Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Gelar Tinggi, Gaji Rendah: Siapa yang Menghargai Para Pendidik?

Saturday, July 11, 2026 | Saturday, July 11, 2026 WIB





Oleh: Iffah Komalasari, S.Pd (Pendidik Generasi)

Beberapa hari terakhir, publik dibuat prihatin oleh pengakuan seorang dosen ASN di Bandung yang menjadi saksi dalam sidang Mahkamah Konstitusi. Dengan gelar magister (S2) dan lolos seleksi CPNS yang sangat kompetitif, ia hanya menerima penghasilan sekitar Rp3,3 juta per bulan, termasuk tunjangan. Demi menghidupi keluarganya, ia terpaksa berjualan bubur bayi bersama istrinya setiap akhir pekan. Bahkan, ia mengaku beberapa kali menolak bimbingan mahasiswa karena harus mengejar pekerjaan sampingan untuk memenuhi kebutuhan hidup (nasional.kompas.com, 6/7/2026).

Kisah ini bukan sekadar cerita tentang seorang dosen. Ini adalah cermin retaknya wajah pendidikan kita. Lebih memilukan lagi ketika terungkap bahwa ada dosen yang menjadi pengemudi ojek daring, kuli bangunan, hingga mengajar di empat atau lima kampus sekaligus agar dapur tetap mengepul.

Sebagai seorang pendidik, saya tidak hanya merasa prihatin. Saya juga bertanya dalam hati, bagaimana mungkin bangsa ini terus berbicara tentang generasi emas, inovasi, dan kemajuan pendidikan, sementara orang-orang yang dipikul amanah mencerdaskan bangsa justru masih berjuang memenuhi kebutuhan hidup paling mendasar?

Ketika Pendidikan Tidak Lagi Menjadi Prioritas

Pendidikan sering disebut sebagai investasi masa depan bangsa. Namun, realitas menunjukkan bahwa penghargaan terhadap profesi pendidik belum sebanding dengan tanggung jawab yang mereka emban.

Dosen tidak hanya mengajar di ruang kelas. Mereka membimbing penelitian, mengembangkan ilmu pengetahuan, menulis karya ilmiah, mengabdi kepada masyarakat, hingga membentuk karakter mahasiswa. Semua itu membutuhkan waktu, tenaga, konsentrasi, dan ketenangan berpikir.

Sayangnya, ketika kebutuhan ekonomi mendesak, fokus itu terpecah. Energi yang seharusnya dicurahkan untuk menyiapkan materi kuliah, membimbing mahasiswa, atau melakukan riset akhirnya habis untuk mencari penghasilan tambahan.

Akibatnya, bukan hanya dosen yang dirugikan. Mahasiswa kehilangan pendampingan terbaik, kualitas pendidikan menurun, produktivitas penelitian melemah, dan pada akhirnya bangsa kehilangan kesempatan melahirkan generasi unggul.

Sebagai guru sekaligus calon mahasiswa magister yang baru mendapatkan amanah beasiswa untuk melanjutkan studi, saya justru semakin merenung. Pendidikan tinggi seharusnya menjadi jalan lahirnya para ilmuwan, pemikir, dan pendidik yang akan membangun peradaban. Namun, jika setelah menempuh pendidikan tinggi seseorang masih harus bergumul dengan persoalan ekonomi yang berat, bagaimana mungkin ia dapat mencurahkan seluruh potensinya untuk umat?

Masalahnya Bukan Sekadar Gaji

Banyak orang mungkin menganggap solusi persoalan ini cukup dengan menaikkan gaji dosen. Memang, kesejahteraan perlu diperbaiki. Namun, persoalannya tidak sesederhana itu.

Masalah utamanya bersifat sistemik.

Dalam sistem ekonomi kapitalisme, pendidikan lebih sering dipandang sebagai sektor biaya daripada investasi peradaban. Anggaran pendidikan memang tampak besar di atas kertas, tetapi sebagian besar terserap untuk belanja birokrasi, proyek, dan berbagai program administratif. Di sisi lain, kesejahteraan tenaga pendidik, terutama di perguruan tinggi, sering kali belum menjadi prioritas utama.

Kapitalisme juga menjadikan ukuran keberhasilan pembangunan lebih banyak bertumpu pada pertumbuhan ekonomi dan investasi. Pendidikan akhirnya diposisikan sebagai penyedia tenaga kerja bagi industri, bukan sebagai sarana membangun manusia yang bertakwa, berilmu, dan berkepribadian mulia.

Tidak mengherankan jika dosen dipaksa mengejar sertifikasi, publikasi, administrasi, dan berbagai target birokrasi, tetapi pada saat yang sama masih harus memikirkan biaya kontrakan rumah dan kebutuhan makan keluarganya.

Ketika sistem gagal memuliakan para pendidik, sesungguhnya yang sedang dikorbankan adalah masa depan generasi.

Islam Memuliakan Ilmu dan Pengajarnya

Islam memiliki cara pandang yang sangat berbeda terhadap pendidikan. Ilmu bukan sekadar alat memperoleh pekerjaan, melainkan sarana membangun peradaban yang diridhai Allah.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalaam bersabda,

"Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi." (HR Abu Dawud dan Tirmidzi)

Hadis ini menunjukkan betapa mulianya kedudukan orang-orang yang mengajarkan ilmu. Karena itu, negara dalam Islam tidak boleh membiarkan para pengemban ilmu hidup dalam kesulitan hingga kehilangan fokus menjalankan amanahnya.

Dalam sejarah peradaban Islam, para guru, ulama, peneliti, dan ilmuwan mendapatkan perhatian besar dari negara. Baitul Mal menjadi sumber pembiayaan pendidikan sehingga akses belajar terbuka luas, sementara para pengajar memperoleh jaminan kehidupan yang layak. Mereka dapat mengabdikan diri sepenuhnya pada pengembangan ilmu tanpa dibebani kecemasan memenuhi kebutuhan pokok.

Negara juga berkewajiban mengelola sumber daya alam sebagai kepemilikan umum untuk membiayai kebutuhan masyarakat, termasuk pendidikan. Dengan pengelolaan yang sesuai syariat, negara memiliki sumber pemasukan yang kuat tanpa harus bergantung pada utang berbunga ataupun membebani rakyat dengan berbagai jenis pajak.

Dalam sistem seperti inilah, pendidikan benar-benar menjadi pilar pembangunan umat, bukan sekadar pelengkap pembangunan ekonomi.

Generasi Hebat Lahir dari Guru yang Dimuliakan

Tidak ada generasi berkualitas tanpa pendidik yang berkualitas. Dan tidak mungkin lahir pendidik yang berkualitas apabila hidupnya terus dihimpit persoalan ekonomi.

Guru dan dosen memang mengajar dengan keikhlasan. Namun, keikhlasan bukan alasan untuk mengabaikan hak mereka mendapatkan kehidupan yang layak. Islam mengajarkan keseimbangan antara penghormatan terhadap ilmu dan pemenuhan kebutuhan para pengembannya.

Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman,

"Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat." (QS Al-Mujadilah: 11)

Ayat ini bukan hanya penghormatan kepada orang berilmu, tetapi juga menjadi pengingat bahwa masyarakat dan negara harus ikut memuliakan mereka.

Hari ini kita boleh merasa sedih melihat dosen menjadi pengemudi ojek daring, berjualan bubur bayi, atau menjadi kuli bangunan demi menyambung hidup. Namun, keprihatinan saja tidak akan menyelesaikan persoalan.

Sudah saatnya kita melihat akar masalah secara jujur. Ketika pendidikan dikelola dengan paradigma kapitalisme, kesejahteraan pendidik akan selalu berhadapan dengan keterbatasan anggaran dan logika untung-rugi. Sebaliknya, Islam memandang pendidikan sebagai kebutuhan dasar umat dan tanggung jawab negara.

Karena itu, solusi yang benar tidak cukup hanya menaikkan gaji atau menambah tunjangan. Yang dibutuhkan adalah perubahan paradigma dan sistem yang menjadikan ilmu sebagai fondasi peradaban, memuliakan para pendidik, serta menjamin kesejahteraan mereka melalui penerapan syariat Islam secara kaffah.

Sebab, jika kita sungguh-sungguh menginginkan lahirnya generasi terbaik, maka sudah semestinya kita terlebih dahulu memuliakan orang-orang yang setiap hari menyiapkan masa depan mereka. 

Wallahu a'lam bish-shawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update