Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Trauma yang Merenggut Suara Anak Gaza

Friday, June 26, 2026 | Friday, June 26, 2026 WIB

 



Oleh Nazwa Zalfa
Mahasiswa Aktif

 

"Tidak ada satu pun anak di Gaza yang tidak trauma," ungkap psikoterapis anak asal Norwegia, Katrin Glatz Brubakk, kepada BBC Mundo.

Pernyataan tersebut menggambarkan betapa berat penderitaan yang dialami anak-anak di Gaza. Dalam laporan BBC Indonesia berjudul "Pilu Anak-anak Gaza Mendadak Kehilangan Kemampuan Bicara", dijelaskan bahwa trauma akibat perang telah memengaruhi hampir seluruh anak di Gaza. Bahkan, sebagian dari mereka kehilangan kemampuan berbicara akibat tekanan psikologis yang sangat berat.

 

Anak-anak seharusnya tumbuh dalam lingkungan yang aman, bermain bersama teman-temannya, belajar di sekolah, dan mendapatkan kasih sayang dari keluarga. Namun, kondisi itu sangat berbeda dengan yang dialami anak-anak di Gaza, Palestina. Mereka hidup di tengah perang, suara ledakan, kehilangan anggota keluarga, serta ketakutan yang terus menghantui setiap hari.

Detik News dalam artikelnya pada 30 Mei 2026 menuliskan bahwa "kekerasan, kehancuran, dan kematian di Gaza membuat sejumlah anak merespons penderitaan yang luar biasa itu dengan diam." Diam yang dimaksud bukan sekadar enggan berbicara, melainkan hilangnya kemampuan berbicara akibat trauma yang mendalam.

Kondisi ini menunjukkan bahwa serangan yang terjadi di Gaza tidak hanya menghancurkan bangunan dan menimbulkan korban jiwa, tetapi juga merusak kesehatan mental masyarakat, terutama anak-anak. Mereka hidup dalam ketakutan yang berkepanjangan. Banyak yang kehilangan orang tua, saudara, rumah, bahkan masa depan yang seharusnya mereka miliki.

Trauma yang dialami anak-anak Gaza bukanlah masalah kecil. Ketika seorang anak kehilangan kemampuan berbicara karena tekanan psikologis yang sangat berat, hal itu menunjukkan betapa dalam luka yang mereka rasakan. Mereka tidak hanya terluka secara fisik, tetapi juga secara mental dan emosional.

Sayangnya, hingga saat ini dunia belum mampu menghentikan penderitaan tersebut. Berbagai bantuan kemanusiaan memang terus dikirimkan, tetapi serangan dan penjajahan masih berlangsung. Akibatnya, penderitaan rakyat Palestina, khususnya anak-anak, terus berlanjut dari waktu ke waktu.

Anak-anak Gaza telah kehilangan banyak hal yang seharusnya mereka miliki. Sebagian kehilangan keluarga, rumah, pendidikan, bahkan kemampuan berbicara akibat trauma yang sangat berat. Kondisi ini menjadi bukti bahwa perang dan penjajahan telah menimbulkan penderitaan yang luar biasa bagi generasi masa depan Palestina.

Karena itu, penderitaan anak-anak Gaza tidak boleh dianggap sebagai hal yang biasa. Mereka membutuhkan perlindungan, keamanan, dan masa depan yang lebih baik. Dalam pandangan Islam, menghentikan kezaliman, membela kaum tertindas, dan mewujudkan persatuan umat merupakan bagian dari upaya untuk mengakhiri penderitaan yang terus menimpa rakyat Palestina.

Solusi Islam

Islam tidak hanya memberikan solusi sementara berupa bantuan makanan, obat-obatan, maupun bantuan kemanusiaan lainnya. Semua itu memang penting, tetapi belum menyelesaikan akar persoalan. Selama penjajahan dan serangan masih berlangsung, penderitaan rakyat Palestina akan terus terjadi.

Islam menawarkan solusi yang lebih mendasar, yaitu menghilangkan sumber kezaliman yang menjadi penyebab utama penderitaan tersebut. Dalam sejarah peradaban Islam, Khilafah berperan sebagai pelindung umat Islam dan penjaga keamanan wilayah kaum muslim. Institusi ini memiliki tanggung jawab untuk melindungi rakyatnya, termasuk membela kaum muslim yang mengalami penindasan di berbagai wilayah.

Selain itu, umat Islam perlu membangun kesadaran bahwa persatuan merupakan kekuatan yang sangat penting. Perpecahan hanya akan melemahkan umat dan menghambat upaya untuk melindungi saudara-saudara yang tertindas. Oleh karena itu, persatuan umat berdasarkan ajaran Islam menjadi salah satu langkah penting dalam memperjuangkan pembebasan Palestina.

Di sisi lain, umat Islam juga harus terus memberikan dukungan kepada rakyat Palestina melalui doa, edukasi, bantuan kemanusiaan, serta berbagai upaya yang sesuai dengan kemampuan masing-masing. Dukungan tersebut menunjukkan bahwa penderitaan rakyat Palestina bukan hanya persoalan mereka semata, melainkan juga menjadi perhatian seluruh umat Islam.

Pada akhirnya, anak-anak Gaza berhak hidup aman, memperoleh pendidikan yang layak, serta tumbuh dalam lingkungan yang penuh kasih sayang. Mereka tidak seharusnya kehilangan masa kecil, keluarga, ataupun suara mereka akibat perang yang berkepanjangan. Oleh karena itu, berbagai upaya untuk menghentikan kezaliman dan mewujudkan kehidupan yang lebih baik bagi rakyat Palestina harus terus dilakukan.

Wallahualam bishawab.

 

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update