Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Bed Rotting dan Eksploitasi Industri Digital

Monday, June 15, 2026 | Monday, June 15, 2026 WIB



Penulis Ratna Ummu Rayyan


Fenomena bed rotting—menghabiskan waktu berjam-jam di tempat tidur sambil scrolling media sosial, menonton video, atau bermain gim—kini menjadi tren di kalangan Gen Z dan pelajar. Aktivitas yang dianggap sebagai bentuk healing dan self-care ini sejatinya merupakan alarm bahaya bagi kesehatan mental. Pemerhati pendidikan dan remaja, Diansyah Novi Susanti, S.Pt., menilai fenomena ini menunjukkan bahwa anak muda sedang mengalami kelelahan mental, sementara industri digital terus mengeksploitasi emosi mereka demi keuntungan ekonomi.


Di bawah kendali kapitalisme, manusia hanya dinilai berdasarkan produktivitas materi, dan pendidikan sekadar mencetak tenaga kerja untuk industri. Ditambah dengan sekularisme yang menjauhkan agama, generasi muda dibesarkan tanpa arah hidup yang jelas. Di era digital, pelajar dipaksa hidup dalam budaya kompetisi tanpa henti demi mencari validasi di media sosial. Akibatnya, mereka didera ketakutan akan kegagalan dan ketidaksempurnaan. Sayangnya, ketika mereka tumbang, negara dinilai hanya menangani gejala, bukan akar masalahnya.


Pandangan dan Solusi Sistem Islam


Islam memandang waktu dan kehidupan sebagai amanah berharga, sebagaimana ditegaskan dalam QS Al-‘Ashr: 1—3 bahwa manusia akan merugi jika menghabiskan waktu tanpa iman dan amal kebajikan. Islam tidak membentuk generasi yang larut dalam kemalasan atau pelarian hidup, melainkan mendidik mereka dengan konsep mujahadah (bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu), serta istikamah dan istimror (konsisten dalam kebaikan). Nilai-nilai inilah yang dahulu melahirkan pemuda tangguh seperti Ali bin Abi Thalib, Mus’ab bin Umair, dan Usamah bin Zaid yang berkontribusi bagi peradaban.


Generasi hebat tersebut lahir dari sistem pendidikan Islam yang membangun syahsiah islamiah (kepribadian Islam), di mana sejak kecil anak ditanamkan kesadaran bahwa hidup adalah ibadah. Dalam sistem ini, pembinaan tidak hanya dibebankan pada sekolah, melainkan melibatkan sinergi antara negara, keluarga, dan masyarakat untuk membentuk lingkungan Islami.


Negara wajib menyediakan pendidikan berkualitas yang mudah diakses oleh seluruh rakyat, bukan pendidikan mahal yang melahirkan tekanan akademik dan persaingan materialistik. Berbeda dengan kapitalisme, Islam membangun sistem kehidupan menyeluruh yang menjaga manusia agar tetap sehat secara mental, kuat secara spiritual, dan kokoh kepribadiannya. Oleh karena itu, sudah saatnya generasi muda menjadikan Islam sebagai panduan sistem hidup yang memuliakan.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update