Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Budayawan Jerman Berthold Damshäuser : Jam Gadang Bukan Sekadar Menara Jam, Tetapi Simbol Pertemuan Budaya dan Tantangan Kreativitas Indonesia

Monday, June 08, 2026 | Monday, June 08, 2026 WIB

 


Nusantaranews.net, Bukittinggi – Perayaan 100 tahun Jam Gadang dalam rangka International Minangkabau Literacy Festival (IMLF) 2026 tidak hanya menjadi momentum mengenang ikon Kota Bukittinggi, tetapi juga ruang refleksi mengenai masa depan kreativitas, teknologi, dan kebudayaan Indonesia.


Hal itu disampaikan akademisi dan budayawan Jerman, Berthold Damshäuser atau yang akrab disapa Pak Trum, dalam seminar bertajuk “100 Years of Jam Gadang – From Literacy to Legacy: Building Wealth, Peace, and Sustainability Learning”. 


Menurut Pak Trum, Jam Gadang bukan sekadar menara jam yang menjadi landmark Bukittinggi. Di balik bangunan tersebut tersimpan kisah perjumpaan dua tradisi besar, yakni teknologi Eropa dan budaya Minangkabau.


Ia menjelaskan bahwa mesin Jam Gadang dibuat oleh perusahaan jam menara Jerman, Bernard Vortmann, yang berbasis di Recklinghausen. Sementara bentuk arsitektur dan atap gonjongnya mencerminkan identitas budaya Minangkabau yang kuat. 


“Jam Gadang menjadi simbol bagaimana teknologi dan budaya dapat hadir berdampingan. Namun, ia juga mengajukan pertanyaan penting: apakah keduanya benar-benar menyatu atau masih berjalan di jalurnya masing-masing?” ungkapnya. 


Dua Wajah Kreativitas

Dalam paparannya, Pak Trum membedakan kreativitas menjadi dua bentuk utama, yakni kreativitas teknologi dan kreativitas estetika. Menurutnya, kedua bentuk kreativitas tersebut berkembang secara relatif seimbang di Jerman, namun di Indonesia kecenderungannya berbeda. 


Ia menilai Indonesia, khususnya Minangkabau, memiliki kekuatan luar biasa dalam bidang sastra, seni, dan pemikiran budaya. Hal itu terlihat dari lahirnya tokoh-tokoh besar seperti Marah Rusli, Abdul Muis, Hamka, serta Sutan Takdir Alisyahbana. 


Namun, ia mengingatkan bahwa kekayaan budaya tersebut belum sepenuhnya diikuti oleh kemajuan inovasi teknologi yang berkelanjutan.


“Pertanyaannya adalah mengapa energi kreatif yang begitu besar di bidang budaya jarang melahirkan inovasi teknologi yang signifikan,” katanya. 


Merantau sebagai Laboratorium Inovasi

Pak Trum juga menyoroti tradisi merantau yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Minangkabau. Menurutnya, tradisi tersebut merupakan salah satu sumber utama lahirnya kreativitas.


Ia menyebut merantau bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan proses pembelajaran yang memaksa seseorang keluar dari zona nyaman, bertemu pengalaman baru, dan membangun perspektif yang lebih luas. 


“Dari ketegangan antara identitas asal dan pengalaman baru itulah kreativitas tumbuh,” ujarnya. 


Tantangan di Era Kecerdasan Buatan

Dalam kesempatan tersebut, Pak Trum turut menyinggung perkembangan kecerdasan buatan atau AI yang kini mengubah lanskap kreativitas dunia.


Menurutnya, AI mampu menghasilkan teks, gagasan, dan karya yang tampak kreatif. Namun, kreativitas yang dihasilkan mesin berbeda dengan kreativitas manusia karena tidak lahir dari pengalaman, kesadaran, maupun tanggung jawab moral. 


Ia mengingatkan bahwa ketergantungan berlebihan terhadap AI berpotensi mengurangi kedalaman berpikir dan refleksi manusia.


“Yang dipertaruhkan bukan hanya bentuk kreativitas, tetapi juga roh kreativitas itu sendiri,” tegasnya. 


Jam Gadang sebagai Simbol Masa Depan

Bagi Pak Trum, Jam Gadang pada usia seabad tidak hanya menjadi simbol sejarah, tetapi juga pengingat akan pentingnya menyatukan kreativitas budaya dengan inovasi teknologi.


Ia berharap Indonesia mampu memanfaatkan kekayaan budayanya sebagai fondasi untuk membangun ekosistem ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi yang lebih kuat di masa depan. 


Menutup ceramahnya, Pak Trum menyampaikan pantun yang merangkum gagasannya tentang pentingnya keseimbangan antara teknologi dan keindahan.


"Mesin dan keindahan harus berdampingan, Daya cipta lahir dari langkah panjang." 


Ceramah tersebut menjadi salah satu rangkaian penting IMLF 2026 yang mengangkat tema besar 100 tahun Jam Gadang sebagai warisan budaya, literasi, dan pembelajaran berkelanjutan bagi generasi masa depan. (****)

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update