Jovilda Nurzahrani Thufailah (Pegiat Dakwah)
Gen Z adalah generasi yang sejak kecil sudah akrab dengan internet dan teknologi digital. Hampir semua aktivitas mereka tidak lepas dari media sosial dan berbagai platform digital.
Kemudahan mengakses informasi memang membawa banyak manfaat. Namun, di balik itu semua, ada tantangan besar yang juga harus dihadapi. Salah satunya adalah rasa cemas yang semakin banyak dirasakan anak muda ketika memikirkan masa depan mereka (https://data.goodstats.id)
Berbagai survei menunjukkan bahwa Gen Z menjadi salah satu generasi yang paling rentan mengalami gangguan kesehatan mental. Banyak anak muda merasa khawatir tentang pendidikan, pekerjaan, kondisi ekonomi, hingga masa depan yang terasa penuh ketidakpastian. Belum lagi tekanan untuk selalu terlihat berhasil, kebiasaan membandingkan diri dengan kehidupan orang lain di media sosial, serta tuntutan dari lingkungan sekitar. Semua itu membuat sebagian dari mereka merasa lelah, kehilangan semangat, bahkan putus asa.
Kondisi ini bukan hanya terjadi di Indonesia. Di berbagai negara, anak-anak muda juga menghadapi persoalan yang hampir sama. Sulitnya mendapatkan pekerjaan, biaya hidup yang terus meningkat, dan kondisi dunia yang tidak menentu membuat banyak orang mulai merasa bingung ketika membayangkan masa depan. Tidak heran jika Gen Z sering disebut sebagai generasi yang paling cemas.
Meski begitu, ada sisi positif yang juga mulai terlihat. Banyak anak muda sekarang lebih berani menyampaikan pendapat, lebih peduli terhadap berbagai persoalan, dan tidak mudah menerima sesuatu tanpa berpikir kritis. Sikap seperti ini sebenarnya merupakan potensi yang besar. Jika diarahkan dengan benar, rasa cemas yang mereka alami bisa menjadi dorongan untuk mencari jalan keluar yang lebih baik, bukan justru membuat mereka menyerah.
Kalau dicermati lebih dalam, persoalan ini bukan semata-mata disebabkan oleh faktor pribadi. Ada sistem kehidupan yang turut membentuk cara berpikir generasi muda. Saat ini, kesuksesan sering diukur dari banyaknya harta, jabatan, atau popularitas. Akibatnya, tidak sedikit orang yang merasa dirinya gagal hanya karena belum mencapai standar yang dibentuk oleh lingkungan. Padahal, setiap orang memiliki jalan hidup dan ujian yang berbeda.
Di sisi lain, pembinaan terhadap generasi muda juga belum menjadi perhatian yang serius. Tidak sedikit anak muda yang justru diberi cap sebagai generasi yang malas, manja, atau terlalu sensitif. Padahal, mereka lebih membutuhkan bimbingan, dukungan, dan lingkungan yang dapat membantu mereka tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan berakhlak.
Sebagai seorang muslim, kita tentu tidak cukup melihat persoalan ini hanya dari sisi psikologis atau sosial.
Islam memiliki solusi yang mampu menenangkan hati manusia. Islam mengajarkan bahwa hidup adalah amanah dari Allah Swt. Setiap ujian yang diberikan pasti memiliki hikmah, dan tidak ada satu pun ketentuan-Nya yang sia-sia. Ketika seseorang meyakini hal itu, ia akan lebih siap menghadapi berbagai tantangan hidup tanpa kehilangan harapan.
Allah Swt. berfirman,
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram."(QS. Ar-Ra'd: 28)
Ayat ini mengingatkan bahwa ketenangan sejati bukan berasal dari harta, jabatan, atau pujian manusia. Hati akan benar-benar tenang ketika seseorang dekat dengan Allah Swt. dan yakin bahwa setiap masalah pasti memiliki jalan keluar yang telah Dia siapkan.
Rasulullah saw. juga bersabda,
"Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Semua urusannya adalah baik baginya. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu pun baik baginya."(HR. Muslim)
Hadis ini mengajarkan bahwa seorang mukmin tidak mudah putus asa. Saat mendapatkan nikmat, ia bersyukur. Ketika diuji dengan kesulitan, ia bersabar. Sikap inilah yang perlu dimiliki oleh generasi muda agar tidak mudah hanyut dalam rasa cemas dan tetap memiliki harapan kepada Allah Swt.
Islam juga tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah, tetapi mengatur kehidupan secara menyeluruh. Dalam Islam, negara memiliki tanggung jawab untuk mengurus kebutuhan rakyat, menyediakan pendidikan yang baik, membuka lapangan pekerjaan, serta menciptakan lingkungan yang mendukung lahirnya generasi yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia.
Dengan sistem yang berpihak kepada rakyat, generasi muda akan memiliki kesempatan yang lebih baik untuk berkembang dan menatap masa depan dengan optimis.
Sejarah Islam juga membuktikan bahwa banyak pemuda mampu menjadi tokoh besar karena dibina dengan akidah yang kuat dan semangat menuntut ilmu. Mereka tidak hanya unggul dalam ilmu agama, tetapi juga berkontribusi dalam ilmu pengetahuan, kepemimpinan, dan pembangunan peradaban.
Hal ini menunjukkan bahwa Islam mampu melahirkan generasi yang kuat, baik secara mental, spiritual, maupun intelektual.
Karena itu, sudah semestinya generasi muda tidak hanya mencari solusi dari berbagai pemikiran yang terus berubah mengikuti perkembangan zaman. Islam perlu kembali dijadikan pedoman dalam menjalani kehidupan.
Dengan memahami Islam secara menyeluruh, seseorang akan memiliki tujuan hidup yang jelas, tidak mudah putus asa, dan mampu menghadapi berbagai tantangan dengan penuh keyakinan.
Allah Swt. berfirman,
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri."(QS. Ar-Ra'd: 11)
Ayat ini mengingatkan bahwa perubahan harus dimulai dari diri sendiri. Generasi muda perlu memperkuat keimanan, terus menuntut ilmu, dan memiliki kepedulian terhadap kondisi umat. Dengan bekal itulah mereka dapat menjadi bagian dari perubahan yang membawa kebaikan.
Kecemasan yang dirasakan banyak anak muda saat ini seharusnya tidak membuat mereka berhenti melangkah. Justru dari kondisi inilah bisa lahir generasi yang lebih kuat, lebih peduli terhadap umat, dan semakin dekat kepada Allah Swt. Ketika Islam dijadikan pedoman hidup secara menyeluruh, harapan untuk melahirkan generasi terbaik bukan lagi sekadar angan-angan, tetapi menjadi sesuatu yang layak untuk diperjuangkan bersama.
Wallahu a'lam bish-shawab

No comments:
Post a Comment