Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Pendidikan Tinggi atau Pendidikan Berbiaya Tinggi?

Sunday, June 07, 2026 | Sunday, June 07, 2026 WIB


Oleh: Azhar Nasywa


Pendidikan tinggi masih menjadi harapan banyak anak muda untuk meraih masa depan yang lebih baik. Namun hari ini, jalan menuju bangku kuliah terasa semakin berat bagi sebagian masyarakat.


•PENDIDIKAN YANG KIAN MAHAL•

Menyusutnya subsidi pendidikan tinggi membuat beban biaya kuliah terus meningkat. Kompas.id (2026) menyoroti bahwa berkurangnya dukungan negara terhadap pendidikan tinggi berdampak pada bertambahnya beban yang harus ditanggung mahasiswa. Di sisi lain, Kementerian Pendidikan Tinggi mencatat sekitar 289 ribu mahasiswa putus kuliah pada 2025, dan mayoritas berasal dari perguruan tinggi swasta (Detik.com, 2026).


Angka tersebut bukan sekadar data statistik. Di baliknya ada banyak mahasiswa yang terpaksa menghentikan pendidikan karena kendala biaya. Padahal, pendidikan seharusnya dapat diakses oleh seluruh rakyat, bukan hanya mereka yang memiliki kemampuan ekonomi lebih.


•PENDIDIKAN MENJADI KOMODITAS•

Tingginya angka putus kuliah tidak muncul begitu saja. Salah satu penyebabnya adalah berkurangnya peran negara dalam pembiayaan pendidikan tinggi. Akibatnya, kampus harus mencari sumber pendanaan sendiri untuk menjalankan operasionalnya.


Khususnya di perguruan tinggi swasta, pemasukan terbesar umumnya berasal dari mahasiswa melalui UKT dan berbagai biaya pendidikan lainnya. Kondisi ini membuat pendidikan perlahan bergeser dari layanan publik menjadi komoditas yang diperjualbelikan.


Fenomena tersebut tidak bisa dilepaskan dari sistem kapitalisme yang mendominasi kehidupan saat ini. Dalam sistem kapitalisme, hampir semua aspek kehidupan diukur dengan nilai materi dan keuntungan. Pendidikan pun dipandang sebagai sektor yang dapat dikelola dengan logika untung-rugi.


Akibatnya, negara lebih banyak berperan sebagai regulator daripada penanggung jawab utama pemenuhan kebutuhan rakyat. Padahal pendidikan merupakan kebutuhan penting yang sangat menentukan kualitas generasi dan masa depan sebuah bangsa. Selama pendidikan diposisikan sebagai komoditas, biaya kuliah akan terus berpotensi meningkat dan akses pendidikan tinggi semakin sulit dijangkau oleh sebagian masyarakat.


•PENDIDIKAN DALAM PANDANGAN ISLAM•

Islam memandang pendidikan sebagai kebutuhan penting yang wajib dijamin oleh negara. Pendidikan bukan sekadar sarana memperoleh pekerjaan, tetapi juga sarana membentuk kepribadian Islam serta melahirkan generasi yang berilmu dan memiliki kepakaran di bidangnya.


Rasulullah ﷺ bersabda:

"Imam adalah pemelihara dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya." (HR. Bukhari dan Muslim).


Hadis ini menunjukkan bahwa negara memiliki tanggung jawab untuk mengurus urusan rakyat, termasuk dalam bidang pendidikan. Karena itu, pendidikan tidak boleh dikomersialkan hingga menjadi penghalang seseorang dalam menuntut ilmu.


Sejarah mencatat bagaimana perhatian negara terhadap pendidikan mampu melahirkan peradaban yang gemilang. Pada masa Kekhilafahan Abbasiyah, khususnya era Harun ar-Rasyid dan Al-Ma'mun, ilmu pengetahuan berkembang pesat hingga melahirkan banyak ilmuwan muslim yang karya-karyanya menjadi rujukan dunia selama berabad-abad.


Dalam sistem Islam, negara bertanggung jawab menyediakan pendidikan bagi seluruh rakyat dan memastikan setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk menuntut ilmu tanpa terhalang biaya. Dengan demikian, pendidikan benar-benar menjadi sarana membangun generasi unggul dan memajukan peradaban, bukan sekadar layanan yang hanya mudah diakses oleh mereka yang mampu membayarnya. Wallahu a'lam.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update