Oleh Rani HS
Aktivis Muslimah
Sungguh ironi, akhir-akhir ini banyak kejadian atau peristiwa yang bikin geleng-geleng kepala alias tidak masuk akal. Ini semata-mata karena perilaku manusia yang jauh dari tuntutan cara pandang hidup yang Islami. Betapa tidak, yang seharusnya dengan meningkatnya sumber daya manusia (SDM) secara otomatis akan meningkatkan kesejahteraan hidup banyak rakyat.
Baru-baru ini tercatat angka kematian ibu (AKI) sepanjang tahun 2025 meningkat, hal ini terjadi karena ketimpangan akses kesehatan dan lemahnya sistem rujukan di daerah. Mengutip data Badan Pusat Statistik pada 2020, angka kematian ibu di Indonesia mencapai 189 per 100.000 kelahiran hidup. Itu artinya terdapat 189 kematian ibu hamil, ibu melahirkan, dan ibu yang menjalani masa nifas. Angka ini merupakan yang tertinggi di Asia Tenggara. (Kompas.id, 04/06/2026).
Kebanyakan dokter kandungan terkonsentrasi di kota-kota besar, sedangkan di daerah, apalagi daerah 3T seperti Papua, jumlahnya sangat minim. Ini karena tingkat kesejahteraan dan fasilitas di daerah dan daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal) jauh jika dibandingkan dengan kota besar. Biasanya para SDM lebih menyukai tinggal dan bekerja di kota-kota besar, mengingat bayaran/gajinya yang cukup besar dan mahal. Sebaliknya bayaran bagi para ahli yang ditempatkan di tempat terpencil kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah. Ditambah minimnya fasilitas yang disediakan.
Upaya pemerataan dokter kandungan, misalnya dengan program Wajib Kerja Dokter Spesialis (WKDS), saat ini tidak bisa dilakukan karena dianggap melanggar HAM. Seharusnya program WKDS ini tetap berjalan demi menyelamatkan nyawa jutaan ibu hamil dan melahirkan. Ini adalah tugas yang mulia, tapi minim perhatian dari pemerintah. Sehingga menyebabkan para tenaga ahli kesehatan sangat jarang yang mau ditugaskan di daerah terdepan, terluar dan tertinggal.
AKI tinggi menunjukkan negara gagal melindungi nyawa ibu, ini berdampak pada kelangsungan hidup anak kedepannya nanti. Bila anak dibesarkan tanpa pengasuhan seorang ibu, dikhawatirkan akan terjadi hal-hal yang kurang baik dalam proses tumbuh kembang anak. Karena kasih sayang ibulah yang mampu menciptakan generasi yang stabil, ibu adalah madrasah pertama bagi anak sekaligus pencetak generasi Islam.
Kesehatan dalam kapitalisme hanya dianggap sebagai komoditas sehingga dipenuhi untuk tujuan materi (keuntungan), bukan untuk pelayanan rakyat. Karena dalam sistem ini tidak mengenal kata pelayanan rakyat yang mana tujuannya adalah untuk memanusiakan manusia. Kapitalisme hanya peduli pada jumlah tenaga kesehatan, tetapi abai dalam distribusinya sehingga tidak menyelesaikan masalah. Negara hanya menjadi regulator, bukan pengurus rakyat. Jadi, peran Negara hanya menjadi penyalur dari kepentingan-kepentingan para oligarki.
Distribusi dokter kandungan menjadi salah satu penyebab tingginya AKI. Namun, sebenarnya persoalannya sistemis, yaitu terkait jaminan pemerataan kesejahteraan masyarakat dan pemerataan infrastruktur kesehatan seperti ketersediaan fasilitas kesehatan, Rumah Sakit, dokter, perawat, bidan dan lain-lain.
Dalam hal ini, Islam telah selangkah lebih maju memosisikan kesehatan sebagai kebutuhan dasar rakyat yang wajib dipenuhi negara. Karena dalam Islam tugas Negara sebagai Raa'in (pengurus) kebutuhan umat, bukan penyalur kepentingan segelintir orang. Negara menyediakan fasilitas kesehatan, infrastruktur, dan nakes dalam jumlah cukup dan terdistribusi merata. Tidak boleh ada daerah yang kekurangan layanan kesehatan. Khilafah juga membangun infrastruktur (seperti jalan) untuk memudahkan akses masyarakat terhadap layanan kesehatan.
Khilafah membiayai sektor kesehatan dari Baitul mal sehingga tersedia gratis. Karena dalam sistem Islam ini jaminan kesehatan merupakan salah satu hak dasar rakyat yang harus dipenuhi oleh Negara. Jadi rakyat harus mendapatkan nya secara gratis tanpa biaya sepeserpun.
Disinilah letak keagungan sistem Islam yang sangat menjunjung nilai-nilai yang mulia dan sempurna. Karena Islam sangat mengutamakan hajat hidup orang banyak dan Islam diciptakan untuk menjadi Rahmatan Lil Aalamiin. Setiap kebijakan membawa kedamaian dan kesejahteraan bagi umat manusia.

No comments:
Post a Comment