Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Ambisi Ekspansi Israel Raya: Merampas Tanah Palestina dan Menyerobot Al-Aqsa

Sunday, June 28, 2026 | Sunday, June 28, 2026 WIB


Oleh Tinie Andryani
Aktivis Muslimah


Persoalan yang melanda bumi Palestina sering kali dipandang secara sederhana sebagai konflik perbatasan biasa atau perebutan sejengkal tanah antar dua pihak. Akan tetapi, jika menilik lebih dalam di balik layar panggung politik Timur Tengah, ada realitas yang jauh lebih terstruktur dan mengerikan. Apa yang terjadi hari ini sesungguhnya adalah manifestasi dari sebuah proyek ideologis jangka panjang yang terus berjalan tanpa henti. Di bawah bayang-bayang penderitaan rakyatnya, terdapat sebuah ambisi hegemonik yang nyata untuk mendirikan apa yang disebut sebagai Israel Raya, sebuah agenda kolonial yang mengorbankan hak hidup jutaan manusia demi sebuah klaim teritorial sepihak.

Watak asli dari agenda kolonial ini tercermin jelas dari realitas di lapangan yang menunjukkan bahwa entitas zionis sama sekali tidak memedulikan hukum internasional maupun kesepakatan damai. Meskipun kesepakatan gencatan senjata berulang kali diumumkan, serangan militer tetap dilancarkan secara konsisten, bahkan agresivitas tersebut melebar hingga ke wilayah Lebanon yang menewaskan sedikitnya 9 orang hanya sehari setelah kesepakatan damai disetujui (metrotvnews.com, 5/6/2026).

Citra satelit terbaru juga membongkar fakta bahwa zionis terus membangun dan memperluas pos-pos militer baru di dalam wilayah Gaza. Hal ini menjadi bukti tak terbantahkan bahwa bagi mereka, gencatan senjata hanyalah sebuah instrumen taktis untuk mengelabui opini publik dunia, sementara mesin perang mereka tetap bergerak.

Di saat yang sama, pencaplokan wilayah di Tepi Barat dan Gaza berjalan semakin masif demi melancarkan skenario menguasai dan merampas tanah Palestina hingga mencapai 70% (metrotvnews.com, 5/6/2026). Agresi ini diperkuat dengan pembangunan ribuan unit permukiman ilegal baru secara agresif, termasuk proyek baru sebanyak 2162 unit permukiman di Tepi Barat yang memicu kecaman luas karena mengancam ruang hidup warga asli secara total. Penindasan struktural ini pun berujung pada bencana kemanusiaan yang luar biasa, di mana jumlah warga Palestina yang dinyatakan hilang dan tidak diketahui nasibnya akibat genosida sistematis di Gaza kini telah menembus angka 9500 orang.

Tidak berhenti pada perampasan tanah dan pembantaian jiwa, provokasi terbesar zionis kini secara terang-terangan menyasar marwah kesucian umat Islam melalui kompleks Masjid Al-Aqsa. Tindakan mengibarkan bendera Israel di kiblat pertama umat Islam tersebut sengaja dilakukan sebagai simbolisasi penguasaan penuh untuk merendahkan martabat kaum muslimin. Di balik layar diplomatik, persekongkolan ini berjalan semakin rapi setelah terungkapnya fakta intelijen bahwa Amerika Serikat dan Israel secara diam-diam berupaya merebut hak urus serta perwalian Masjid Al-Aqsa dari tangan Yordania demi memuluskan kontrol mutlak zionis atas situs suci tersebut.

Dari rentetan fakta tersebut, dapat dianalisis bahwa demi mewujudkan ambisi Israel Raya, entitas zionis sengaja menggunakan instrumen paling brutal berupa penghancuran total infrastruktur, perluasan permukiman, hingga tindakan genosida yang masif. Apa yang mereka pertontonkan hari ini adalah puncak dari kebiadaban, kekejaman dan kejahatan terhadap kemanusiaan, serta kerusakan terbesar di atas muka bumi pada abad modern. Ironisnya, Amerika Serikat bertindak sebagai penyokong utama di balik layar yang terus menyuplai dana, senjata, dan perlindungan diplomatik, sembari menjebak para penguasa di negeri-negeri muslim untuk menyetujui solusi palsu dua negara yang pada hakikatnya justru melegitimasi eksistensi penjajah.

Penderitaan rakyat Palestina yang tidak kunjung selesai ini pada dasarnya berakar dari pengkhianatan para penguasa muslim serta tidak adanya persatuan umat Islam yang hakiki. Para pemimpin di negeri-negeri muslim sekelilingnya lumpuh dalam belenggu sekat nasionalisme, sehingga mereka hanya mampu melontarkan kecaman retoris tanpa mengirimkan bantuan militer yang nyata. Mereka membiarkan tentara dan kekuatan tempur kaum muslimin tetap terkurung di dalam barak-barak, sementara saudara seakidah mereka dibantai secara keji dan situs suci mereka dinodai setiap hari.

Islam sebagai agama yang sempurna telah menggariskan bahwa ambisi imperialis yang ditopang oleh kekuatan militer global tidak akan pernah bisa dihentikan melalui meja perundingan PBB yang bias ataupun lewat mediasi. Penjajahan militer wajib dilawan dengan mobilisasi kekuatan fisik yang sepadan, dan hal ini hanya mungkin terwujud melalui persatuan umat Islam sedunia di bawah satu komando politik yang sah secara syar'i, yaitu Khilafah Islamiyah. Oleh karena itu, menegakkan kembali sistem Khilafah harus diletakkan sebagai prioritas utama perjuangan umat Islam di seluruh dunia karena institusi inilah yang menjadi wujud persatuan hakiki kaum muslimin.

Keberadaan khilafah kelak akan melumatkan sekat-sekat nasionalisme yang selama ini mencerai-beraikan potensi umat, sekaligus menghentikan pengkhianatan para penguasa antek yang tunduk pada kepentingan Barat. Di bawah sistem syariat ini, seorang khalifah memegang tanggung jawab penuh dan otoritas mutlak untuk memaklumatkan jihad serta mengirimkan pasukan tentara militer guna membebaskan setiap jengkal tanah Palestina, mengusir penjajah, dan mengembalikan kehormatan Al-Aqsa.

Solusi tegas untuk memerangi para pengusir kaum muslimin ini telah digariskan oleh Allah SWT dalam Al-Qur'an surah Al-Mumtahanah ayat 9, yang artinya : 

 "Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan mereka sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu dalam urusan agama dan mengusir kamu dari kampung halaman mu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, mereka itulah orang yang zalim".

Begitu pula Rasulullah saw. telah mengingatkan fungsi utama kepemimpinan Islam dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, yang menyatakan bahwa :

"Sesungguhnya seorang Imam atau Khalifah itu adalah perisai, di mana orang-orang akan berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya".

Pada akhirnya, segala penderitaan di Palestina adalah alarm keras yang membuktikan bahwa ketergantungan pada diplomasi internasional telah gagal total dan justru membiarkan pemusnahan etnis terus berjalan.

Sudah saatnya umat Islam kembali pada solusi yang telah digariskan oleh syariat, yaitu mencabut akar nasionalisme, menyatukan barisan, dan berjuang bersama menegakkan kembali khilafah yang akan menggerakkan kekuatan militer kaum muslimin demi membebaskan Palestina secara total dari cengkeraman zionisme.

Wallahu a'lam bisawwab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update