Oleh Ummi Nissa
Pegiat Literasi
Palestina kembali menjadi saksi luka yang tak kunjung mengering. Tanah yang dahulu menjadi tempat tumbuh harapan, kini dipenuhi debu reruntuhan dan tangis yang tak menemukan jeda. Setiap hari, dunia menyaksikan penderitaan rakyat Palestina melalui layar berita. Namun, di tengah derasnya informasi dan berbagai seruan kemanusiaan, penjajahan masih berlangsung, bahkan semakin terang-terangan menunjukkan wajah aslinya.
Entitas zionis terus melancarkan serangan ke Gaza meski di tengah kesepakatan gencatan senjata. Bom dan rudal terus menghantam wilayah yang sudah porak-poranda. Rumah-rumah hancur, fasilitas umum juga luluh lantak, sementara warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak, tidak luput dari serangan militer zionis hingga menjadi korban yang tak berdosa. Gaza seolah dipaksa hidup dalam malam yang panjang, ketika dentuman senjata lebih sering terdengar daripada suara tawa anak-anak.
Tidak hanya Gaza yang menjadi sasaran. Di Tepi Barat, ribuan pemukiman ilegal terus diperluas. Pada Rabu (3/6), Kepresidenan Palestina kembali mengecam kebijakan otoritas Israel yang menyetujui pembangunan 2.162 unit permukiman baru di Tepi Barat, yang dinilai semakin memperkuat perampasan wilayah Palestina.(antaranews.com)
Tanah-tanah milik rakyat Palestina dirampas sedikit demi sedikit, seperti pohon yang dicabut akarnya secara perlahan hingga akhirnya tumbang. Berbagai laporan menunjukkan bahwa perluasan pemukiman ini terus menggerus wilayah Palestina. Akibatnya, rakyat Palestina semakin kehilangan ruang hidup di tanah kelahirannya sendiri.
Sementara itu, pengibaran bendera Israel di kawasan Masjid Al Aqsa menjadi peristiwa yang melukai hati umat Islam di seluruh dunia. Al Aqsa bukan sekadar bangunan bersejarah, melainkan simbol kemuliaan dan bagian dari akidah kaum muslimin. Ketika bendera penjajah dikibarkan di kawasan suci tersebut, banyak umat Islam memandangnya sebagai simbol penguasaan dan kemenangan politik yang dipertontonkan di hadapan dunia.(detiknews.com)
Jika berbagai peristiwa ini disatukan, tampak sebuah pola yang sulit diabaikan. Penghancuran Gaza, perluasan pemukiman di Tepi Barat, dan berbagai tindakan provokatif terhadap Masjid Al Aqsa bukanlah kejadian yang berdiri sendiri. Semua itu dipandang sebagai bagian dari ambisi besar untuk mewujudkan proyek yang disebut sebagai Israel Raya. Dalam pandangan ini, wilayah Palestina harus dikuasai sepenuhnya, sementara keberadaan rakyat Palestina dianggap sebagai hambatan yang harus disingkirkan.
Karena itulah, penghancuran Gaza tidak hanya dipandang sebagai operasi militer biasa. Banyak pihak melihatnya sebagai upaya sistematis untuk melemahkan perlawanan rakyat Palestina. Di saat yang sama, perluasan pemukiman di Tepi Barat terus dilakukan untuk menciptakan fakta baru di lapangan. Tanah yang dahulu milik rakyat Palestina perlahan berubah menjadi wilayah yang dikuasai entitas zionis. Seperti ombak yang terus mengikis pantai, penjajahan dilakukan sedikit demi sedikit hingga batas-batasnya nyaris tak terlihat lagi.
Apa yang dilakukan entitas zionis telah menuai kecaman dari berbagai kalangan. Banyak yang menilai tindakan tersebut sebagai bentuk kebiadaban, kekejaman, dan kejahatan kemanusiaan. Ribuan nyawa melayang, jutaan orang kehilangan tempat tinggal, dan generasi muda Palestina tumbuh di bawah bayang-bayang perang. Kerusakan yang ditimbulkan tidak hanya menghancurkan bangunan, tetapi juga merampas masa depan sebuah bangsa.
Di balik kuatnya serangan zionis terhadap rakyat Palestina sejatinya terdapat dukungan Amerika Serikat yang membuat entitas zionis terus leluasa menjalankan kebijakanya. Bantuan politik, diplomatik, maupun militer yang diberikan menjadi tameng yang memperkuat posisi Israel di panggung internasional. Bahkan, berbagai gagasan seperti solusi dua negara terus didorong sebagai jalan penyelesaian konflik. Namun, bagi sebagian kalangan, solusi tersebut justru dianggap tidak menyentuh akar persoalan karena tidak menghentikan penjaqjahan yang terus berlangsung.
Akibatnya, penderitaan rakyat Palestina seolah tidak memiliki garis akhir. Luka yang satu belum sembuh, luka lain kembali menganga. Generasi berganti, tetapi penderitaan tetap diwariskan. Kondisi ini juga tidak dapat dilepaskan dari lemahnya persatuan umat Islam. Negeri-negeri muslim berjalan sendiri-sendiri dengan kepentingan masing-masing. Sebagian bahkan menjalin hubungan bilateral yang dinilai menguntungkan entitas zionis. Hal ini tentu melukai hati rakyat Palestina, mereka seakan seperti anak yatim di tengah keluarga besar yang seharusnya melindunginya.
Padahal, jika umat Islam bersatu, mereka memiliki potensi kekuatan yang sangat besar. Jumlah penduduk yang mencapai miliaran jiwa, kekayaan sumber daya alam yang melimpah, serta posisi strategis berbagai negeri muslim seharusnya menjadi modal penting untuk menghentikan penjajahan. Namun, potensi itu sering kali tercerai-berai oleh batas negara, kepentingan politik, dan semangat nasionalisme yang memisahkan satu negeri dengan negeri lainnya.
Karena itu, ambisi Israel Raya tidak cukup dilawan dengan kecaman dan demonstrasi semata. Tetapi diperlukan persatuan politik umat Islam dalam bentuk yang nyata. Hal ini hanya mungkin diwujudkan dengan adanya Institusi kepemimpinan umum yang menerapkan aturan Islam secara menyeluruh. Dengan institusi Islam ini maka, akan mampu menyatukan kaum muslimin di bawah satu kepemimpinan dan satu visi perjuangan.
Tegaknya institusi Islam (Khilafah) harus menjadi prioritas perjuangan umat Islam di seluruh dunia. Institusi ini merupakan sebagai wujud persatuan umat Islam yang hakiki, yang mampu menghilangkan sekat-sekat nasionalisme dan menyatukan kekuatan kaum muslimin. Dengan persatuan itu, pengkhianatan terhadap Palestina diyakini dapat dihentikan karena seluruh kebijakan akan diarahkan untuk menjaga kepentingan umat Islam secara keseluruhan.
Dalam konsep tersebut, seorang pemimpin memiliki tanggung jawab untuk melindungi kaum muslimin dan menjaga kehormatan wilayah Islam. Sebagaimana sabda Rasullullah saw. : "Imam (Pemimpin) adalah raa'in ( pengurus) ia bertanggung jawab atas rakyat yang di pimpinnya." (HR. Bukhari)
Karena itu, pembebasan Palestina dipandang sebagai kewajiban yang harus diperjuangkan. Khalifah tidak hanya mengandalkan pernyataan diplomatik, tetapi juga mengerahkan seluruh kekuatan yang dimiliki untuk menghentikan penjajahan dan membela rakyat Palestina.
Palestina hari ini adalah cermin yang menggambarkan kondisi umat Islam dunia. Di sana ada darah yang tertumpah, ada air mata yang mengalir, dan ada Masjid Al Aqsa yang terus memanggil perhatian kaum muslimin. Setiap reruntuhan di Gaza seolah mengirim pesan bahwa penjajahan tidak akan berhenti hanya dengan belas kasihan. Setiap jengkal tanah yang dirampas di Tepi Barat menjadi pengingat bahwa hak yang tidak dijaga akan perlahan hilang. Dan setiap gangguan terhadap Al Aqsa adalah seruan yang menggugah hati umat agar tidak terus terlelap dalam perpecahan.
Palestina bukan hanya tentang sebuah wilayah, melainkan tentang kehormatan, keadilan, dan kemanusiaan. Selama penjajahan masih berlangsung, selama tanah dirampas dan darah tak berdosa masih tertumpah, perjuangan untuk membela Palestina akan tetap hidup di hati jutaan manusia di seluruh dunia. Di tengah gelapnya malam penjajahan, harapan itu masih menyala, menunggu hadirnya kekuatan yang mampu mengakhiri penderitaan dan mengembalikan kemerdekaan bagi tanah yang diberkahi tersebut.
Wallahua'lam bissawab.

No comments:
Post a Comment