Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Thawaf Wada, Bukan Perpisahan Biasa

Tuesday, June 16, 2026 | Tuesday, June 16, 2026 WIB




Oleh: Emmy Harti Haryuni 


Ada perpisahan yang tidak berasal dari pertengkaran, tapi dari rasa cinta dan rindu yang tlah lama terpendam. Disitulah ada tangis yang tak mampu dibendung, rasanya sungguh menyesakkan dada.


Perpisahan yang rasanya tak pernah diharapkan. Rasanya ingin tidak terpisahkan, berhasrat selamanya bersama. Tak ingin mengakhiri kenikmatan ruku dan sujud di Baitullah.


Dialah thawaf wada, inilah ibadah mahdah paling menyesakkan dada. Sebuah ibadah yang menyentuh lapisan relung hati terdalam jiwa seorang muslim. Thawaf perpisahan bagi jamaah haji ketika hendak meninggalkan Mekkah.


Lambaian Tangan Terakhir


Betapa perjalanan ibadah haji seorang muslim adalah penantian panjang dan lama. Sejak dimulai hanya sebutir benih angan. yang awalnya tak berani menjadi impian, hanya bayangan yang sesekali muncul.


Lalu berubah menjadi harapan yang hanya bertahta di hati. Namun dari situlah setiap receh rupiah bersemi setiap hari di dalam celengan. Mengumpulkan sedikit demi sedikit asa itu saat sadar semua gemerlap dunia tak mampu memberikan kebahagiaan.


Perjuangan dan pengorbanan mengumpulan setiap sen rupiah sungguh sangat lama. Antrian panjang daftar haji semakin menambah panjang perjuangan ini. Hingga ketika nama itu muncul sebagai jamaah yang beruntung memenuhi panggilan Allah.


Kelelahan dengan segala permasalan pelik selama persiapan keberangkatan, urusan keimigrasian, koordinasi rombongan, lelahnya di bandara, kegaduhan soal koper yang tertukar, jamaah yang tersesat di jalan, keterlambatan makanan kathering, kelelahan tak henti selama di Mina, padang Arafah, Muzdalifah, dan lain sebagainya seketika itu sirna, lenyap saat thawaf wada dilaksanakan.


Sadarlah bahwa segala kerepotan, kelelahan, kebingungan, dan lain sebagainya yang menguji kesabaran selama perjalanan menuju Baitullah untuk menunaikan ibadah haji adalah juga bernilai ibadah. Bukan keburukan atau bahkan kutukan yang  bisa menjadi bahan hinaan untuk merendahkan ketika kembali ke tanah air.


Ternyata semua perjuangan dan pengorbanan berpuluh-puluh tahun tuk bisa menuju Baitullah hingga terwujud bukanlah sebuah aktivitas yang berat. Tapi yang berat adalah melangkahkan kaki saat melakukan thawaf wada. Betapa rindu pada Baitullah itu memang berat!


Salam Perpisahan Elegan dan Berkelas


Bukankah setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Begitulah dunia tak ada yang abadi, hanya di syurgalah yang tak pernah ada perpisahan karena segalanya kekal abadi selamanya.


Thawaf wada adalah simbol perpisahan yang penuh dengan kemuliaan adab. Bagaimana tidak inilah ibadah perpisahan yang langsung didesain oleh Allah Sang Maha Kuasa.


Saat dimana dunia ini dipenuhi perilaku tidak beradab dan jauh sekali dari sopan santun. Thawaf wada justru mengajarkan perpisahan sebagaimana pertemuan haruslah dilakukan dengan sesuai syariat yang disertai kemuliaan adab.


Perpisahan janganlah sekedar berpisah lalu pergi meninggalkan begitu saja tanpa pamit karena bisa menggoreskan luka. Ada adab-adab dan syariat yang jangan sampai ditinggalkan agar keberkahan selalu tercurah. Thawaf wada memberikan contoh nyata tentang perpisahan yang beradab itu.


Ketika dulu pertemuan terjadi dengan suka cita dan sambutan hangat penuh kebahagian. Mendapatkan jamuan spesial menjadI tamu Allah tidak hanya berupa makanan dan minuman yang lezat, tapi juga kenikmatan tak tertandingi beribadah di Baitullah.


Segala sholat baik sholat wajib maupun sunnah, thawaf, sa'i, dan tahallul yang dilakukan di Baitullah rasanya sungguh sangat nikmat. Membuat setiap muslim rasanya betah berlama-lama hingga melupakan segala penat dan masalah hidup yang berat.


Sebagaimana seharusnya tamu juga harus memiliki akhlaq terpuji. Pergi meninggalkan  tidak pergi begitu saja. Tapi ada prosesi pamitan sebagai simbol rasa terimakasih sudah menerima sebagai tamu Allah dan dilayani dengan sepenuh hati.


Pamit berpisah, tapi berharap ini bukan perpisahan selama-lamanya, berharap bisa dipanggil ke Baitullah lagi. Berpisah tapi tapi berharap bisa kembali lagi. Saat sadar bahwa usia sudah tidak muda, tenaga sudah tidak kuat lagi, saat semangat tidak sepanas dulu. Akankah bisa bersua dengan Baitullah lagi?


Ada sosok pria gagah yang wajahnya keras, jauh dari senyan ramah. Ada sesorang yang selama ini wajahnya penuh ceria dan tawa. Semua runtuh saat kaki melangkah tuk melaksankan thawaf wada. Tangis air mata bercucuran deras tak mampu dibendung.

 

Kenangan Terindah Haji Wada Rasulullah SAW


Berabad-abad silam utusan Allah SAW dengan penuh cinta menyampaikan pesan-pesan cinta di moment haji wada. Keridhoan Allah saat kita menjadikan Islam sebagai Dien yang sempurna dan paripurna.


Cukuplah menjalankan hidup di dunia ini dengan memegang Islam, bukan yang lainnya. Ada keberkahan, kedamaian, ketenangan, dan problem solving saat mengambil Islam sebagai Dien.


Raga memang telah telah kembali ke tanah air masing-masing, tapi hati masih terus terpaut pada Baitullah dengan memegang syariat-Nya kemana pun berada. Berjuang menyebar dan membumikannya di tengah-tengah umat yang sedang tepuruk. Agar bisa merasakan vibes Baitullah, hidup di bawah Naungan Dien-Nya. Demikianlah perpisahan yang terindah, elegant, dan berkelas.

Wallahua'lambishshowwab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update