Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Indonesia Darurat Digital, Generasi Emas Terpapar Pornografi

Tuesday, June 09, 2026 | Tuesday, June 09, 2026 WIB

 



Oleh: Haerini Udin

(Pegiat Literasi) 



ALLAH SWT telah mempercayakan amanah paling berharga kepada setiap orang tua, yaitu anak-anak. Mereka adalah titipan yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Namun, saat ini, sebuah fakta mengagetkan harus kita hadapi bersama: hampir 5 juta anak Indonesia terpapar konten pornografi. Bukan 5 juta orang dewasa yang dengan sengaja mencarinya, melainkan 5 juta anak—mereka yang polos, yang seharusnya tengah belajar membaca, berlari di lapangan, atau menghafal nama-nama nabi dan rasul.


Angka ini bukan sekadar statistik dingin. Ia adalah alarm peringatan agar kita segera bangun dari kelengahan. Ia adalah bukti nyata betapa sistem sekuler-kapitalis yang hari ini kita pelihara telah gagal total dalam melindungi generasi penerus umat.


Ledakan Akses, Ambruknya Pagar Perlindungan


Mengapa ini bisa terjadi? Mari kita lihat realitas pasca pandemi. Akses internet di negeri ini meledak bagaikan tsunami. Anak-anak kita, yang dahulu hanya memegang gawai dua jam sehari, kini menghabiskan 5 hingga 7 jam di depan layar. Di sinilah letak tragedi sunyi itu: di sela-sela tugas sekolah dan tontonan hiburan, algoritma rakus menjebak mereka.


Namun, yang lebih tragis adalah ambruknya pagar perlindungan di lingkungan terdekat anak. Di banyak rumah tangga, gawai telah menjadi "pengasuh pengganti" yang diam. Orang tua memberikan ponsel kepada anak—bukan karena kebutuhan, tetapi karena kepraktisan. Tanpa filter, tanpa pengawasan, tanpa percakapan sehat tentang batasan. Alih-alih menjadi guru pertama tentang adab menuntut ilmu, orang tua justru tanpa sadar membiarkan anaknya memiliki "guru gelap" bernama algoritma.


Padahal, kita adalah umat yang diperintahkan Allah untuk menjaga diri dan keluarga dari api neraka. Dalam firman-Nya:


"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka..." (QS At-Tahrim: 6)


Menjaga keluarga bukan hanya soal sandang pangan. Di era digital ini, menjaganya berarti menjaga pandangan, menjaga akses, dan menjaga apa yang masuk ke dalam fitrah anak yang masih suci.


Sekularisme: Biang Kerok Krisis Moral


Kita harus berani jujur. Paparan pornografi pada anak tingkat massal ini adalah buah pahit dari sistem sekuler yang kita anut. Sistem yang memisahkan agama dari kehidupan. Sistem yang menganggap urusan anak, pendidikan, dan teknologi cukup diatur oleh akal manusia tanpa wahyu.


Dalam sistem sekuler, teknologi dikembangkan tanpa batasan etika Ilahi. Platform digital berlomba-lomba membuat algoritma yang membuat pengguna—termasuk anak-anak—kecanduan berlama-lama di layar. Makin lama menatap layar, makin banyak ikon yang diklik. Sekali tanpa sengaja mengeklik tautan dewasa, algoritma dengan sigap menyodorkan puluhan konten serupa. Anak-anak tidak lagi mencari pornografi—pornografilah yang memburu mereka.


Lihatlah apa yang terjadi: otak anak-anak kita diretas sistem operasi kotor ini. Secara neurologis, pornografi memberikan suntikan dopamin tinggi—lebih kuat dari aktivitas sehat apa pun. Otak anak yang masih lentur menjadi terbiasa dengan rangsangan instan. Hasilnya? Mereka menjadi generasi yang lelah kronis, tidak bisa konsentrasi di kelas, dan kehilangan kemampuan menunda keinginan. Mereka akan mencari hiburan cepat setiap kali bosan—alih-alih membaca buku, apalagi mengaji.


Kemenkes RI bahkan menyebut pornografi sebagai "guru gelap" yang mengajarkan seksualitas secara menyimpang. Bagi mereka yang hanya belajar dari layar, hubungan intim adalah tentang kekerasan, objek, dan tanpa komunikasi. Fitrah yang Allah ciptakan untuk melestarikan keturunan dan membangun rumah tangga sakinah, didistorsi menjadi mesin kerusakan moral.


Di Mana Negara?


Dalam sistem sekuler, negara hanya berperan sebagai penjaga malam yang reaktif. Ia datang setelah banjir bandang terjadi. Negara membuat UU ITE, memblokir situs, dan sesekali menggelar razia. Tapi semua itu ibarat menambal bocor di kapal yang sudah membusuk. Selama sistemnya sendiri—kapitalisme yang menjadikan segala sesuatu komoditas, termasuk tubuh dan hasrat—tetap dipertahankan, maka selama itu pula pornografi akan terus merajalela.


Pemblokiran konten memang perlu. Tapi itu hanya solusi sementara. Anak-anak kita dengan cepat belajar cara lain untuk mengakses konten porno atau berpindah ke platform yang belum diblokir. Regulasi teknis yang lahir dari sistem sekuler tidak akan pernah cukup karena ia tidak menyentuh akar masalah: hilangnya nilai-nilai Islam dari ruang digital.


Islam sebagai satu-satunya Solusi Kaffah


Di sinilah letak pentingnya kesadaran bahwa Islam bukan sekadar ritual di masjid. Islam adalah sistem hidup yang kaffah (menyeluruh). Islam memiliki aturan yang sempurna untuk melindungi fitrah manusia, termasuk anak-anak, dari segala bentuk kerusakan.


Dalam sistem Islam, penguasa (khalifah) berkewajiban melindungi akidah umat dan menjaga moral publik. Tidak akan ada ruang bagi konten-kontan destruktif beredar bebas. Jika ada platform yang menyebarkan pornografi, ia akan ditutup secara permanen—bukan sekadar diblokir sementara. Pembuat akun pornografi akan dihukum. Dalam Islam, melindungi masyarakat dari kejahatan moral adalah prioritas utama, bukan sekadar program kerja tahunan.


Bayangkan jika di negeri ini diterapkan sistem pendidikan yang berbasis adab dan takwa. Anak-anak tidak akan dibiarkan bergulat sendiri dengan gawai tanpa pendampingan. Kurikulum akan mengajarkan mereka cara menggunakan teknologi untuk kemajuan, bukan untuk kenistaan. Di rumah, keluarga Islam memahami bahwa mereka adalah pemimpin bagi anak-anaknya, dan akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat nanti.


Waktunya Kembali ke Islam Kaffah


Kita tidak boleh tinggal diam. 5 juta anak adalah 5 juta alasan untuk menangis dan sekaligus 5 juta alasan untuk bertindak. Namun, jangan keliru. Tindakan yang benar harus dimulai dari kesadaran bahwa sistem yang salah tidak akan pernah melahirkan solusi yang benar. Selama kita masih hidup di bawah naungan sekularisme dan kapitalisme, selama itu pula kerusakan akan terus bermunculan. 


Mari kita rawat anak-anak kita sendiri, di rumah masing-masing, dengan pagar-pagar berikut:


1. Pagar teknis: aktifkan kontrol orang tua dan safe search di setiap gawai anak.

2. Pagar percakapan: jadilah guru pertama bagi anak tentang tubuhnya, tentang aurat, dan tentang adab memandang. Jangan serahkan pendidikan seksualitas kepada algoritma.

3. Pagar lingkungan: kurangi ketergantungan pada layar dengan menciptakan rutinitas keluarga yang sehat—bercengkerama, olahraga, atau sekadar mengaji bersama.


Namun, upaya individual ini tidak akan maksimal tanpa adanya sistem yang mendukung. Maka, seruan kita harus lebih besar. Kita harus menyuarakan pentingnya penerapan Islam secara kaffah dibawah naungan khilafah. Hanya dengan tegaknya sistem Islam—dengan kepemimpinan yang menerapkan syariat secara menyeluruh—kita bisa membangun peradaban yang benar-benar melindungi generasi penerus.


Sudah saatnya umat Islam di negeri ini bangkit. Bukan sekadar marah-marah di media sosial, tetapi bersatu dalam barisan dakwah yang memperjuangkan perubahan sistemik. Mari kita tanamkan kepada anak-anak kita bahwa mereka adalah generasi Khairu Ummah—generasi terbaik yang dilahirkan untuk manusia—bukan generasi korban algoritma.


Karena jika kita tidak bergerak sekarang, 5 juta hari ini akan menjadi 10 juta esok. Dan ketika itu terjadi, kita tidak hanya kehilangan generasi yang cerdas secara akademik, tetapi generasi yang sehat fitrahnya. Mereka yang seharusnya menjadi perhiasan dunia dan penyejuk mata orang tua, akan menjelma menjadi batu bara neraka yang menyala-nyala.


Semoga Allah melindungi anak-anak kita dan memberi kita kekuatan untuk menjadi pemimpin yang bertanggung jawab atas amanah-Nya. Aamiin.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update