Oleh : Ummu Azimah
Seluruh anak di Gaza, Palestina dilaporkan mengalami trauma psikologis yang sangat mendalam akibat konflik berkepanjangan dan blokade. Anak-anak hidup dalam trauma parah dengan kondisi yang penuh ketidakpastian dan berlangsung lama. Kekerasan, kehancuran, dan kematian di Gaza membuat sejumlah anak merespons penderitaan yang luar biasa itu dengan diam.
Salah satunya adalah Adam. Sebelum perang terjadi, Adam adalah anak yang ceria, banyak bicara, lincah, aktif dan senang bermain di luar ruangan. Suatu hari, Adam dan ayahnya pergi mengunjungi kakek juga neneknya di sebuah daerah yang tidak ada perintah evakuasi dan seharusnya aman.
Namun, tanpa peringatan sebelumnya, sebuah proyektil jatuh sangat dekat dan melukai mereka. Sungguh miris, anak kecil yang berusia lima tahun menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri ketika ayahnya menghembuskan nafas terakhirnya disampingnya.
Adam juga terluka parah, kehilangan kaki dan tubuhnya pun terluka.
Peristiwa tersebut membuat Adam berhenti berbicara dengan dunia.
Perang yang terus berlangsung, serangan Israel yang tiada henti membombardir seluruh rakyat Palestina, membuat anak-anak Gaza telah banyak kehilangan. Selain rasa aman yang telah hilang sepenuhnya karena besarnya kehancuran yang berdampak pada semua orang di Gaza. Mereka juga kehilangan keluarga, guru, tetangga, teman dan orang-orang yang mereka cintai.
Banyak anak Gaza yang sering melihat tubuh korban serangan Israel yang terpotong-potong bersimbah darah. Bahkan mereka membantu mengumpulkan sisa-sisa tubuh manusia atau bagian-bagian otak di jalan. Tidak terbayang betapa mengerikannya kehidupan yang mereka alami.
Tidak ada anak di Gaza yang bisa tidur dengan kepastian bahwa mereka akan bangun keesokan harinya. Jadi perang ini tidak hanya menyebabkan trauma ekstrem, tetapi juga memengaruhi seluruh pandangan dunia mereka.
Menurut psikoterapis anak dari Norwegia, Katrin Brubakk menyampaikan bahwa setiap anak Gaza mengalami trauma parah, luka batin dan krisis kemanusiaan yang dialami membuat mereka membisu, kesulitan belajar serta terancam menjadi generasi yang hilang.
*Penerapan Sistem Demokrasi - Sekuler Biang Keladinya*
Derita sunyi yang dialami anak2 Gaza hingga mereka kehilangan kemampuan bicara adalah dampak kejahatan entitas zionis yang terus menyerang, membunuh dan menghancurkan Gaza.
Skenario genosida rakyat Gaza dilakukan untuk menghancurkan fisik dan mental.
Dunia tak mampu menghentikan kejahatan entitas Zionis ini, kecuali sedikit bantuan kemanusiaan. Sementara penguasa muslim justru melakukan pengkhianatan terhadap perjuangan muslim Palestina.
Mereka justru berangkulan tangan dengan Israel bahkan menjalin kerja sama strategis dengan AS. Hal ini dilakukan semata-mata demi mempertahankan jabatan mereka, sehingga tidak memedulikan nasib saudara mereka sesama muslim.
Semua derita yang dirasakan penduduk Gaza diakibatkan sekat nasionalisme yang bercokol dibenak kaum muslimin saat ini. Sehingga merasa permasalah yang dialami muslim Gaza bukanlah prioritas mereka. Padahal Rasulullah saw. bersabda
"Perumpamaan sesama mukmin pada kasih sayang, rahmat dan ihsan seumpama sebuah jasad. Apabila salah satu anggota merasa sakit maka anggota yang lain berjaga malam dan demam."
(HR Bukhari dan Muslim)
Paham nasionalisme ini lahir dari penerapan sistem demokrasi - sekuler ini juga menyebabkan para pemimpin negeri muslim ini bersikap pengecut dan membebek kepada Amerika yang merupakan negara adidaya saat ini. Tidak adanya persatuan kaum muslimin mengakibatkan mereka mencari aman dengan menjalin kerja sama erat dengan AS.
*Solusi Sistemik Perisai Hakiki*
Menghentikan kebrutalan dan trauma psikologis anak-anak Gaza tidak cukup hanya dengan bantuan kemanusiaan, melainkan membutuhkan institusi negara yang berfungsi sebagai perisai (junnah) untuk menghentikan penjajahan.
Persatuan umat Islam adalah solusinya. Karena dialah yang akan menjadi pelindung umat. Persatuan Islam dengan penerapan Islam kaffah inilah yang akan mampu menandingi kesombongan AS dan mengusir Israel dari tanah Palestina
Derita anak2 Palestina harus segera diakhiri, tak sekedar diterapi, tapi negeri mereka harus dibebaskan dari penjajahan Israel. Kejahatan entitas zionis harus dilawan dengan jihad fii sabiilillah. Untuk itu dibutuhkan penerapan Islam kaffah yang akan mengirimkan tentaranya untuk membebaskan Palestina. Sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Umar Bin Khattab yang mengirimkan pasukan di bawah komando Khalid Bin Walid untuk membebaskan Palestina. Kemudian pembebasan yang kdeua dilakukan oleh Shalahudin AL-Ayyubi. Terlihat jelas bahwa pembebasan negeri Palestina di masa lalu pun melalui jihad fii sabilillah bukan melalui kerja sama yang justru merugikan muslim Palestina.
Kesadaran perjuangan menerapkan Islam kaffah serta persatuan kaum muslimin seluruh dunia sangat penting bagi pembebasan Palestina. Dengan demikian, solusi utama dari trauma adalah menghilangkan akar masalahnya secara tuntas, yang mana dalam perspektif Islam hal ini berarti penerapan Islam secara kaffah agar anak-anak Gaza mendapatkan kembali hak mereka atas lingkungan yang aman dan fasilitas pendidikan yang layak.
Wallahualam bissawab.

No comments:
Post a Comment