Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Tahun Baru Hijriah dan Jalan Kebangkitan Umat

Wednesday, June 24, 2026 | Wednesday, June 24, 2026 WIB


Oleh : Dewiq Ummu Aisyah


Setiap kali Muharram datang, umat Islam kembali diingatkan pada peristiwa besar hijrah Rosulullah saw. Dari Makkah ke Madinah. Peristiwa itu bukan sekedar perpindahan tempat, tetapi titik awal lahirnya perubahan besar yang mengubah wajah dunia. Hijrah menjadi simbol perjuangan, pengorbanan, dan tekad untuk menegakkan aturan Allah dalam kehidupan.


Namun, saat memasuki 1 Muharram 1448 H. ada pertanyaan yang patut direnungkan bersama : “dimanakah posisi umat Isslam hari ini?”


Di dalam negeri, berbagai persoalan terus menghimpit kehidupan rakyat. Kemiskinan masih menjadi kenyataan yang dihadapi banyak keluarga. Judi online semakin merajalela dan menjerat berbagai kalangan, dari orang dewasa hingga pelajar. Kasus prostitusi anak, eksploitasi seksual, perundungan, hingga kekerasan yang menimpa perempuan dan anak terus bermunculan tanpa henti. Seolah-olah bangsa ini tidak pernah benar-benar keluar dari lingkaran masalah yang sama.


Sementara itu, di tingkat global, penderitaan umat Isslam di Palestina terus berlangsung. Gaza masih menjadi saksi bagaimana ribuan warga sipil kehilangan nyawa, rumah, dan akses terhadap kebutuhan hidup paling dasar. Kelaparan dijadikan senjata, sementara dunia hanya menyaksikan negeri-negeri Muslim yang jumlahnya puluhan belum mampu menunjukkan kekuatan yang cukup untuk menghentikan tragedy tersebut. Umat Islam yang berjumlah miliaran terasa tidak berdaya ketika saudara-saudaranya dibantai di depan mata dunia.


Kondisi ini tentu jauh dari gambaran umat terbaik yang Allah SWT sebutkan dalam firman-Nya. Padahal umat Islam memiliki sumber ajaran yang sempurna, jumlah yang besar, dan kekayaan alam yang melimpah. Lalu mengapa berbagai persoalan justru terus membelit kehidupan umat Islam?


Dalam pandangan Islam, kerusakan yang terjadi hari ini bukan muncul tanpa sebab. Berbagai problem sosial, ekonomi, dan moral yang terus berulang merupakan konsekuensi dari sistem kehidupan yang diterapkan. Ketika sekulerisme dijadikan pondasi kehidupan, agama diposisikan hanya dalam wilayah ibadah pribadi. Sementara urusan ekonomi, politik, pendidikan, dan pergaulan masyarakat diatur dengan standar buatan manusia.


Akibatnya, ukuran halal dan haram semakin tersisih oleh pertimbangan untung dan rugi. Selama menghasilkan keuntungan materi, banyak hal dianggap wajar meskipun bertentangan dengan syariat. Tidak mengherankan jika praktik-praktik yang merusak masyarakat terus tumbuh dan sulit diberantas hingga ke akarnya. Kerusakan yang tampak hari ini sejatinya merupakan buah dari penerapan sistem sekulerisme-kapitalisme yang menjauhkan kehidupan dari aturan Allah SWT.


Hal yang sama dapat dilihat pada lemahnya posisi umat Islam di kancah internasional. Tragedy Palestina menjadi bukti nyata bahwa umat Islam tidak memiliki kekuatan politik yang mampu melindungi mereka secara efektif. Negeri-negeri Muslim berdiri sendiri-sendiri, terikat oleh batas nasionalisme, dan sering kali tunduk pada kepentingan serta tekanan Negara-negara besar. Akibatnya, ketika kaum muslim ditindas di satu wilayah, umat Islam di wilayah lain tidak memiliki kekuatan yang terorganisasi untuk memberikan perlindungan secara nyata.


Karena itu, Muharam seharusnya tidak hanya diperingati sebagai pergantian tahun. Muharram adalah saat yang tepat untuk melakukan muhasabah secara mendalam. Berbagai kesulitan yang menimpa umat bukanlah takdir yang harus diterima tanpa usaha. Semua itu harus menjadi bahan renungan bahwa ada sesuatu yang keliru dalam tata kehidupan yang sedang dijalani.


Hijrah yang dibutuhkan umat saat ini bukan sekedar perubahan individu, meskipun hal itu tetap penting. Umat juga perlu memikirkan hijrah yang lebuh besar, yaitu bepindah dari sistem kehidupan yang lahir dari pemikiran manusia menuju sistem yang bersumber dari wahyu Allah SWT. Sebab, Islam tidak hanya mengatur ibadah, tetapi juga memiliki atuuran yang lengkap untuk mengatur kehidupan masyarakat dan Negara.


Rosulullah Saw. Telah memberikan teladan tentang bagaimana perubahan hakiki diwujudkan. Beliau tidak hanya mengajak manusia memperbaiki akhlak, tetapi juga membangun masyarakat yang menjadikan syariat Islam sebagai aturan hidup. Proses itu ditempuh melalui perjuangan yang panjang, terarah, dan dilakukan secara berjamaan bersama para sahabat hingga akhirnya lahir sebuah pemerintahan Islam yang menetapkan hukum Allah secara menyeluruh.


Atas dasar itulah, perjuangan menegakkan Islam kaffah tidak dapat dilakukan secara individual semata. Diperlukan kerja dakwah yang terorganisasi, sebagaimana yang dicontohkan Rosulullah Saw. Umat Islam perlu bergabung bersama jamaah dakwah ideologis yang konsisten menyeru kepada penerapan syariat Islam secara menyeluruh dan menempuh metode perjuangan yang dicontohkan oleh Rosulullah Saw.


Tahun baru Hijriah hendaknya menjadi momentum bagi kita bahwa kebangkitan umat Islam tidak akan terwujud hanya dengan seremoni dan ucapan selamat tahun baru. Kebangkitan membutuhkan kesadarn perjuangan, dan keterlibatan nyata dalam upaya mengembalikan kehidupa Islam. Sebagaimana hijrah menjadi awal kejayaan Islam pada masa Rosulullah Saw. Semoga Muharram tahun ini menjadi titik awal tumbuhnya kesadaran umat untuk memperjuangkan Islam kaffah hingga terwujud kembali kehidupan yang diatur dengan hukum Allah Swt. Dalam naungan Khilafah Islamiyah. Wallahu a’lam  bish-showab….

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update