Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Menggugat 78 Tahun Nakba: Mengapa Nestapa Palestina Belum Berakhir?

Wednesday, June 03, 2026 | Wednesday, June 03, 2026 WIB


Oleh: Aisyah Farha (Pendidik Generasi)


Setiap pertengahan Mei, ingatan dunia kembali ditarik pada tragedi Nakba, sebuah memori kelam perampasan tanah Palestina yang telah berlangsung selama 78 tahun sejak tahun 1948 silam. Sayangnya, ingatan ini bukan sekadar nostalgia sejarah, melainkan kenyataan pahit yang masih terus dialami oleh saudara-saudara kita di sana sampai detik ini. Merujuk pada laporan dari Antara News yang berjudul "Peringati Nakba, Liga Arab Desak Perlindungan Global Rakyat Palestina" (15/05/2026), lembaga-lembaga internasional dan regional sibuk melayangkan desakan demi desakan yang berulang setiap tahunnya. Namun, di balik panggung diplomasi tersebut, militer Zionis tetap saja leluasa melakukan kekerasan dan pengusiran. Ironisnya, di tengah jeritan warga Palestina yang berjuang mempertahankan tanah mereka, para penguasa negeri Muslim di sekitarnya justru memilih tetap diam dan berpangku tangan.


Tragedi yang terus berulang ini seharusnya membuka mata kita semua bahwa ada yang salah dengan tatanan dunia hari ini. Narasi kemerdekaan yang dijanjikan oleh sistem internasional terbukti mandul dan gagal total dalam membawa kedamaian di tanah para nabi. Berharap pada bantuan negara-negara adidaya atau lembaga global lainnya seperti mengharapkan pagar memakan tanaman; lembaga-lembaga itu justru ada untuk menjaga keseimbangan kepentingan kaum penjajah. Selain itu, sekat-sekat negara-bangsa (nation-state) sukses membuat umat Islam yang jumlahnya miliaran ini kehilangan taringnya. Kita dibuat merasa bahwa masalah Palestina adalah masalah internal mereka sendiri, sehingga militer di negeri-negeri Muslim yang memiliki senjata lengkap tidak punya alasan politik untuk bergerak menolong saudaranya seakidah.


Secara syariat, membebaskan Palestina dari cengkeraman penjajah bukanlah tugas diplomat di meja perundingan, melainkan kewajiban iman bagi seluruh umat Islam. Palestina adalah tanah suci milik kaum Muslimin yang hanya bisa dibebaskan dengan kekuatan institusi politik yang satu dan mandiri. Umat membutuhkan kepemimpinan yang mampu menyatukan seluruh potensi kaum Muslimin dan menggerakkan pasukannya untuk mengusir kezaliman. Allah SWT telah mengingatkan kita dalam Al-Qur'an: “Dan mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak...” (QS. An-Nisa: 75). Ayat ini mengetuk kesadaran kita bahwa pembelaan nyata terhadap kaum yang tertindas membutuhkan tindakan konkret, bukan sekadar kutukan atau bantuan logistik yang sifatnya sementara.


Oleh karena itu, peringatan Nakba tahun ini tidak boleh berlalu begitu saja sebagai ritual tahunan penyesalan. Ini harus menjadi momentum untuk memahamkan umat bahwa satu-satunya jalan keluar bagi Palestina adalah kembali pada sistem kepemimpinan Islam yang hakiki. Sudah saatnya kita membuang ilusi-ilusi dari ideologi sekuler dan semakin semangat untuk mengkaji Islam secara kaffah agar kita tahu cara memperjuangkan agama ini dengan benar. Mari kita bersatu, merapatkan barisan, dan menyebarkan kesadaran politik Islam ini ke tengah-tengah masyarakat. Hanya dengan tegaknya kembali aturan Allah, kewibawaan umat Islam akan kembali dan rahmat bagi seluruh alam akan benar-benar terwujud di bumi Palestina.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update