Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Rupiah Melemah, Rakyat Kian Terhimpit

Monday, June 15, 2026 | Monday, June 15, 2026 WIB



Oleh. Aning


Beban hidup kini kian terasa berat, meningkatnya harga kebutuhan pokok yang terus-menerus terjadi. Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kini kembali mengalami tekanan dan mencapai titik terlemah. Saat ini, kurs dolar tercatat menyentuh level Rp17.600 pada Jumat (15-5-2026). Dengan kondisi ini, mendorong masyarakat untuk makin pintar dan berhati-hati dalam mengelola pengeluaran, karena prediksi para ahli bahwa harga kebutuhan pokok berpotensi ikut meningkat.


Semua itu terjadi karena Indonesia tidak terlepas dari sistem ekonomi yang masih bergantung pada bahan baku impor, dengan proporsi mencapai sekitar 70% dari berbagai sektor industri, seperti kimia, tekstil, elektronik, minyak dan gas, farmasi, sampai otomotif. Sehingga kenaikan bahan baku impor ini tidak terhindarkan, sebab sebagian besar transaksi dilakukan menggunakan dolar AS. Sejatinya, pelemahan rupiah secara langsung meningkatkan biaya produksi.


Pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menembus kisaran Rp17.600–Rp17.700 per dolar AS ini jelas membebani masyarakat. Karena keadaan ini langsung memicu lonjakan biaya produksi dan harga barang, terutama kebutuhan pokok. Selain itu, dampak dari kenaikan dolar ini menjadikan daya beli masyarakat semakin menurun.


Dalam pidatonya saat meresmikan Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur pada Sabtu (16-5-2026), Presiden Prabowo menanggapi kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi nasional dan pelemahan rupiah dengan sikap yang relatif tenang. Presiden Prabowo menyampaikan pandangan bahwa dampak fluktuasi nilai tukar dolar tidak dirasakan secara langsung oleh sebagian masyarakat, terutama kelompok masyarakat kecil di daerah perdesaan.


Pernyataan pemerintah ini membuat banyak masyarakat geram karena terkesan menyepelekan melemahnya rupiah, sebab pemerintah seakan-akan tidak melihat problematika secara utuh. Akhirnya berdampak pada upaya penanganan yang tidak maksimal. Padahal, hidup masyarakat kian sulit akibat ekonomi yang mencekik.


Biang Masalah


Sesungguhnya melemahnya rupiah terhadap dolar tidak lepas dari berbagai aspek, bahkan hampir dari semua lini. Mulai dari aspek eksternal, melemahnya rupiah tidak lepas dari konstelasi politik internasional, yakni konflik Amerika Serikat dan Iran. Meningkatnya tensi konflik tersebut memberikan dampak signifikan terhadap stabilitas ekonomi global, termasuk pada nilai tukar mata uang negara berkembang seperti Indonesia. Sebab konflik ini bukanlah peristiwa militer semata, melainkan fenomena geopolitik yang memicu ketidakpastian global dan mengganggu keseimbangan pasar internasional.


Terjadinya konflik Amerika Serikat dan Iran menjadikan Timur Tengah yang merupakan pusat produksi dan distribusi energi dunia menjadi sangat rentan. Iran sebagai salah satu aktor utama memiliki posisi strategis di jalur perdagangan global, terutama di Selat Hormuz. Ketika konflik meningkat, pasar merespons dengan kekhawatiran akan terganggunya pasokan energi, sehingga harga minyak dunia mengalami kenaikan signifikan. Kenaikan ini kemudian memicu tekanan inflasi global, meningkatnya biaya produksi, serta memperburuk neraca perdagangan bagi negara-negara pengimpor energi seperti Indonesia.


Di sisi lain, ketidakpastian global dampak konflik mendorong perubahan perilaku investor internasional. Dalam kondisi risiko tinggi, investor cenderung mengalihkan aset mereka dari negara berkembang ke aset yang dianggap lebih aman, seperti dolar Amerika Serikat dan obligasi pemerintah Amerika Serikat. Kejadian ini menyebabkan meningkatnya permintaan terhadap dolar Amerika Serikat sehingga nilainya menguat secara global.


Namun, sangat disayangkan komunikasi pejabat publik dalam menanggapi ketidakpastian global ini terkesan antipati terhadap rakyat. Bahkan, setingkat presiden pun dengan santainya menyatakan bahwa mereka yang tinggal di perdesaan tidak terganggu dengan kenaikan dolar terhadap rupiah. Alasan klisenya, rakyat di perdesaan tidak menggunakan dolar dalam bertransaksi.


Akan tetapi, dampak kenaikan kebutuhan akibat kenaikan dolar tidak melihat seseorang berdomisili di mana. Jika pemerintah mau sedikit saja peka terhadap rantai distribusi pasokan kebutuhan pokok, maka makin panjang rantai distribusi, makin naik pula biaya yang dikeluarkan rakyat. Di perdesaan, beberapa kebutuhan justru naik akibat jalur distribusi yang lebih panjang.


Tidak hanya itu, perlambatan ekonomi di perkotaan juga menciptakan efek domino terhadap desa. Saat masyarakat kota mulai menahan belanja, permintaan hasil pertanian ataupun produk UMKM desa ikut menurun. Jadi, tidak benar jika masyarakat perdesaan tidak terdampak kenaikan dolar.


Sungguh miris melihat ketidakpekaan pemerintah terhadap realitas kondisi masyarakat hingga berujung pada kekeliruan penyelesaian masalah ekonomi ini. Selain mengeluarkan pernyataan yang minim solusi, sampai saat ini pemerintah belum tampak mengambil langkah-langkah strategis di tengah naiknya harga kebutuhan pokok.


Pada akhirnya, masyarakat menanggung sendiri beban hidup karena tiadanya peran pemerintah dalam menyelesaikan masalah tersebut. Bahkan, kebijakan yang dibuat justru semakin memperparah keadaan. Melemahnya rupiah terhadap dolar tidak hanya berdampak pada naiknya harga bahan pokok, tetapi juga membuat jumlah utang semakin meningkat.


Pandangan Sistemis


Menurunnya nilai tukar mata uang memicu banyak problem ekonomi. Sesungguhnya, akar masalahnya berasal dari sistem ekonomi kapitalisme yang diadopsi dunia saat ini. Meskipun telah menjadi sistem ekonomi dominan karena diterapkan secara global, kapitalisme terbukti bukan sistem ekonomi yang ideal. Sepanjang sejarahnya, sistem ini telah menyebabkan berbagai krisis, termasuk yang berulang kali terjadi di Indonesia.


Masalah ekonomi saat ini setidaknya dipicu oleh perdagangan eksternal, guncangan harga, serta ketidakstabilan politik global. Kerentanan ekonomi kapitalisme tidak lepas dari pilar utamanya, yaitu uang. Dalam kapitalisme, uang tidak hanya berfungsi sebagai alat tukar, tetapi juga sebagai komoditas yang diperjualbelikan. Nilai rupiah sangat dipengaruhi oleh mekanisme permintaan dan penawaran di pasar uang.


Selain itu, nilai mata uang juga sangat ditentukan oleh tingkat kepercayaan masyarakat. Dalam sistem kapitalisme global saat ini, hampir semua mata uang bersandar pada dolar. Akibatnya, fluktuasi dolar sangat memengaruhi mata uang dalam negeri. Upaya pemulihan ekonomi yang dilakukan pemerintah sering kali hanya bersifat sementara dan tidak menyentuh akar masalah.


Ketika pemerintah menaikkan suku bunga untuk menahan pelemahan rupiah, langkah ini justru menimbulkan dampak lain. Kenaikan suku bunga akan meningkatkan bunga kredit, yang berpotensi menghambat investasi dan pertumbuhan ekonomi. Suku bunga menjadi semacam “obat pahit” yang tidak menyelesaikan masalah secara mendasar.


Oleh karena itu, untuk keluar dari krisis yang berulang, negara tidak cukup hanya melakukan langkah tambal sulam. Diperlukan perubahan sistemis dengan mengganti sistem ekonomi kapitalisme yang ada saat ini.


Ekonomi dalam Islam


Islam memiliki sistem yang menyeluruh dalam mengatur kehidupan, termasuk dalam bidang ekonomi. Islam memandang bahwa krisis dalam sistem kapitalisme membutuhkan koreksi total, salah satunya dalam aspek mata uang.


Jika dalam kapitalisme uang sarat dengan riba dan spekulasi, Islam menempatkan uang murni sebagai alat tukar. Islam juga mendorong penguatan sektor riil agar aktivitas ekonomi berbasis pada barang dan jasa nyata.


Islam menetapkan penggunaan mata uang dinar dan dirham yang berbasis emas dan perak. Mata uang ini memiliki nilai intrinsik yang stabil dan mampu mencegah spekulasi. Dengan sistem ini, distribusi kekayaan dapat berjalan lebih adil dan tidak terpusat pada segelintir pihak.


Selain itu, sistem ekonomi Islam melarang riba, menjamin distribusi kekayaan, serta mengatur kepemilikan secara adil. Aktivitas ekonomi juga dibangun atas dasar keimanan, sehingga tidak menghalalkan segala cara demi keuntungan materi.


Dalam Islam, penguasa memiliki tanggung jawab penuh terhadap kesejahteraan rakyat. Penguasa adalah raa’in (pengurus) dan junnah (perisai) yang wajib melindungi rakyat.


Rasulullah bersabda: “Imam adalah pengurus dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap rakyat yang diurusnya.” (HR Muslim dan Ahmad).


Negara berkewajiban memenuhi kebutuhan dasar rakyat melalui berbagai mekanisme, seperti membuka lapangan kerja dan mendistribusikan harta melalui zakat, infak, dan sedekah sesuai ketentuan syariat.


Dalam perdagangan global, negara menjalankan aktivitas ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan meningkatkan kesejahteraan rakyat, bukan untuk mengejar dominasi atau keserakahan.


Dengan penerapan sistem ekonomi Islam secara menyeluruh, diharapkan tercipta sistem ekonomi yang adil, stabil, dan menyejahterakan. Sistem ini diyakini mampu menjadi solusi bagi berbagai permasalahan ekonomi yang dihadapi manusia saat ini. 


Wallahu alam bissawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update