Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Rupiah Melemah, Beban Masyarakat Makin Berat

Tuesday, June 09, 2026 | Tuesday, June 09, 2026 WIB

Oleh: Isheriwati S.pdi


Pelemahan rupiah kembali menjadi ancaman serius bagi kehidupan rakyat. Ketika nilai tukar rupiah terus merosot terhadap dolar AS, dampaknya bukan hanya terasa di pasar keuangan, tetapi langsung menghantam dapur masyarakat, terutama kalangan menengah kebawah. 

Biasanya, pelemahan tersebut tidak hanya merugikan masyarakat luas, pengusaha dan pemerintah, namun juga telah menggoyang sendi-sendi perekonomian nasional.

Harga-harga barang yang berasal atau menggunakan bahan baku impor naik signifikan. Mulai dari tepung terigu, kedelai, hingga BBM dan tarif listrik. Utang sektor swasta, BUMN dan Pemerintah dalam bentuk dolar juga naik tajam. Pukulan akibat kenaikan biaya impor dan biaya utang  tidak hanya menyebabkan kerugian pelaku usaha, namun juga menekan produksi dan menurunkan penyerapan tenaga kerja.

Krisis mata uang dalam sistem Kapitalisme telah menyatu pada sektor keuangan. Lazimnya krisis dimulai dari liberalisasi sektor keuangan yang mendorong perbankan untuk melakukan ekspansi kredit. Hal tersebut kemudian menyebabkan terjadinya gelembung pada beberapa sektor seperti properti atau pasar modal yang menjadi sasaran spekulasi.

 Untuk meredam hal  itu, bank sentral kemudian menerapkan kebijakan yang mendorong kenaikan suku bunga. Kemudian terjadi penarikan modal dari sektor-sektor yang telah mengalami gelembung tersebut. Imbasnya adalah serangan pada mata uang yang diperparah oleh aksi para spekulan. Akhirnya, terjadilah krisis pada sektor keuangan. 

Dalam sistem moneter yang berlaku saat ini, penetapan kurs antar mata uang juga sangat kompleks. Sebagai contoh, nilai tukar dolar terhadap mata uang lain ditentukan oleh berbagai faktor seperti permintaan aset-aset finansial, neraca perdagangan, tingkat suku bunga, inflasi dan pertumbuhan ekonomi negara itu.

Semua indikator itu sangat fluktuatif dan sulit untuk diprediksi. Kestabilan nilai mata uang suatu negara terhadap mata uang negara lain menjadi sangat tidak stabil dalam jangka panjang. Kegiatan spekulasi mata uang menjadi sangat masif.

Mengapa Rupiah Terus Terdepresiasi?

Dalam pandangan kapitalisme, naik turunnya nilai mata uang dianggap sebagai hal wajar yang dipengaruhi oleh hukum permintaan dan penawaran (supply and demand), sentimen pasar, atau kebijakan suku bunga Bank Sentral AS (The Fed). 

ada dua akar masalah sistemis yang membuat Rupiah terus tak berdaya di hadapan Dolar:

1. Penerapan Sistem Uang Kertas Tanpa Backing (Fiat Money)

2. Sistem Keuangan Berbasis Ribawi dan Spekulasi

Dalam sistem Kapitalisme siklus ‘menggelembung lalu pecah’ (bubble and burst) telah menyatu pada sistem ini. Sektor finansial yang terintegrasi dengan riba dan spekulasi membuat sistem ini tidak pernah stabil.

Meningkatnya investasi pada sektor properti, misalnya, akan mendorong investor menyimpan dana mereka pada sektor itu hingga nilainya menggelembung di atas harga yang wajar. Setelah itu, mereka berlomba menarik dana mereka hingga sektor itu mengempis. Mata uang ikut merosot tajam. Bank sentral kemudian menaikkan suku bunga, menggelontorkan devisa untuk menarik kembali masuknya modal-modal tersebut.

Jika terus melemah,  mereka terpaksa berutang kepada negara lain ataupun kepada institusi terutama kepada IMF yang menjadi penanggung jawab utama sistem moneter global saat ini. Mereka pun terjebak dalam bunga utang dan berbagai syarat-syarat yang membelenggu kemandirian mereka.

 Solusi Ekonomi Islam 

Sistem Ekonomi Islam menawarkan solusi mendasar dan struktural guna menghentikan ketergantungan terhadap Dolar dan menciptakan stabilitas nilai tukar yang hakiki melalui tiga pilar utama:

1. Merestorasi Sistem Mata Uang Berbasis Emas dan Perak (Dinar dan Dirham)

Islam menetapkan bahwa mata uang yang sah dan stabil adalah mata uang yang memiliki nilai intrinsik, yaitu emas dan perak.

2. Melarang Sektor Non-Riil dan praktik spekulasi.

3. Menghentikan Sistem Suku Bunga (Riba)

Suku bunga dalam sistem kapitalis digunakan sebagai instrumen utama untuk mengendalikan nilai tukar (misalnya menaikkan suku bunga demi menahan modal asing agar tidak keluar). Namun, hal ini justru membebani sektor produksi karena biaya pinjaman usaha menjadi mahal.

Islam mengharamkan riba secara mutlak. Tanpa beban bunga, biaya produksi di dalam negeri menjadi lebih efisien. Produk domestik akan memiliki daya saing tinggi di pasar internasional, yang pada gilirannya akan memperkuat posisi tawar ekonomi negara tanpa perlu mendikte nilai mata uang lewat pasar modal.

Hanya dengan penerapan syariat Islam secara Kaffah oleh negara, termasuk sistem moneter berbasis emas dan perak, maka stabilitas ekonomi akan tercipta. Negara akan menolak utang ribawi dan tidak membiarkan mata uang dipermainkan pasar.

Inilah relevansi perlunya Khilafah Islam. Sebuah sistem yang akan menerapkan Islam secara total sekaligus menebar rahmat bagi seluruh umat manusia di dunia.

Allahu a'lam bishawwab .


 

 

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update