Oleh : N. Kurniasari (Aktivis Muslimah)
Hardiknas telah berlalu, realitasnya pendidikan kian pilu. Tiap tahun Hari Pendidikan Nasional dirayakan, nyatanya dunia pendidikan makin buram dan Memprihatinkan.
Baru-baru ini kasus kekerasan dan pelecehan seksual semakin banyak dilakukan oleh pelajar, mahasiswa, sampai oleh gurunya sendiri. Kini, ruang aman di sekolah, kampus hingga pesantren pun tak terjamin. Kasus kecurangan dalam ujian, maraknya joki UTBK, dan budaya plagiat terjadi merata di semua lembaga pendidikan. Pelaku dan pengedar narkoba di kalangan anak sekolah dan mahasiswa juga bertambah banyak. Prilaku pelajar menghina guru, atau memenjarakan guru karena memarahi atau menghukum siswa juga makin berani.
Fenomena dekadensi moral yang menimpa siswa di negeri ini menunjukkan bahwa pendidikan belum berhasil mewujudkan akhlak dan pengendalian diri pada siswa. Maka sudah seharusnya peringatan hardiknas menjadi alarm keras bagi semua pihak untuk memperbaiki kembali kondisi buruk dunia pendidikan hari ini yang lebih memfokuskan pada aspek kognitif, yaitu nilai dan ujian tapi lemah dalam pembentukan adab, etika, nilai moral serta nilai ketaatan pada negara.
Kegagalan implementasi arah atau peta jalan pendidikan hari ini belum berhasil mbentuk kepribadian yang utuh siswa. Sehingga menghasilkan pelajar yang krisis kepribadiannya, akibat penerapan sistem sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan, juga adanya bidaya liberal yakni kebebasan tanpa batas nilai dan kehidupan yang pragmatis yang mengutamakan hasil instan daripada proses. Sehingga jauh dari predikat kaum intelektual yang beradab dan bermoral.
Penerapan sistem sekuler ini cenderung berorientasi kepada materi dan pasar. Yang mengantarkan pendidikan sering diarahkan hanya untuk mencetak tenaga kerja, bukan untuk membentuk manusia utuh. Akibatnya, muncul mental ingin sukses instan, minim kesungguha belajar dan daya juang. Akhirnya menumbukan pola pikir menghalalkan segala cara demi uang atau demi jabatan.
Hal ini selaras dengan berbagai kasus kecurangan akademik, korupsi, hingga penyimpangan-penyimpangan perilaku yang akar masalahnya adalah cara pandang hidup yang materialistik. Sistem pendidikan sekuler kapitalistik menghasilkan output orang-orang yang ingin sukses instan tanpa mau berusaha secara serius, juga orang-orang yang menghalalkan segala cara demi mendapatkan uang dalam jumlah besar.
Sanksi negara bagi pelaku pelajar yang mayoritas di bawah umur singguh longgar, sehingga menoleransi kriminalitas yang dilakukan sebagai kenakalan anak semata. Kedekatan ini seolah-olah seperti melindungi anak, tetapi dalam prakteknya sering tidak menimbulkan efek jera. Malahan menormalisasikan perilaku kriminal.
Ditambah lagi minimnya pendidikan nilai-nilai agama yang benar dalam pendidikan sekuler, memperlebar ruang kebebasan yang akhirnya mengikis moral dan kepribadian, bahkan mudah terseret pada tindak kejahatan dan kemaksiatan.
Berbeda dengan penerapan sistem Islam yang telah mencatat tinta emas peradaban dunia selama 13 abad yang memadukan spiritualitas, ilmu pengetahuan, keseimbangan lingkungan, dan keadilan sosial, terutama pendidikan merupakan hal penting dan mendasar yang wajib dijamin pemenuhannya oleh negara.
Sistem pendidikan Islam dibangun diatas akidah Islam. Sehingga seluruh proses pembelajaran tidak sekedar mentrasfer ilmu tapi juga membentuk keimanan. Maka output dari pendidikan Islam menjadikan insan kamil yang cerdas sekaligus bertakwa sehingga tidak melakukan kecurangan demi meraih kesuksesan. Karena mereka sadar kesuksesan yang sejati bukan hanya di dunia tapi juga di akhirat kelak di hadapan Allah SWT.
Oleh karena itu, pendidikan Islam akan menitik beratkan pada pembentukan karakter/kepribadian Islam (syakhsiyah Islamiyah) dimana pelajar harus memiliki keselarasan antara pola pikir dan pola sikap yang tunduk pada syari'at Islam. Ini akan mencegah lahirnya generasi yang cerdas tapi rusak moralnya.
Tentu saja Islam tidak akan mentoleransi setiap pelaku kejahatan termasuk pelajar. Sistem sanksi dalam Islam bersifat tegas untuk memberikan efek jera dan adil sesuai kadar pelanggaran. Negara dalam sistem Islam tidak hanya mengatur pendidikan secara formal, tetapi juga menciptakan lingkungan yang mendukung media yang sehat dan edukatif, pergaulan yang terjaga, serta budaya amar makruf nahi munkar.
Negara Islam akan membangun suasana hidup yang penuh ketakwaan dan mendorong setiap orang untuk berlomba-lomba dalam amal kebaikan bukan berlomba dalam keburukan. Jika kita menginginkan pendidikan yang terbaik maka secara paradigmatik harus dikembalikan pada asas Islam. Dengan asas ini, akidah Islam dijadikan penentu dalam tujuan Islam, penyusunan kurikulum, standar nilai pengetahuan, juga kualitas guru dan budaya sekolah.
Paradigma ini, harus dibangun secara berkesinambungan pada seluruh jenjang pendidikan. Ouput tercermin pada keseimbangan pada 3 kompetisi, yakni pembentukan kepribadian mulia, penguasaan tsaqafah Islam dan penguasaan ilmu-ilmu kehidupan atau ilmu pengetahuan dan keterampilan.
Saat ini kita butuh solusi yang strategis dan fungsional dengan menganggas pendidikan dengan berpusat pada 2 unsur yang strategis. Pertama, membangun pendidikan unggul dengan seluruh kompenen yang berbasis Islam, kurikukum yang berparadigma Islam, menyiapkan guru-guru yang amanah dan kapabel, atau proses belajar mengajar Islami dan menciptakan lingkungan dan budaya kondusif bagi terwujudnya pendidikan yanh unggul.
Kedua, membuka ruang interaksi yang lebar dengan keluarga dan masyarakat agar kedua komponen tersebut dapat berperan optimal dalam menunjang proses pendidikan. Adapun dana penyelenggaraan pendidikan, semua itu ditanggung penuh oleh negara yang menerapkan sistem ekonomi Islam. Dan strategi membangun pendidikan yang ideal ini, tentunya dapat terealisasi dalam sistem Islam yang diterapka secara menyeluruh (kafah).
Maka, sudah semestinya kita berusaha untuk menerapkan sistem pendidikan Islam yang di support oleh sistem ekonomi dan politik yang berpijak pada aqidah dan syariat Islam dalam suatu institusi negara yakni Khilafah Islamiyyah. Dan ini salah satu manivestasi kita dalam menjalankan syariat Islam ini secara kaffah. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surah al-Baqarah ayat 208.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱدْخُلُوا۟ فِى ٱلسِّلْمِ كَآفَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا۟ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيْطَٰنِ ۚ إِنَّهُۥ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ
"Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu."
WalLaahu a'lam bish-showwab

No comments:
Post a Comment