Oleh Rosmita
Aktivis Dakwah
Di depan pabrik, tangis ratusan karyawan pecah saat antre mengambil surat PHK. Di rumah, ada beberapa orang yang menunggu makan. Sementara di bursa kerja, satu lowongan diperebutkan ribuan orang. Ini bukan cerita satu orang. Ini potret Indonesia hari ini.
PHK massal bukan lagi wacana. Ia sudah mengetuk pintu dan merobek keharmonisan ribuan keluarga. Lalu sampai kapan kita menyebut ini "siklus ekonomi", padahal yang menjadi tumbal adalah manusia.
Badai PHK Belum Mereda
Ancaman PHK belum selesai. Ia masih terus menghantui ribuan tenaga kerja di negeri ini. Akibat dari tiga tekanan yang datang bersamaan: konflik global yang mengganggu rantai pasok, pelemahan rupiah yang menggerek biaya impor, dan kenaikan biaya produksi yang mencekik dunia usaha.
Buktinya nyata dan dekat. Baru-baru ini, PT Xacti Indonesia di Depok, Jawa Barat, mem-PHK 350 karyawannya sekaligus. Perusahaan yang bergerak di bidang peralatan digital ini harus tutup karena beberapa hal.
Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) sekaligus Presiden Partai Buruh, Said Iqbal menjelaskan penyebab tutupnya PT Xacti Indonesia diantaranya: kenaikan harga bahan baku dan BBM imbas perang Iran melawan agresi Amerika Serikat (AS) dan Israel. Ditambah melemahnya rupiah terhadap dolar, sedangkan bahan bakunya impor dan membelinya pakai dolar. Otomatis biaya produksi meningkat. Sementara itu, pasar global lagi lesu imbas perang, sehingga daya beli menurun. Apalagi sebagian produknya memang diekspor keluar. (CNN Indonesia, 26-5-2026)
Selain itu, persaingan mencari kerja di Indonesia semakin tidak manusiawi. Satu lowongan pekerjaan bisa dilamar ribuan orang. Ditambah syarat-syarat yang semakin menyulitkan. Ijazah S1 kalah saing dengan pengalaman sepuluh tahun. Umur di atas 35 tahun sudah dianggap "kadaluwarsa". Penampilan harus menarik dan menguasai beberapa "elemen".
Lesunya pasar tenaga kerja tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi telah menjadi fenomena dunia. Di Inggris, jumlah lowongan pekerjaan turun ke level terendah dalam lima tahun terakhir. Adapun sektor yang mengalami penurunan terbesar adalah perhotelan dan ritel. (CNBC Indonesia, 29-5-2026)
Jadi jelas, pengangguran tercipta bukan karena rakyat malas bekerja. Namun, karena pintu kesempatan kerjanya memang ditutup.
PHK Massal, Buah Sistem Kapitalisme
Jika kita jujur membedah, PHK massal adalah konsekuensi logis dari sistem kapitalisme itu sendiri.
Pertama, buruh diperlakukan sebagai komoditas, bukan manusia. Dalam logika kapitalisme, tenaga kerja adalah "biaya produksi". Ketika biaya naik, ketika untung tipis, ketika pasar global goyah, maka "biaya" itu yang pertama dipotong. Manusia hanya jadi angka di neraca.
Kedua, modal dimonopoli oleh segelintir orang. Lapangan kerja tidak dibuka berdasarkan kebutuhan rakyat, tapi berdasarkan hitung-hitungan pemilik modal: "untung atau rugi". Padahal kebutuhan akan sandang, pangan, papan, jasa, tidak pernah berhenti. Yang berhenti adalah kemauan pemilik modal untuk membuka usaha jika marjinnya tidak sesuai seleranya. Akibatnya, kerja jadi barang langka.
Ketiga, negara menjadi satpam penjaga modal. Dalam sistem kapitalisme, peran negara paling jauh hanya sebagai "penjaga malam". Ia tidak wajib menjamin setiap rakyatnya punya kerja. Ketika gelombang PHK datang, jawaban negara paling tinggi adalah "jaring pengaman sosial": bansos, kartu prakerja, dan BLT. Ia menambal, tapi tidak menyembuhkan. Ia memberi ikan, tapi tidak memberi kail dan kolamnya.
Karena itu, PHK massal bukan kecelakaan. Ia adalah desain. Bukti nyata kegagalan sistem kapitalisme dalam menjamin kesejahteraan rakyat.
Islam Menawarkan Solusi yang Tuntas
Jika kapitalisme gagal karena menuhankan keuntungan, maka Islam datang membawa prinsip yang berbeda: negara adalah raa’in, penggembala yang bertanggung jawab atas setiap domba dalam gembalaannya.
Pertama, negara wajib menjamin lapangan kerja. Menjamin nafkah bagi pencari nafkah adalah bagian dari tanggung jawab negara dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat. Bukan sekadar "memfasilitasi iklim investasi", tapi aktif membuka, mengatur, dan menjamin ketersediaan kerja yang halal dan produktif bagi setiap warga yang mampu.
Kedua, sistem ekonomi Islam memutus rantai ketergantungan pada modal kapitalis. Islam mengharamkan riba, melarang monopoli, dan mewajibkan zakat. Sistem keuangan tidak berputar di segelintir bank dan konglomerat. Kepemilikan harta didistribusikan. Individu, masyarakat, dan negara punya porsi kepemilikan yang jelas dan tidak saling melindas.
Ketiga, Khilafah membangun struktur kepemilikan yang mencegah ketimpangan. Dengan aturan kepemilikan yang adil: kepemilikan individu dibina, kepemilikan umum seperti SDA tidak boleh dimonopoli, dan kepemilikan negara dikelola untuk kemaslahatan. Hasilnya: ekosistem ekonomi yang luas dan beragam. Pabrik, pertanian, industri kecil, jasa, tumbuh bersama, bukan hanya menunggu "investor" datang.
Keempat, Baitul Maal hadir sebagai jaminan nyata. Ketika ada warga yang belum mendapatkan kerja, Baitul Maal wajib turun tangan. Khilafah menjamin kebutuhan dasar: kesehatan, pendidikan, keamanan, diberikan langsung oleh negara kepada setiap individu rakyatnya, tanpa syarat miskin atau tidak.
Dalam Islam, tidak ada istilah "dilepas ke pasar". Yang ada adalah "dijamin oleh negara".
Ganti Sistemnya, Bukan Sekadar Ganti Pemimpin
350 karyawan PT Xacti, ribuan pelamar di satu lowongan, dan beberapa orang di rumah yang harus dinafkahi. Angka-angka itu berteriak: sistem ini sudah gagal.
Menambal dengan bansos tidak akan menghentikan kebocoran. Melatih ulang pencari kerja tidak akan menciptakan lowongan jika pemilik modal tidak mau buka usaha. Selama asasnya masih "keuntungan di atas segalanya", maka buruh akan selalu jadi korban pertama setiap krisis.
Sudah saatnya kita berani berkata: PHK massal adalah bukti nyata gagalnya kapitalisme. Sehingga untuk mengatasi permasalahan ini tidak cukup hanya sekadar mengganti pemimpin saja, tapi harus sampai ke akarnya yaitu mengganti sistem. Jika kita ingin setiap kepala keluarga pulang membawa nafkah, bukan surat PHK, maka Islam dengan institusi Khilafah-nya adalah satu-satunya solusi yang tuntas.
Wallahualam bissawab.
No comments:
Post a Comment