Oleh Murdaningsih
Pendidik Generasi
Nusantaranews.net, Satu generasi muda dalam lautan dinamika zaman
yang terus berubah dan mencuri perhatian dunia yaitu Generasi Z. Dikenal
sebagai generasi penerus setelah Generasi Y atau Millenials, Generasi Z
memiliki ciri khas dan keunikan yang membuatnya menarik untuk dipelajari.
Gen Z dikenal sebagai “Digital Native”, karena
kebiasaan hidup mereka yang sangat bergantung pada teknologi digital menjadikan
mereka sebagai generasi yang serba instan, hal ini disebabkan oleh keinginan
mereka agar kebutuhannya terpenuhi dengan cepat dan mudah.
Kebebasan berpendapat, kebebasan berekspresi,
dan kebebasan berkreasi. Kehadiran mereka telah membawa perubahan signifikan
dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam dunia bisnis, pendidikan, dan
budaya.
Namun, Gen Z juga memiliki tantangan dan
masalah yang perlu diatasi. Meskipun memiliki manfaat, kehidupan online yang instan
menciptakan tekanan yang terus-menerus. Mereka terpapar pada "highlight
reel" kehidupan orang lain, yang memicu perbandingan sosial tidak sehat,
rasa tidak cukup (inadequacy), dan FOMO (Fear Of Missing Out). Cyberbullying
dan tekanan untuk menjaga citra online juga menjadi sumber kecemasan utama.
Data yang diliris dari GoodState pada April 2026
menunjukkan bahwa 60% Gen Z di Indonesia cemas terhadap masa depan. Selain itu,
57% mengaku tertekan oleh masalah finansial, 42% terbebani ekspektasi sosial,
dan 36% merasa khawatir terhadap situasi yang berada di luar kendali mereka.
Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa kecemasan yang dialami Gen Z bukan
sekadar persoalan pribadi, melainkan berkaitan erat dengan kondisi sosial yang
mereka
hadapi. (data.goodstats.id/statistic)
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia,
tetapi di seluruh penjuru dunia. Survei global seperti studi Unicef menunjukkan
lebih dari 60% mereka melaporkan stres signifikan akibat hiper-konektivitas
media sosial, ketidakpastian ekonomi global, perubahan iklim (eco-anxiety),
hingga tekanan akademik dan persaingan kerja yg ketat. (mooc.ugm.ac.id)
Namun, dari kecemasan tersebut tidak selalu
berakhir buruk. Dari kondisi tersebut, banyak dari Gen Z yang menyadari bahwa
negara sedang tidak baik-baik saja. Akibatnya muncul gelombang resistensi yang
diprediksi mampu menjadi titik balik bagi generasi ini. Semua ini menjadikan mereka
mulai kritis, kemudian berusaha menegakkan keadilan, dan mencari sumber
masalahnya. Mereka juga memiliki potensi yang besar untuk mengubah dunia dengan
cara yang baru dan inovatif dan mempunyai kekuatan positif mampu untuk
memecahkan tantangan global yang kompleks.
Krisis multidimensi yang melanda dunia saat
ini menjadi pemicu utama kecemasan Gen Z. Melalui peradaban sekularistik
kaptalistik yang berkembang saat ini. Potensi mereka sebagai pemuda dilemahkan
dengan berbagai hal yang merusak jati diri.
Generasi muda justru seringkali mendapat
stigma buruk dari generasi diatasnya akibat abainya riayah negara terhadap
generasi. Di sisi lain, kecemasan dan sikap kritis Gen Z bisa menjadi peluang
perubahan untuk mereka bangkit menuju kondisi yang lebih baik.
Islam hadir sebagai solusi dari krisis yang melanda dunia saat ini. Penerapan Islam secara Kaffah akan mendatangkan “rahmatan lil'alamin” serta membawa ketenangan dan keselamatan hidup bagi manusia. Kehadiran negara khilafah sebagai pelindung dan pelayan umat, menjamin pemenuhan kebutuhan hidup secara adil.
Karakter generasi di masa kejayaan Islam
sangat kuat. Sejarah peradaban Islam dibangun di atas pundak pemuda. Sejak awal
kerasulan hingga masa kejayaan, energi, keberanian, dan pemikiran kritis
generasi mudalah yang menjadi motor penggerak utama perubahan sosial, dakwah,
dan ekspansi ilmu pengetahuan.
Dengan menyadarkan pemuda hari ini untuk
mengemban mabda Islam dan sebagai penggerak perubahan menuju masa depan yang
lebih baik, serta peduli dengan kondisi umat saat Ini. Tujuannya agar masa
depan generasi muda menjadi lebih baik, bukan hanya sebatas angan-angan.
Wallahualam bissawab.

No comments:
Post a Comment