Oleh Nur Hasanah, SKom
Aktivis Dakwah Islam
Setiap peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), publik kembali diingatkan pada pentingnya pendidikan. Namun ironisnya, kondisi dunia pendidikan justru semakin buram dan memprihatinkan. Perayaan tahunan ini seolah hanya menjadi rutinitas seremonial tanpa menyentuh akar persoalan yang sebenarnya.
Fakta di lapangan menunjukkan berbagai masalah serius. Kasus kekerasan dan pelecehan seksual di lingkungan pendidikan terus meningkat. Dilansir dari kompas.id tanggal 14 April 2026 , tercatat 233 kasus kekerasan hanya dalam kurun tiga bulan. Ini menunjukkan bahwa sekolah dan kampus belum menjadi ruang aman bagi peserta didik.
Selain kasus kekerasan dan pelecehan seksual, praktik kecurangan akademik seperti menyontek, plagiarisme, hingga joki UTBK semakin marak. Penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar juga meningkat, sementara sikap tidak hormat kepada guru semakin sering terjadi. Bahkan, ada guru yang dipidanakan hanya karena mendisiplinkan siswa. Semua ini menandakan krisis moral yang serius.
Peringatan Hardiknas seharusnya menjadi alarm keras. Masalah ini bukan sekadar perilaku individu, tetapi kegagalan sistem pendidikan. Sistem sekuler yang diterapkan telah melahirkan generasi yang cenderung pragmatis, liberal, dan jauh dari nilai moral. Kesuksesan diukur dari hasil instan, bukan proses dan integritas.
Minimnya pendidikan agama serta longgarnya sanksi terhadap pelanggaran semakin memperparah kondisi. Pelanggaran sering dianggap sebagai kenakalan remaja, sehingga tidak memberikan efek jera.
Dalam Islam, pendidikan memiliki tujuan yang lebih mendasar, yaitu membentuk kepribadian (syakhsiyah Islamiyah). Pendidikan berbasis akidah akan melahirkan generasi yang cerdas sekaligus bertakwa, sehingga menjauhi kecurangan dan kejahatan.
Allah SWT berfirman:
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri." (QS. Ar-Ra’d: 11)
Ayat ini menegaskan bahwa perubahan harus dimulai dari pembenahan sistem dan individu secara bersamaan. Dalam konteks pendidikan, perubahan sistem menjadi kunci utama untuk menghasilkan generasi yang berkualitas.
Pendidikan Islam menekankan keselarasan antara pola pikir dan pola sikap. Ilmu yang diperoleh tidak hanya dipahami secara teoritis, tetapi juga diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, tidak akan muncul perilaku kontradiktif seperti cerdas secara akademik tetapi rusak secara moral.
Selain itu, Islam juga menerapkan sistem sanksi yang tegas bagi pelaku kejahatan, termasuk pelajar. Sanksi ini bukan sekadar hukuman, tetapi juga sebagai bentuk edukasi dan pencegahan agar tidak terulang kembali. Ketegasan hukum akan menciptakan efek jera dan menjaga stabilitas masyarakat.
Negara dalam sistem Islam juga memiliki peran besar dalam menciptakan lingkungan yang kondusif. Suasana kehidupan dibangun di atas nilai ketakwaan, sehingga setiap individu terdorong untuk berlomba dalam kebaikan, bukan dalam keburukan. Lingkungan yang baik akan memperkuat hasil pendidikan yang diberikan di sekolah.
Lebih dari itu, sinergi antara keluarga, lingkungan, dan negara menjadi kunci keberhasilan pendidikan. Orang tua berperan sebagai pendidik pertama, masyarakat sebagai kontrol sosial, dan negara sebagai penjamin sistem yang sesuai dengan syariat. Ketiganya harus berjalan selaras dengan landasan akidah Islam.
Dunia pendidikan tidak hanya membutuhkan kurikulum baru atau metode pembelajaran yang inovatif, tetapi juga arah yang jelas dan berlandaskan nilai yang benar. Tanpa itu, pendidikan hanya akan terus melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi rapuh secara moral.
Sudah saatnya kita menyadari bahwa krisis pendidikan adalah cerminan dari krisis sistem. Dan selama sistem yang diterapkan masih berlandaskan sekularisme kapitalistik, maka problematika ini akan terus berulang.
Hardiknas harus menjadi titik balik. Bukan sekadar peringatan, tetapi momentum untuk membangun kembali pendidikan yang mampu melahirkan generasi unggul, beradab, dan bertakwa. Karena sejatinya, masa depan bangsa ditentukan oleh bagaimana kita mendidik generasi hari ini.
Kebutuhan mendesak hari ini adalah tegaknya sistem Islam sehingga pendidikan akan berstandar kepada Islam. Dengan demikian, pendidikan kembali pada tujuan hakikinya yaitu, membentuk manusia yang berilmu, beradab, dan bertakwa. Tanpa perubahan mendasar pada sistem, berbagai problem yang ada hanya akan terus berulang dalam bentuk yang berbeda.
Karena itu, menjadi kewajiban setiap Muslim untuk turut memperjuangkan tegaknya sistem Islam dalam kehidupan, termasuk dalam bidang pendidikan. Perjuangan ini bukan sekadar wacana, tetapi ikhtiar nyata untuk menghadirkan perubahan yang menyeluruh, agar generasi yang lahir bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kokoh akidah dan mulia akhlaknya. Inilah jalan menuju perbaikan hakiki, demi masa depan umat dan peradaban yang lebih baik.
Perjuangan ini tentu membutuhkan kesadaran kolektif, bukan hanya dari individu, tetapi juga dari masyarakat secara luas. Umat tidak boleh lagi bersikap pasif atau sekadar menjadi penonton atas kerusakan yang terus terjadi dalam dunia pendidikan. Dibutuhkan keberanian untuk mengkritisi sistem yang ada sekaligus komitmen untuk memperjuangkan perubahan yang berlandaskan nilai-nilai Islam secara kaffah.
Langkah ini bisa dimulai dari hal mendasar, seperti membangun kesadaran akan pentingnya peran pendidikan berbasis akidah dalam keluarga, memperkuat lingkungan yang mendukung terbentuknya karakter islami, hingga menyuarakan pentingnya perubahan sistem di tengah masyarakat. Perubahan besar tidak lahir secara instan, tetapi melalui proses panjang yang diiringi kesungguhan dan keistiqamahan.
Dengan demikian, Haridknas bukan hanya menjadi momen refleksi, tetapi juga momentum kebangkitan. Saatnya umat mengambil peran aktif dalam menentukan arah pendidikan, agar tidak terus terjebak dalam sistem yang menjauhkan generasi dari jati diri mereka sebagai hamba Allah dan khalifah di muka bumi. []
No comments:
Post a Comment