jalan,maupun di sekolah-sekolah. Anak-anak di Gaza juga kerap dijadikan tameng manusia dalam operasi militer entitas yahudi.
Anggota kantor media Hizbut Tahrir wilayah Sudan,Abdul Khaliq Abdoun,menegaskan bahwa kejahatan yang dilakukan entitas yahudi terhadap rakyat Palestina,khususnya anak-anak dan perempuan di jalur Gaza,merupakan bagian dari kebijakan sistematis yang berlandaskan genosida dan pembersihan etnis.
Abdoun turut mengkritik sikap dan rezim-rezim di negeri muslim terhadap penderitaan rakyat Palestina. Ia mengatakan,"Sikap diam politik terhadap tragedi yang terjadi di Palestina,penangkapan sewenang-wenang terhadap anak-anak kita,dan penderitaan keluarga kita merupakan cerminan nyata dari ketundukan kepada Barat,khususnya Amerika."Karena itu,ia menegaskan bahwa perjuangan Palestina telah membuka hakikat hubungan antara entitas yahudi dan para pendukungnya,serta menunjukkan perlunya perubahan politik yang nyata untuk membela rakyat Palestina dan menghentikan berbagai kejahatan yang terus berlangsung.
Berbeda dengan sistem Islam yaitu khilafah Islamiyah yang akan menghimpun kekuatan militer dan politik bersama,serta menolak campur tangan dan batas buatan penjajah. Secara syar'i,menegakkan khilafah wajib. Ia adalah sistem yang dulu membebaskan Palestina dari Bizantium,dan hanya dengannya pula anak-anak Palestina bisa dibebaskan kembali dari zionis. Itulah mengapa umat Islam butuh kepemimpinan bersama,Rasulullah Saw bersabda:"Sesungguhnya imam(Khalifah) itu laksana perisai,dibelakangnya kaum muslim berperang dan dengannya mereka berlindung."(HR Bukhari dan Muslim).
Fakta menunjukkan,tidak ada yang menyatukan kekuatan dan potensi kaum muslim yang begitu besar. Tidak ada yang mengomandoi untuk mengerakkan tentara kaum muslim. Lebih dari itu,syariah Islam tidak tegak sehingga perintah dan larangannya tidak dilaksanakan,khususnya dalam membebaskan Palestina dan wilayah kaum muslim lainnya.
Ini secara faktual,kaum muslim membutuhkan khilafah. Institusi warisan Rasulullah inilah yang akan menyatukan semua kekuatan dan potensi umat,menegakkan syariah dan memimpin umat dalam jihad fi Sabilillah dan menyebarkan dakwah ke seluruh penjuru dunia. Khilafah bukan sekedar simbol,ia adalah instrumen syar'i untuk menegakkan keadilan,melindungi darah umat,dan membebaskan negeri-negeri Islam dari penjajahan. Dan ketika khilafah tegak kembali,pembebasan Palestina bukan lagi sekadar harapan,tapi keniscayaan.
Wallahu'alam bissawab

No comments:
Post a Comment