Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Israel Raya: Ambisi Penjajah yang Menguji Persatuan Umat

Tuesday, June 16, 2026 | Tuesday, June 16, 2026 WIB




Oleh: Iffah Komalasari, S.Pd. (Pendidik Generasi)


Palestina kembali menjadi saksi kebiadaban yang sulit diterima oleh nurani manusia. Di tengah berbagai seruan gencatan senjata, entitas Zionis terus melanjutkan agresinya ke Gaza. Pemukiman ilegal di Tepi Barat terus diperluas, tanah rakyat Palestina dirampas sedikit demi sedikit, bahkan simbol-simbol penguasaan terhadap Masjid Al-Aqsa semakin terang-terangan ditunjukkan ((metrotvnews.com, 5/6/2026).


Kondisi yang terjadi hari ini bukan sekadar konflik wilayah. Ini adalah bagian dari ambisi besar yang dikenal sebagai proyek Israel Raya, yakni upaya memperluas dominasi Zionis atas tanah Palestina dan kawasan sekitarnya.


Bagi kita sebagai umat Islam, peristiwa ini bukan hanya persoalan politik internasional. Ini adalah persoalan kemanusiaan, keimanan, dan masa depan generasi.


Allah Swt. berfirman:

"Dan mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah, baik laki-laki, perempuan maupun anak-anak?" (QS An-Nisa: 75).

Ayat ini menunjukkan bahwa Islam tidak pernah membiarkan kezaliman berlangsung tanpa perlawanan.


Nakba yang Tak Pernah Berakhir


Banyak orang menganggap penjajahan Palestina sebagai konflik yang baru terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Padahal, penderitaan rakyat Palestina telah berlangsung selama puluhan tahun. Sejak peristiwa Nakba tahun 1948, ratusan ribu rakyat Palestina diusir dari tanah kelahirannya dan kehilangan rumah, kebun, serta hak hidup mereka.


Kini, setelah 78 tahun berlalu, tragedi itu belum berakhir. Gaza masih dibombardir, Tepi Barat terus dirampas, dan Al-Aqsa masih berada dalam ancaman. Bahkan berbagai laporan menunjukkan bahwa wilayah yang dapat dihuni rakyat Palestina semakin menyempit akibat perluasan pemukiman Zionis dan penguasaan militer yang terus dilakukan.

Dengan kata lain, Nakba bukan sekadar peristiwa sejarah, melainkan bencana yang terus berlangsung hingga hari ini.


Ambisi Israel Raya dan Lemahnya Posisi Umat


Berbagai laporan menunjukkan bahwa entitas Zionis terus memperluas wilayah pendudukannya. Di Gaza, mereka berupaya menguasai sebagian besar wilayah yang tersisa. Di Tepi Barat, ribuan unit permukiman baru terus dibangun meskipun bertentangan dengan hukum internasional.


Di saat yang sama, berbagai tindakan provokatif terhadap Masjid Al-Aqsa terus dilakukan. Pengibaran bendera Zionis dan upaya mengubah status pengelolaan kawasan suci tersebut memperlihatkan bahwa target mereka bukan hanya wilayah geografis, tetapi juga simbol penting umat Islam.


Lebih menyedihkan lagi, penderitaan Palestina berlangsung di tengah diamnya sebagian besar pemimpin dunia Islam. Banyak negeri muslim yang memiliki kekuatan militer, sumber daya alam, dan jumlah penduduk yang besar, tetapi tidak mampu memberikan perlindungan nyata bagi Palestina.

Akibatnya, umat Islam yang jumlahnya miliaran tampak tidak berdaya menghadapi entitas yang jumlah penduduknya jauh lebih sedikit.


Kegagalan Sistem Dunia


Dunia internasional selama ini selalu mengklaim diri sebagai penjaga perdamaian dan hak asasi manusia. Namun ketika rakyat Palestina dibunuh, diusir, diblokade, dan dilaparkan, berbagai lembaga internasional justru tampak tidak berdaya.

Resolusi demi resolusi dikeluarkan, konferensi demi konferensi digelar, tetapi penjajahan tetap berlangsung. Bahkan negara-negara adidaya yang sering berbicara tentang demokrasi dan kemanusiaan justru menjadi pendukung utama eksistensi Zionis.


Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan Palestina bukan semata-mata masalah kemanusiaan, melainkan juga masalah politik global. Selama sistem internasional masih dikendalikan oleh kepentingan negara-negara besar, keadilan bagi Palestina akan sulit terwujud.


Fakta ini sekaligus memperlihatkan rapuhnya konsep negara bangsa yang memecah umat Islam ke dalam puluhan negara dengan kepentingan masing-masing. Ketika Palestina terluka, tidak ada satu kekuatan politik umat yang mampu bergerak secara efektif untuk menghentikan penjajahan.


Dampaknya bagi Generasi


Sebagai pendidik generasi, saya melihat bahwa tragedi Palestina bukan hanya meninggalkan luka bagi rakyat Gaza. Peristiwa ini juga meninggalkan pelajaran besar bagi generasi muda muslim di seluruh dunia.


Anak-anak kita menyaksikan bagaimana keadilan internasional sering kali tidak berlaku bagi semua pihak. Mereka melihat bagaimana lembaga-lembaga dunia gagal menghentikan penjajahan yang berlangsung puluhan tahun.

Jika tidak diberikan pemahaman yang benar, generasi muda bisa tumbuh dalam dua sikap yang sama-sama berbahaya. 


Pertama, apatis terhadap persoalan umat. Kedua, kehilangan kepercayaan bahwa Islam memiliki solusi atas problem kemanusiaan dan politik dunia.


Padahal generasi muslim harus memahami bahwa Islam bukan hanya mengatur ibadah pribadi, tetapi juga memiliki aturan tentang kepemimpinan, perlindungan rakyat, hubungan internasional, dan pembebasan wilayah yang terjajah. Karena itu, tragedi Palestina harus menjadi momentum pendidikan politik umat, agar generasi memahami akar persoalan dan arah solusi yang benar.


Persatuan Umat dalam Naungan Islam Kaffah


Berulangnya tragedi Palestina menunjukkan bahwa solusi yang selama ini ditawarkan dunia internasional tidak pernah benar-benar menyelesaikan masalah. Berbagai resolusi PBB, konferensi internasional, hingga gagasan solusi dua negara terbukti tidak mampu menghentikan penjajahan yang terus berlangsung. Bahkan sebagian kekuatan besar dunia justru menjadi pendukung utama eksistensi Zionis.


Oleh karena itu, persoalan Palestina harus dilihat dari akar masalahnya. Salah satu penyebab utama lemahnya posisi umat saat ini adalah tercerai-berainya kaum muslimin ke dalam puluhan negara bangsa yang berjalan dengan kepentingannya masing-masing.

Akibatnya, umat kehilangan kekuatan politik yang mampu melindungi wilayah-wilayah Islam yang terjajah.


Islam menawarkan konsep persatuan umat dalam satu kepemimpinan yang menerapkan syariat secara menyeluruh. Dalam sejarah Islam, institusi kepemimpinan ini pernah menjadi pelindung negeri-negeri muslim dan mampu menjaga kehormatan Al-Quds selama berabad-abad. Palestina pernah dibebaskan oleh pasukan Islam pada masa Khalifah Umar bin Khaththab ra., dan kembali dibebaskan oleh Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi setelah pendudukan Pasukan Salib.

Sejarah ini menunjukkan bahwa ketika umat Islam bersatu dalam satu kepemimpinan, mereka memiliki kemampuan untuk melindungi wilayah dan kehormatan umat.


Persatuan umat bukan sekadar slogan emosional, tetapi harus diwujudkan dalam sistem yang mampu mengonsolidasikan kekuatan politik, ekonomi, dan militer umat Islam.

Dengan sistem Islam kaffah, penguasa tidak akan tunduk pada tekanan negara-negara adidaya. Sebaliknya, mereka berkewajiban menjaga kehormatan umat, melindungi wilayah Islam, dan membebaskan tanah yang terjajah.


Hari ini Palestina masih menangis. Gaza masih berdarah. Al-Aqsa masih terancam. Namun umat Islam tidak boleh hanya berhenti pada rasa sedih dan simpati. Kita membutuhkan kesadaran politik yang benar, pemahaman Islam yang utuh, serta perjuangan yang terarah untuk menghadirkan kembali kepemimpinan Islam yang mampu melindungi umat.


Selama akar persoalannya belum dicabut, luka Palestina akan terus menganga. Dan selama itu pula, generasi muslim akan terus menyaksikan bagaimana tanah suci mereka dirampas di hadapan mata dunia.


Semoga Allah Swt. segera menghadirkan pertolongan-Nya bagi rakyat Palestina, membebaskan Masjid Al-Aqsa, serta mempersatukan umat Islam dalam kepemimpinan yang menjaga kehormatan dan kemuliaan mereka.

Wallahu a'lam bishshawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update