Oleh Sumiyah Umi Hanifah
Pemerhati Kebijakan Publik dan Member AMK
Usia kanak-kanak merupakan fase yang
paling krusial. Kehidupan anak-anak biasa dipenuhi dengan aktivitas bermain,
belajar dan bergembira bersama dengan orang-orang tercinta. Dunia anak adalah
dunia eksplorasi, tumbuh kembang dan menata masa depan. Namun ternyata tidak
demikian dengan kehidupan anak-anak di Gaza. Mereka hidup dengan memeluk rasa
takut. Menarik dan mengembuskan napas di bawah desingan peluru, ledakan bom,
serta berbagai krisis kemanusiaan ekstrem lainnya, seperti: kemiskinan
struktural, kelaparan, penyakit, serta trauma psikologis yang mendalam.
Dikutip dari detik.com, Sabtu,
31/5/2026, menyebutkan bahwa krisis kemanusiaan di Gaza, seperti: kekerasan,
kehancuran, dan pembantaian yang dilakukan di depan mata anak-anak, membuat
mereka merespon penderitaan luar biasa itu dengan "diam". Bahkan
sebagian anak-anak sampai tidak lagi memiliki kemampuan berbicara akibat trauma.
Katrin Glatz Brubakk, seorang
psikotropis anak dari Norwegia mengatakan kepada BBC Mundo, "Tidak ada
satupun anak di Gaza yang tidak mengalami trauma. Saat ini sudah lebih dari
satu juta anak yang menderita trauma parah." ungkap relawan yang telah dua
kali melakukan misi kemanusiaan ke Gaza tersebut.
Kondisi di Gaza selalu mencekam.
Meskipun telah enam bulan pengumuman catatan senjata, namun faktanya, tindakan
kekerasan dan serangan-serangan dari pihak Israel masih terus berlanjut. Warga
Gaza terus menjadi sasaran empuk penyerangan dan pembunuhan oleh zionis 1sr4el.
Menurut data dari UNICEF, sejak Oktober 2023, pasukan 1sr4el dilaporkan telah
membunuh 20 ribu anak dan melukai lebih dari 41 ribu orang.
Bagaimana mungkin anak-anak di Gaza,
Palestina tidak mengalami trauma psikologis yang berat? sementara mereka telah
kehilangan orang tua, saudara, teman, guru, serta orang-orang tercinta yang
dibantai dengan cara biadab. Bahkan, anak-anak di Gaza sering melihat
tubuh-tubuh yang hancur, terpotong-potong, serta mencium amisnya darah yang
tertumpah, sebagaimana yang diungkapkan oleh Glatz.
Belum lagi mereka juga mengalami
krisis pangan dan gizi, sehingga berisiko tinggi mengalami kekurangan gizi.
Hancurnya infrastruktur sanitasi oleh zionis memicu terjadinya penyebaran
berbagai penyakit. Anak-anak rentan terserang infeksi serta penyakit kulit,
akibat kurangnya pasokan obat-obatan dan air bersih.
Faktanya, berbagai bantuan
kemanusiaan berupa: obat-obatan, peralatan medis, vitamin, dan makanan, banyak
yang diblokade oleh 1sr4el di wilayah perbatasan, sehingga bantuan tersebut
tidak bisa masuk ke Gaza.
Hal yang sama dialami oleh kapal
Global Sumut Flotilla. Baru-baru ini, armada sipil kemanusiaan yang membawa
para aktivis, relawan, dan juga bantuan peralatan medis, serta makanan untuk
warga Gaza diadang oleh zionis. Bahkan dengan arogannya pasukan 1sr4el
melakukan penangkapan, penyiksaan, serta pemerkosaan terhadap para aktivis.
1sr4el telah berulang kali melakukan pelanggaran hukum internasional, namun
selalu lolos dari jerat hukum. Sebab, pasukan 1sr4el disinyalir berlindung di
bawah ketiak Amerika Serikat.
Itulah watak asli Zionis 1srael,
yang selalu membuat kerusakan di muka bumi. Bahkan, anak-anak Gaza yang tak
berdosa pun tidak luput dari target pembunuhan, penyiksaan fisik dan psikis.
Sementara masyarakat dunia di luar
sana hanya diam membisu. Para pemimpin negeri-negeri Muslim hanya sibuk
mengecam, tanpa melakukan tindakan tegas untuk membebaskan rakyat Palestina dan
mengusir Israel. Para penguasa Muslim secara tidak langsung telah melakukan
penghianatan terhadap perjuangan Muslim Palestina. Beberapa penguasa Muslim
justru turut bergabung dalam Board of peace (BoP) yang diinisiasi oleh Trump.
Mereka tidak sadar telah terjebak ke dalam instrumen politik yang dimainkan
oleh presiden AS tersebut.
Masyarakat dunia pun makin hari
makin abai. Berita-berita di berbagai media massa mulai sepi dari pemberitaan
yang terkait dengan nasib rakyat Palestina.
Padahal, malam-malam yang dingin
masih memeluk dan mencengkram tubuh-tubuh mungil di Gaza. Tubuh-tubuh yang
menggigil hebat karena menahan rasa lapar dan sakit. Tubuh letih yang tercabik
luka, bermandikan airmata, dan trauma. Sayangnya, derita sunyi anak-anak Gaza
ini hanya menjadi cerita basi yang mudah terlupakan.
Umat Islam saat ini dalam kondisi
terpecah-belah. Sekat nasionalisme yang diciptakan oleh kaum kafir Barat, telah
menghancurkan ukhuwah Islamiyyah (persaudaraan) kaum Muslimin. Tanpa persatuan,
umat tak lagi punya kekuatan, sehingga mudah ditindas dan menjadi bahan
olok-olokan musuh-musuh Islam. Kaum Muslimin kini telah kehilangan
"junnah" (perisai/pelindung) yaitu khilafah.
Derita dan trauma anak-anak
Palestina harus segera diakhiri. Bukan hanya diterapi atau direhabilitasi,
melainkan dicari solusi hakiki, agar sang penjajah Israel segera angkat kaki.
Wilayah Palestina harus dibebaskan dari tangan dan kaki kotor kaum zionis yang
telah merampas Tanah Palestina, Tanah Suci negeri Para Nabi.
Kejahatan entitas zionis hanya bisa
dilawan dengan tindakan tegas dan gagah berani yaitu dengan "jihad fii
Sabilillah". Sebagaimana firman Allah Swt., "Perangilah di jalan
Allah orang-orang yang memerangi kamu dan jangan melampaui batas. Sesungguhnya
Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas." (T.Q.S. Al Baqarah
ayat 190).
Oleh karena itu, dibutuhkan satu institusi
"khilafah" yang akan mengirimkan tentaranya untuk membebaskan
Palestina dan juga Negeri-Negeri Muslim lainnya. Hanya Khilafah yang mampu
menyatukan umat Muslim di seluruh dunia.
Umat harus memiliki kesadaran akan
pentingnya mengupayakan tegaknya Khilafah. Kewajiban menegakkan Khilafah
didasarkan pada kesepakatan ulama, dan "ijma' sahabat" serta sesuai
dengan penafsiran nash (Al-Qur'an dan hadis), yakni mengenai urgensi
kepemimpinan Islam untuk menerapkan hukum syariat dan mengurus kemaslahatan
umat. Sebab, tanpa adanya khilafah, akan banyak kewajiban-kewajiban dan syariat
Islam yang tidak bisa diterapkan.
Pendapat ulama ahlussunnah wal
jamaah dan mazhab besar, menyepakati bahwa mengangkat seorang imam (khalifah)
adalah wajib. Dalilnya dalam ilmu Ushul fiqih, yaitu "Suatu kewajiban
tidak menjadi sempurna tanpanya, maka sesuatu itu menjadi wajib pula".
Dalam Islam, menegakkan hukum-hukum
Allah memerlukan institusi atau kekuasaan (imamah) agar dapat terlaksana
kewajiban-kewajiban syariat, seperti: hukuman rajam bagi pezina muhshan, potong
tangan bagi 'pencuri', hukum qishas bagi kasus pembunuhan, dll.
Dengan demikian keberadaan khilafah
sangat urgen untuk mencegah kekacauan (anarki), menegakkan keadilan, dan menjaga
muruah umat, termasuk untuk menyelamatkan anak-anak Gaza dari kezaliman 1sr4el.
Wallahualam bissawab.

No comments:
Post a Comment